Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. JANGAN LUPA JUGA AJAK YANG LAIN UNTUK BACA CERITA INI YA PARA KESAYANGANNYA EMAK.🌹


Ares menatap kue di depannya, dia menyipitkan matanya.


“Haruskah dia melakukannya?” tanya sisi baik dalam dirinya.


“Tapi ini sudah terlanjur.” Jawab sisi buruk Ares yang berkutat dengan pikirannya sendiri.


“Apa kau yakin akan membiarkan ketampananmu dinikmati orang lain? Kau yakin wajah tampanmu akan dimiliki?”


“Well, pengalaman tidak apa bukan. dia wanita pertama yang menolak wajah paripurna ini. kau ingin membuatnya merasa menang?”


Alden yang menuruni tangga dan melihat saudaranya sedang berfikir itu mengerutkan keningnya.


“Apa Kakak sedang berfikir?”


“Tentu saja,” jawab Ares tidak mengalihkan pandangannya.


Lalu suara tepuk tangan terdengar begitu saja, membuat Ares mengalihkan pandangannya. “Apa?”


“Aku kira Kakak tidak bisa berfikir.”


“Kau bosan hidup?”


“Kakak membuat kue itu untuk calon pacar Kakak?”


“Ck, tentu saja.”


Alden duduk di hadapan Ares sambil membawa kotak susu miliknya.


“Kenapa kau duduk di sini? Sudah malam, kau seharusnya tidur.”


“Memangnya type ideal Kakak seperti apa?”


“Kenapa kau bertanya? Kau ingin menjadi salah satunya agar aku menyukaimu?”


“Iyuhh, wanita yang Kakak sukai pasti akan mendapat kesulitan, apalagi melihat tingkahmu yang seperti ini.”


Ares berdecak, dia mengambil alih susu itu dan memasukannya kembali ke dalam kulkas.


“Kakak!”


“Ini sudah malam,” ucap Ares membawa adiknya seperti karung beras dan melangkah menaiki tangga. “Anak sepertimu harusnya sudah tidur.”


“Aku belum mengantuk!”


“Wahhhh…, kasurmu empuk.”


“Tidak, jangan injak kasur Alden!”


Ares malah merebahkan dirinya di kasur itu dan membuat Alden memukul mukul kakaknya dengan bantal. “Menyingkir dari sana, jangan tengkurap.”


“Hell, meskipun kau sudah dewasa, kau tetap saja adikku,” ucap Ares menarik Alden ke dalam pelukannya.


“Kau bermimpi buruk lagi?”


“Apa Mommy akan memiliki bayi lagi?”


“Wah, ternyata kau juga mengkhawatirkannya. Aku juga sama saat kau akan datang, rasanya ingin aku tindas saja seperti aku menemukan kutu air di tangan. Tapi senang rasanya ada sosok yang bisa diganggu.”


Alden si jenius itu mengerucutkan bibirnya. “Jangan mengusap kepalaku, aku sudah besar.”


“Iya, kepalamu besar sampai helmku tidak muat.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Siang hari yang gerimis, Cantika menghabiskan waktunya bercerita dengan sang mama di dalam kamar. Dengan wajah yang berbinar, gadis ceria it uterus membuka mulutnya menceritakan kejadian yang menyenangkan di sekitarnya.


“Mama senang kau bahagia. Oh iya, Mama mendengar ada tempat untuk les piano di sekitar sini. Ingin ke sana?”


“Tidak mau,” ucap Cantika memeluk mama nya dari samping. “Aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan Mama.”


“Cantika?!”


“Iya, Nek?” jawabnya masih dalam kamar. “Cantika keluar dulu ya, Ma.”


Mama nya mengangguk, dimana Cantika melangkah menuju ke dapur.


“Kenapa, Nek?”


“Antarkan ini ke Kakek di museum ya.”


“Makan siangnya?”


Nenek mengangguk.


“Sudah siap?”


“Belum.”


“Cantika nunggu sambil nonton TV ya.”


“Iya.”


Dan saat akan menonton TV, Cantika mendapatkan telpon dari Ares.


“Halloooooo Aressssss?” sambut Cantika dengan senyuman ceria, Ares selalu menjadi alasan mood nya naik.


“Ares yang?”


“Yang tampan.”


“Bagus,” ucap Ares di sana. “Apakah Laura ada di rumahnya?”


“Kau akan melakukannya sekarang?”


“Iya, nanti malam aku ada acara.”


“Biar aku kirim dia pesan, jangan tutup telponnya.”


Dia mendengar suara ketikan dari keyboard ponsel Cantika.


“Sudah?”


“Aku bahkan belum mengirimkannya, sabar sebentar,” ucap Cantika mengerucutkan bibirnya.


“Sudah?”


“Ah… dia ada di rumahnya. Perlu bantuan lagi?”


“Tidak, bye, Centini.”


“Bye Ares yang tampan.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Karena tidak ingin ambil pusing, Ares datang dengan mengenakan salah satu mobil milik ayahnya. Dia parkir di depan rumah Laura.


Tanpa rasa gugup sedikitpun, Ares mengetuk pagar gerbang.


“Mencari siapa, Den?”


“Laura.”


“Teman sekolahnya?”


“Bapak pikir saya tukang becak dengan wajah seperti ini?”


“Maaf, Den. Silahkan masuk, ketuk saja pintunya.”


“Iyalah, masa saja dobrak,” gumam Ares.


Satpam tersebut tersenyum. “Untunglah kau tampan wahai anak muda.”


Di depan pintu, Ares mengetuknya beberapa kali sampai akhirnya seseorang keluar.


“Ada apa?”


“Tidak ada apa apa.”


“Dia mencari Nona Laura, Yem. Teman sekelasnya,” ucap satpam itu pada pembantu yang membukakan pintu.


“Oh, maaf, Den. Masuk silahkan.”


“Tidak, tolong panggilkan saja Laura.”


“Baik, Den.”


Dan tidak beberapa lama kemudian, Laura datang.


“Well, siapa yang datang?”


“Apa kau amnesia?” tanya Ares mengerutkan keningnya.


“Kenapa kau datang?” tanya Laura menyelipkan rambutnya ke belakang.


“Happy birthday,” ucap Ares memberikan sekeranjang kue. “Itu buatanku, makan dengan penuh kasih sayang.”


“Ini hadiahmu dariku?”


“Tidak, akan aku berikan kau sesuatu yang tidak pernah kau dapatkan sebelumnya.”


Mata Laura yang menunduk itu berbinar dengan bibir yang menyngging. “Apa itu?”


“Nomor ponselku,” ucap Ares menempelkan kertas note di keranjang. “Nah, kau bisa menghubungiku nanti.”


“Tunggu!” ucap Laura saat Ares hendak berbalik. “Kau akan pulang begitu saja? ini gerimis.”


“Aku naik mobil.”


Mata Laura menatap keluar pagar, dimana di sana ada Bugatti La Voiture Noir hitam yang membuat mata Laura terbelalak, dia menelan ludahnya kasar. “Kau membawa itu ke sini?”



“Tidak, aku mengendarainya.”


“Apa kau…..,” ucapan Laura menggantung, sengaja untuk menggoda Ares.


Namun mata Ares lebih dulu melihat sosok berambut sebahu yang berjalan menggunakan payung.


“Kau mau kemana?”


“Astaga! Kau membuatku terkejut. Aku akan ke museum mengantarkan ini untuk Kakek.”


“Naik ke mobilku,” ucap Ares membuka kunci lewat tombol di tangannya. “Cepat masuk. Ini gerimis, kau ingin tersambar petir karena tubuh cebolmu itu?”


“Itu bukan alasan orang tersambar petir, Ares.”


“Naik saja, kenapa kau malah melawan.”


Dan Laura mengepalkan tangannya melihat interaksi keduanya yang seolah tidak mengharapkan kehadirannya saat itu.


BRAK!


Laura menutup pintu dengan keras.


Yang mana membuat Cantika sadar. “Ares, mungkin dia cemburu.”


“Cobalah berfikir positive, mungkin dia diare.”


🌹🌹🌹🌹


 


 


TO BE CONTINUE