Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. SELAMAT MEMBACA. JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN JUGA YA.🌹


‘Dia sangat tampan.’


‘Oh astaga, kali ini sekolah kita menang, dan itu karena Ares seorang. Bagaimana bisa dia bisa setampan itu?’


‘Aku memang mencintainya, tapi aku tidak akan merusak keturunannya.’


‘Aku harap dia segera memiliki kekasih, aku fans yang berhati lega.’


Ares tertawa tawa saat melihat komentar membanjiri postingan resmi dari sekolahnya, dimana foto itu menunjukan kalau dirinya sedang bermain basket.


“Well, jadi tampan memang melelahkan.”


“Apanya yang melelahkan?” tanya Athena.


Ares menengok. “Jadi tampan, kau mau kemana?”


“Berbelanja bersama Mommy.”


“Kalian akan keluar?” tanya Ares yang sedang merebahkan diri di sofa, dia melihat Mommy dan Athena sudah bersiap hendak pergi.


“Ya, bukannya teman cantikmu itu akan datang,” goda Lily.


Putranya memang berbeda dari David, tidak sembarang wanita dia kencani. Jadi Lily sangat suka menggoda putranya itu.


“Mom, dia hanya membantuku membuat cookies,” ucap Ares yang tidak suka digoda.


“Baiklah, baiklah. Alden juga akan keluar bersama Daddy,” ucap Lily kembali menggoda putranya. “Kami akan meninggalkanmu supaya lebih leluasa.”


“Mom!”


“Good bye, jaga dia dengan baik.”


“Good bye, Mommy,” ucap Ares malas.


Kemudian turun Alden dengan David yang menggendongnya.


“Kalian akan ke tempat yang sama dengan Mommy?”


“Tidak, kami punya acara sendiri.”


Alden hanya mengangguk di balik punggung daddy nya itu.


David mengusap rambut putranya. “Yang berhasil.”


“Dad, aku bilang bukan yang ini.”


“Ya…., maksud Daddy yang mana pun itu asal jadi. Dengar, Ares, saat Daddy seusiamu, Daddy setidaknya memiliki beberapa mantan pacar. kau?"


“Dad, aku terlalu berharga untuk dimiliki seseorang.”


“Oh astaga.” David menatap putranya yang bersiap untuk menjemput Cantika dan dibawa ke rumahnya. “Kau harus memiliki pengalaman dalam hal apapun itu, termasuk dalam berpacaran.”


“Aku terlalu tampan, kaya dan begitu berharganya. Jadi tidak sembarangan orang bisa memilikiku. Tidak seperti Daddy.”


“Hei, apa maksudmu?”


“Aku setuju dengan Kak Ares.”


“Bocah nakal, kau menguping?”


“Itu fungsi telinga, Daddy.”


🌹🌹🌹🌹


“Nek, Tika berangkat dulu ya.”


“Dimana si tampan itu?”


“Sudah ada di depan.”


“Baik, Nek.”


Cantika memeluk Neneknya saat berpamitan. Dia menaiki motor sport itu.


“Ingin pergi ke suatu tempat dulu?”


“Tidak, langsung saja membuat cookies.”


“Baiklah,” ucap Ares membuang napasnya.


“Kau sudah punya rencana bagaimana memberikannya?”


“Hei, aku ini pria tampan dan juga pintar. Tenang saja, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Tapi aku belum membeli lilin.”


“Sebaiknya jangan,” saran Cantika.


“Kenapa?”


“Um… umurnya sudah 20 tahun. Dia tidak suka saat aku menyinggung umurnya.”


“Ah iya, wow. Dia bahkan berbeda 4 dan hampir 5 tahun denganmu bukan?”


Cantika mengangguk, matanya terfokus saat motor itu memasuki halaman. Tempat dimana Cantika sering bermain ke sini saat masih kecil. Halaman yang luas, tanaman yang indah dan beberapa bagian yang sudah diubah menjadi lebih bagus.


Cantika merindukan suasana tempat ini.


“Apa Oma di sini?”


“Dia adda di rumahnya, Oma lebih banyak menghabiskan hari dengan terapi,”


“Aku ingin menemuinya.”


“Nanti setelah selesai membuat cookies,” ucap Ares menahan tangan Cantika yang hendak pergi kea rah sana.


Cantika mengangguk dan memasuki rumah Ares yang layaknya istana, dia kembali dibuat terkagum kagum dengan rumah itu.


Ares membawanya ke dapur, menyuruh Cantika duduk sementara pria itu menuangkan susu ke dalam gelas.


“Minum ini.”


“Kenapa kau selalu menyuruhku minum susu?”


“Supaya kau tumbuh tinggi tentunya, Centini.”


“Terima kasih, kau sangat baik.”


“Dan?”


“Tampan.”


“Bagus,” ucap Ares yang mulai membuat adonan yang sudah disiapkan.


Kening Cantika berkerut saat Ares menyodorkan beberapa camilan untuknya yang duduk berhadapan dengan Ares yang hendak membuat cookies.


“Ada yang bisa aku bantu?”


“Tidak, habiskan saja camilan itu.”


“Tapi aku ingin membantu.”


“Tidak ada. Kau hanya perlu ada di dekatku, sambil bermain, bicara denganku, lalu makan kemudian pulang.”


🌹🌹🌹🌹🌹


 


 


TO BE CONTINUE