
🌹JANGAN LUPA KASIH LOVE YA SEMUANYA.🌹
🌹IGEH JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
“Ares! Bantu Daddy menyusun perhiasan itu di kamar untuk Mommy dan Oma!” ⸻David si narsis⸻
“Aheng! Bagaimana cara memasak jamur enoki?” ⸻Calon Koki Akhir zaman⸻
“Kemana para pelayan itu? Aku tidak bisa memasak seorang diri.” ⸻Luke; pria paling normal⸻
Ares melihat kekacauan yang sedang dilakukan oleh para pria dewasa itu, dia hanya menggeleng sambil berkata, “Seharusnya mereka tau diri jika tidak bisa.”
“Ayo bantu mereka.”
“Dengan cara apa? Menghanguskan diri?” tanya Ares yang memilih untuk menarik tangan Michael menjauh dari sana, mengajaknya ke taman belakang untuk bermain main, meninggalkan para pria yang sedang memasak.
Untuk yang kesekian kalinya, Luke melihat resep itu. “Oke, masukan kecap,” ucapnya mengambil kecap dan memasukannya ke dalam panci berisi selai yang sedang dia buat. Sampai dia tersadar akan sesuatu. “Tunggu, kenapa dimasukan kecap?” gumamnya bingung.
Dan ketika Luke melihat ke buku resep, di sana David sedang membuka lembarannya. “Gula bubuk,” ucap David mengambil gula halus dan membalurkannya ke atas daging sapi yang siap di panggang.
Kemudian bergantian, kini Sebastian yang melihat buku resep. “Oh, kenari dalam sirup? Resep macam apa ini?”
Dan semua itu membuat Luke memejamkan matanya tidak kuasa, dia menarik napasnya dalam. Pelayan belum juga pulang, dapurnya kacau. Dan dapat dia tebak, jika istri mereka sudah dekat.
Dan itu adalah kenyataan, tiga mobil yang membawa tiga putri raja datang, ditambah Oma si ratu dalam segala hal.
Saat mobil berhenti di halaman, mereka saling menunggu sampai Oma yang memimpin. “Dimana mereka?” tanya Oma.
“Aku pikir di dalam,” ucap Rara yang menggendong Lucas yang tertidur.
Sementara Nana sedang dibuat kewalahan dengan anaknya yang berlari mendahului masuk. “Joy! Kembali! Jangan ke sana, tunggu Mommy!”
BRAK! Joy membuka pintu yang besar itu sambil berlari ke dalam.
“Joy!” panggil Nana.
Dan sedetik kemudian, Joy kembali keluar sambil berlari melewati ibunya.
“Joy kau mau kemana?” tanya Lily bingung.
“Joy!” panggil sang Mommy.
“Celamatkan dili kalian! Kebakalan!”
Kemudian mata mereka melihat pada jendela, dimana asap keluar dari sana. “Aaaaaaaa!” teriak para wanita itu dari luar.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ketiga wanita itu sedang menatap para suami mereka yang sedang dimarahi oleh Oma di ruang keluarga sebab apa yang mereka lakukan. Sementara Rara, Nana dan Lily kini menggantikan para suami itu memasak. Akibat dari mereka yang terlalu percaya diri dalam memasak, membuat salah satu panci gosong karena tidak mematikan kompor dan terjadilah kepulan asap, ditambah dengan makanan tidak layak konsumsi karena rasanya aneh.
“Apa kalian sadar dengan apa yang kalian lakukan?” tanya Oma.
“Ya,” jawab mereka serentak, ketiga pria itu sedang duduk dengan lutut sebagai penyangga dankedua tangan yang terangkat ke atas kepala. Persis seperti hukuman pada anak anak TK yang nakal.
“Kalian boleh bermain main, tapi beritahu istri kalian yang menjadi gelisah karena kalian. Dan apa? Kalian bahkan membuat anak anak hilang. Itu tidak baik. Apa kalian tau?”
“Ya!”
“Ya!”
“Apa kalian sadar kalau itu sangat buruk? Terlebih tanpa izin sang istri?”
“Ya!”
“Dan apakah kalian akan memberikan hadiah pada Oma sebagai gantinya?”
“Y⸻apa katanya?” gumam mereka saling bertatapan.
“Jawab Oma!”
“Iya Oma!”
Istri mereka hanya menggeleng melihat prilaku suami mereka. Nana menggeleng sambil menghela napas. “Dia tidak boleh mendapatkan jatah.”
Lily menatap sendu suaminya. “Apa aku terlalu membosankan sampai dia tidak izin dulu?”
Sementara Rara memegang pisau, sambil memotong bawang, matanya melihat pada Luke sang suami yang sedang dihukum. “Lihatlah dia begitu tampan, berapa wanita yang digoda oleh penampilannya? Hih, awas saja akan aku buat dia kelelahan malam ini. pria itu hanyalah milikku.”
🌹🌹🌹🌹🌹
Sementara itu, sambil menunggu makan malam, anak anak sedang berada di halaman belakang dengan penjagaan ketat dari para pengasuh mereka yang selalu mengawasi.
Joy terus menempeli Michael karena merindukan sosok pria yang menjadi pamannya itu. “Hei, Joy,” panggil Ares. “Aku Ares.”
Dan anak kecil itu hanya menatap sebelum kembali bergelantungan di leher Michael yang sedang menyusun lego dengan Lucas.
Ares merasa diacuhkan, membuatnya ingin bergerak mendekat pada bocah gendut itu. Tapi tangannya ditahan, “Diamlah, nanti kuteknya rusak.”
Ares menghela napas, baru menyadari kini sang saudari kembar sedang memberinya pewarna di kuku. “Hentikan ini, Thea.”
“Diamlah, kau janji akan membialkan aku mewalnai kukumu.”
“Wah, apa kau sadar kalau bahasamu satu ras dengan anak gembul itu?”
“Namanya Joy.”
“Hei, Joy. Aku Ares, aku lebih tampan dari pamanmu, lihat aku dan akui kalau aku ini tampan. Lihat aku dengan jelas.”
Joy tidak mendengarkan, dia malah bergelantungan di leher Michael. “Joy diam sebentar,” ucap sang paman.
Yang mana malah membuat tubuh kecil Joy menabrak tumpukan lego milik Lucas dan membuatnya marah seketika. “HEI!,” teriak Lucas menahan kekesalannya.
BUK! Tangan Joy otomatis mengambil botol kosong dan memukul kepala bocah berusia empat tahun itu.
“Huaaaaa! Mommy!” teriak Lucas berlari.
Michael panic melihatnya. “Lucas, jangan lari! Ayo main lagi!”
“Huaaaa! Uncleeee!” teriak Joy yang ikut menangis sambil berlari dengan tubuh gembrotnya.
Yang mana membuat Ares menghela napas di sana. Anaknya David itu mengusap dadanya sendiri dan berkata, “Hanya aku yang normal di sini.”
🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE