
🌹Kasih vote jangan kendor ya GhAS.🌹
🌹Follow dong ige emak : @Redlily123.🌹
🌹Happy reading dan enjoy. Btw, ajak yang lain buat baca novel ini yak.🌹
“Bagaimana liburan kalian?”
“Baik.”
Jawaban David seketika mengingatkan Sebastian atas apa yang terjadi dengan Dena, dia melihat raut wajah David yang masam, beruntungnya saat itu Lily sedang mengambil cemilan. “Apa kau selalu berskiap masam seperti ini?”
“Huh?”
“Kau masih kesal dengan kematian Dena?”
“Aku kesal karena kau datang, Bodoh.”
“Siaalan,” gumam Sebastian ketika David menatapnya sinin.
Dia kembali focus memilih game yang akan mereka mainkan, Sebastian datang untuk bermain, dia bosan dengan kehidupannya dan hanya teman-temannya yang bisa membantunya menyelesaikan kebosanan sesaat.
Karena David sudah menjadi seorang suami dan ayah, jadi tidak bisa keluar masuk kelab malam.Â
“Apa kau benar benar tidak bisa keluar mala mini?”
“Besok aku harus bekerja dan mengantarkan anak anak, kau pikir mudah untukku bisa keluar malam hari?”
“Minta izin pada Lily, dia pasti mengizinkannya.”
“Aku tidak mau dia kesal padaku, apalagi besok hari kerja.”
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Lily yang datang membawa cemilan.
“Lily, aku ingin meminta iz⸻”
BUK!
David memukul Sebastian dengan bantal hingga pria itu berguling ke samping. “Sialaan! Apa yang kau lakukan?”
“David,” ucap Lily melihat suaminya bertindak tidak baik. “Apa yang kau lakukan?”
“Ada serangga di bahunya.”
“Di rumah kita tidak ada serangga.”
David diam, dia memberikan tatapan penuh makna agar Sebastian diam.
“Kau ingin ikut main game, Lil?” tanya Sebastian.
Lily menggeleng. “Aku akan pergi menemui anak anak.”
“Kau akan meninggalkanku sendirian di sini?”
Tatapan Sebastian seolah aneh melihat interaksi keduanya, apalagi melihat David yang merupakan sahabatnya yang dia kenal kini menjadi sosok yang manja. Berbeda ketika masih zaman mereka sering bersenang senang, sosok tenang dan datar milik David hilang seketika.
“Aku hanya sebentar, aku akan pulang sore nanti.”
“Kau tidak bisa pergi tanpaku, bagaimana jika ada yang macam macam padamu?”
“Aku akan mengajak Nina bersamaku, jangan khawatir, David.”
“Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian.”
“Aish.” Akhirnya Sebastian buka suara. “Dia hanya akan pergi ke rumah Oma, bukan ke luar angkasa.”
Lily tersenyum, dia melihat ketidaknyamanan Sebastian. “Aku pergi ya.”
CUP.
Setelah istrinya keluar, David menatap Sebastian dengan datar. Keduanya saling menatap tanpa ekspresi.
“Apa kau yakin ingin istrimu di sini?” tanya Sebastian.
Yang dibalas gelengan kepala oleh David. “Alkohol?”
“Pesta.”
🌹🌹🌹🌹🌹
Dua orang gila itu berpesta di siang hari. Ruangan karaoke anak anak dijadikan TKP utama kejahatan berpesta tanpa izin. Mereka memainkan music, berkaraoke sambil bermain game dan didampingi alcohol.Â
Siang hari dengan matahari masih terik, keduanya sudah mabuk.
“Sialaaan kau Sebastian, aku kembali meneguk cairan itu.”
“Kau merindukannya bukan?” tanya Sebastian tidur terlentang saat merasakan pusing berkunang kunang. “Kekacauan ini?”
“Dengar….,” ucap David dengan kesadaran yang sedikit diambil alih. “Aku ini ayah dengan dua anak, aku harus menjadi panutan untuk anak anakku.”
“Asataga, aku lupa kau punya anak.”
“Ya, aku punya anak. Bukankah kau juga punya anak dari mantan kekasihmu itu?”
“Itu adikku, bodoh. Dia melahirkan anak ayahku.”
“Ah benar, si jalaaaaaang Lucille yang mengkhianatimu.”
Sebastian tersenyum dalam keadaan terlentang, keadaannya sangat sulit. Dunia nya hancur melebihi tubuhnya yang terus menerus dihiasi dengan lakohol tiap malam.
“Kau hampir berusia 40, Bas. Waktunya mencari pasangan atau Arnold ayahmu akan mati dan memberikan perusahaan pada anaknya Lucille.”
“Iti rencanaku.” Mata Sebastian terjaga. “Aku sedang mencari gadis desa yang lugu dan bisa menaati perintahku.”
David ikut membuka matanya penuh, kesadarannya terangkat saat membicarakan perihal wanita. Segera David memberikan petuah, “jangan bermain main dengan wanita, Sebastian. Kau akan kena karma.”
“Aku sudah mendapatkannya sebelum aku memainkannya, jadi aku tidak takut.”
“Huh?” tanya David bingung. “Apa maksudmu?”
“Diamlah jangan ganggu aku!” teriak Sebastian saat David memeluk salah satu kakinya. “Lepaskan!”
David yang mabuk malah memeluk kaki Sebastian erat. “Apa yang kau sembunyikan dariku hah?!”
“Lepaskan kakiku, bodoh!”
dan ketika Sebastian sedang mencoba melepaskan kakinya, terdengar suara ketukan pintu dari depan. Sebelumnya mereka mengusir para pembantu yang ada di sini, jadi mereka bebas.
“Lepaskan aku, bodoh! Ada yang datang!”
“Kau menyembunyikan sesuatu, sekian lama kita berteman. Kau benar benar sialaaaaaan Bas!”
Sebastian menendangkan kakinya seketika.
BUK!
“Aggghhhhh!”
Dengan kesadaran yang setengah-setengah, Sebastian keluar dari sana untuk melihat siapa yang datang. Pikirnya itu Holland, karena jika Lily maka dia akan langsung masuk.
“Mau ap⸻ Shiiiit! Luke!”
Luke menyunggingkan bibirnya. “Ayo berpesta, kawan.”
🌹🌹🌹🌹
To Be Continue