Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Kelingking



🌹VOTE🌹


"Kita butuh kelapa lebih banyak," ucap Oma saat sedang memarut. "Kenapa David menghabiskan semuanya? Apa dia bodoh?"


"Biar Lily yang keluar Oma."


"Apa? Jangan, Eta saja. Kau sedang hamil."


"Ada yang harus Lily beli, Oma."


"Baiklah, bersama Holland?"


"Ya, Lily akan berangkat bersama Holland," ucap Lily naik ke lantai atas untuk memakai jaket dan bersiap pergi.


Sebelum keluar, Lily mengecek kening David. Dia berdecak saat suhu tubuh David tinggi. "David, kita ke rumah sakit ya."


"Tidak mau," ucapnya dalam tidur. "Aku akan di sini, bersamamu aku akan sembuh, Sayang."


"Aku akan keluar sebentar."


Dan saat itu juga David membuka matanya untuk menatap Lily. "Kemana?"


"Membeli kelapa, ada yang harus aku beli untukmu."


"Jangan pergi."


"Hanya sebentar, aku juga ingin membeli yang lain untukmu, David."


Lily menatap meminta izin, membuat David menghela napas pada akhirnya. "Jangan lama lama."


Lily mengangguk.


"Beri aku ciuman."


CUP.


Satu kecupan mendarat di bibirnya, membuat David tersenyum dan terlelap kembali.


Dia memeluk guling seolah itu Lily.


Dan Lily, dia pergi ke pasar tradisional diantar oleh Holland. Tepatnya di toko tumbuh tumbuhan, itu adalah langganan Oma.


Kebetulan saat melihat lihat, Lily menemukan apa yang dia cari.


"Pak, pohon ini beli empat ya."


"Baik, Bu."


Alhasil, ada empat pohon setinggi anak berusia sepuluh tahun memenuhi mobil.


"Untuk apa tanaman itu, Nyonya?" Tanya Holland.


"Untuk diremas dalam air, nanti airnya akan sangat bagus untuk mendinginkan perut."


Dibantu oleh Holland membawa banyaknya tanaman itu, Oma terkejut bukan main. "Lila! Apa kau berencama berdagang di sini?"


"Oma tenanglah," ucap Lily sambil tersenyum. "Daun dari tanaman ini akan membuat perut David dingin."


"Bagaimana cara membuatnya?"


Lily melakukannya, dia menyiapkan air dalam poci, mengambil beberapa lembar daun yang sudah dicuci lalu meremasnya dalam air hingga air itu berubah berwarna hijau dan mengental.


"Di kampungku ini digunakan untuk semua jenis penyakit, salah satunya panas dalam."


"Apa namanya?"


"Eum, daun jantung kalau tidak salah."


"Eta."


"Ya, Nyonya?"


"Buka wikipedia."


"Baik, Nyonya Besar."


Setelah selesai, Lily segera membawanya menuju David yang kini sedang bermain game di televisi. "Kau bisa pusing jika bangun tidur melihat ini, keluarlah dan lihat sekeliling."


"Sebentar," ucap David dengan jari tidak bisa lepas dari stick game.


"Ini minumlah."


"Sebentar."


"David…."


Mendengar suara lembut istrinya, David mematikan video game. Dia menatap Lily dan tersenyum. "Apa itu?"


"Untuk mendinginkan perutmu."


"Ini lumut?"


"Itu terlihat seperti jus lumut, Sayang," ucap David bergidik ngeri.


🌹🌹🌹


"Oma mau pulang."


"Hati hati, Oma."


"Tapi mau melihat David dulu."


"Dia di atas."


"Oma tau," ucap Oma sambil melangkah begitu saja.


Dia menuju kamar David lagi untuk melihat keadaan cucunya.


Dan saat melihat, ternyata David sedang menggunting kuku sendirian.


Sadar Oma datang, David menghentikan aktivitasnya.


"Kenapa menggunting kuku sendiri?"


"Lily bilang kuku miliku membuatnya sakit jika mencengkram."


"Kau mencengkram istrimu?"


"Dalam keadaan tertentu."


Tanpa berpikir panjang Oma menimpuk kepala David dengan majalah yang ada di sana. 


BUK!


"Jangan mencengkramnya jika sedang berhubungan."


"Berhubungan apanya? Lily sakit jika aku mencengkram menahan rasa sakit perut, bukan hal lain. Dasar Omes."


BUK!


"Tidak sopan, ini Oma!"


"Oma mau pulang kan? Silahkan."


"Kau memotongnya seperti menggigit dengan gigi. Sangat mengerikan. Sini, biar Oma yang memotongnya."


Biasanya David meminta Marylin merapikan kukunya, tapi untuk saat ini dia malas bertemu orang orang selain keluarganya.


Saat kecil, David selalu melakukan apa saja oleh Oma. Salah satunya menggunting kuku.


Kegiatan ini membuat David mengingat pada kejadian di masa lalu saat dirinya masih kecil.


"Jangan membuat Lila khawatir, pergi ke dokter jika masih mulas."


"Sakit perut, bukan mulas."


"Sama saja."


"Ck."


"Periksa juga kehamilan Lila."


"Baru juga kemarin."


"Mulailah mempersiapkan kelahiran anak kalian. Apa kau tidak berniat kembali ke rumah? Membesarkan anak anak di apartemen? Kau mengurungnya seperti dalam penjara."


"David diam diam membangun rumah."


"Apa?!"


"Sssstt! Oma berisik!"


BUK!


"Ludahmu keluar kemana mana!"


"Oma jangan berisik."


"Iya iya."


"Di mana lokasinya?"


"Di…..," ucapan David menggantung saat melihat Oma selesai menggunting kuku, tapi menyisakan bagian kelingking. "Ini belum dipotong?"


"Itu untukmu mengupil."


"Hah?"


🌹🌹🌹


Tbc