
🌹VOTE🌹
Tidak terasa, waktu berjalan cepat saat bersama orang yang dicintai. Besok Lily akan mengadakan resepsi pernikahannya bersama David. Semua orang akan tahu siapa dirinya sebenarnya.Â
Mata Lily tidak bisa berpaling dari gaun yang ada dalam kotak kaca. Seolah menjadi mimpi untuknya menjadi pendamping David.Â
"Sayang, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya David yang meminum anggur sambil merokok.
Lily yang terbaring di atas ranjang itu mengerutkan keningnya. "Kenapa kau sering merokok akhir akhir ini?"
"Maaf, aku gugup. Jadi merokok."
"Kau gugup? Untuk resepsi kita besok?"
David menatap malas istrinya saat perempuan itu tertawa. "Jangan meledekku."
"Aku tidak tahu kau memiliki rasa gugup."
"Aku gugup karena akan bersanding dengan wanita muda yang cantik layaknya bidadari, aku bingung apa yang harus aku lakukan malam ini. Kegiatan apa? Atau sebaiknya olahraga malam?"
Seketika Lily menguap.
"Aku mengantuk."
"Oh, aku melihat keinginan olahraga malam di sana."
"Tidak, David," elak Lily mencoba memejamkan matanya.
Dan saat itulah David bergabung ke atas ranjang. Yang mana membuat Lily risih dengan tangan David yang merayap ke mana mana, apalagi posisi David yang ingin mencium bibirnya.
"David, bibirmu bau rokok."
"Aku akan menggosok gigi sebentar," ucap David melangkah pergi ke kamar mandi.
Lily banyak diam, dia tersenyum bahagia.
"Sayang, aku datang."
"Kenapa sangat cepat?"
"Kenapa harus lama? Aku gosok gigi, bukan gosok kepala."
David kembali bergabung dan menghadap istrinya.
"Buka bajunya ya."
"David…." Lily malu malu. "Besok kita akan mengadakan pesta, bagaimana jika terlambat?"
"Apa hubungannya dengan membuka baju?"
"Huh?" Lily terlihat bingung. "Eum… bukankah kau ingin… membuat adonan?"
"Tidak, Sayang. Siapa bilang? Aku hanya ingin bicara dengan para anggota klan Fernandez."
"Anggota klan Fernandez?"
"Ya, anak anakku akan menjadi anak buahku kelak. Tolong buka bajunya ya," ucap David mengangkat gaun Lily hingga memperlihatkan perutnya yang membuncit.
"Lihatlah bagaimana perut dari tubuh kecil ini membesar, kau lucu."
"Apa kau bilang?"
"Aku bicara tentang anak anak, bukan dirimu."
Rambut David berwarna hitam legam, surai yang sangat halus dan belum Lily sangka akan dia miliki jiwa raga pria itu.
Lily menguap merasakan ngantuk, dan sebelum dia memasuki alam mimpi, dia mendengar David berucap, "Selamat malam bayi bayiku, Papa menyangi kalian."
🌹🌹🌹
Dena berdiam diri di bandara, dia sedang menunggu kedatangan orangtua Lily dari China. Dan saa mereka datang, Dena girang tidak kepalang.
"Selamat datang, aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian. Ayo ikut."
"Terima kasih," ucap wanita yang menjadi ibu biologis dari Lily.
Tidak banyak yang mereka katakan saat dalam mobil. Dena mencoba sangat ramah.
"Maaf Megan tidak bisa ikut menjemput, dia tertidur."
"Tidak apa."
"Bagaimana perjalanan kalian?"
"Menyenangkan."
Lalu tatapan Dena terpaku pada sang pria. "Ada apa, Tuan Chen? Anda terlihat tidak senang?"
"Aku hanya kelelahan."
"Oh, aku akan mencoba lebih cepat."
Tempat Tuan dan Nyonya Chen bersebelahan dengan Dena, berjaga jaga jika mereka kabur.
"Ini kamar kalian, dan ini kuncinya," ucap Dena menyerahkan. "Eh, tunggu!"
Nyonya Chen berhenti, sementara suaminya masuk lebih dulu. "Ini yang perlu kau dan suamimu baca besok, yang merah milikmu, semetara yang hijau milik suamimu."
"Aku mengerti."
"Jangan khawatir, Nyonya Chen. Aku menyiapkan uang banyak untukmu."
"Aku mengerti."
"Dan bacakan ini saat kedua mempelai sedang berdansa, kalian akan menjadi pusat perhatian. Tapi jangn khawatir, semuanya sepadan."
"Aku tahu."
Setelah Dena pergi, Nyonya Chen masuk menemui suaminya. "Dia ingin kita membacakan ini di pernikahan Lily nanti."
Tuan Chen menerimanya dan membuka kertas yang berisikan,
"Tuan dan Nyonya sekalian, maaf aku mengganggu kalian. Ada yang ingin aku katakan, wanita yang menjadi mempelai wanita di sana adalah anak kami. Tapi kami tidak mengakuinya, kenapa? Karena dia anak haram dan pembawa kesialan, dia adalah kutukan dari Tuhan tanpa henti. Dia adalah makhluk paling hina di muka bumi, makannya aku membuangnya. Dia menjijikan, dia tidak pantas hidup. Aku menyesal membiarkannya hidup dan tidak membunuhnya dulu, karena dia pembawa sial."
Tuan Chen menelan ludah kasar membaca itu, dia menatap istrinya, "Apa isi kertasmu?"
"Aku ditugaskan untuk menampar dan meludahi Lily dengan makian."
"Dena menginginkan semua itu?"
"Dia yakin Lily akan kontraksi setelahnya, dia juga menyiapkan dokter yang sebenarnya adalah orang suruhannya untuk menggugurkan anak dalam kandungan Lily."
🌹🌹🌹
TBC.