
🌹Vote dong🌹
"Selamat pagi, Nyonya Muda. Nama saya Nina."
"Hallo, Nina. Semoga kau betah bekerja denganku."
David baru saja turun dari lantai dua. "Ah, Nina. Kau sudah datang."
"Selamat pagi, Tuan Muda."
"Jaga istriku." Lalu David menuju Lily yang berdiri, mencium bibirnya sekilas sebelum mencium pula perutnya. "Aku berangkat."
"Hati hati, jangan lupa sarapan di sana."
"Aku mengerti."
Nina masih berada di batas masuk ke dalam ruangan, baru setelah David pergi Lily berkata, "Ayo masuklah, Nina."
"Anda sudah sarapan, Nyonya Muda?"
"Belum, aku akan membuatnya sekarang. Bisa kau membantuku?"
"Saya akan membuatkannya untuk anda, Nyonya Muda."
"Tidak, aku bisa."
"Alangkah baiknya jika anda berkenan mencoba masakanku yang sederhana ini, Nyonya Muda."
Lily merasakan nada bicara Nina yang merendahkan dirinya sendiri. "Bukan begitu… baiklah, aku akan mencoba makananmu."
"Baik bagi anda menghirup udara pagi, Nyonya Muda. Balkon sangat cocok untuk anda."
"Aku mengerti," ucap Lily mengambil ponselnya. "Aku akan menunggu di sana."
Lily duduk di sofa yang tersinari hangatnya cahaya matahari, dia membukakan bagian perutnya agar rasa hangatnya semakin terasa.
Dan tidak lama kemudian, Lily mencium aroma masakan yang begitu enak.Â
David berangkat buru buru, membuat pria itu lupa dengan keinginanya untuk bercinta.
"Nyonya Muda, sarapan anda sudah siap."
"Terima kasih, Nina." Lily melangkah ke dalam. Nina dengan tampangnya yang sangat bule sangat lancar bahasa Indonesia, bahkan logatnya pun sama. "Wow, ini terlihat enak."
Lily melihat ada banyak sayuran dan ikan suir yang sepertinya hanya di kukus. "Lekaslah duduk, makan bersamaku."
"Terima kasih, Nyonya Besar. Tapi saya memiliki pola makan yang berbeda dari yang lainnya. Jika anda mengizinkan, saya akan membersihkan balkon dan sekitarnya."
"Tentu saja. Tapi, bagian lantai dua biar aku saja. Itu hanya perpustakaan dan kamarku saja."
"Bagaimana dengan jacuzzi di balkon lantai dua?"
Lily berhenti menyuap. "Kau boleh membersihkannya."
"Baik, Nyonya Muda."
"Semoga saja firasatku ini berbohong, semoga Nina memang datang untuk bekerja."
🌹🌹🌹
"Tuan, pesawat dari Thailand sudah mendarat. Apakah anda akan menjempunya sendiri?"
"Kau menulis aku akan datang bukan?"
Pria tua itu mengangguk. "Maaf, Tuan."
"Ya, kita tidak punya pilihan." David membuka matanya, dia mengambil jaketnya. "Ayo pergi."
Langkah sekretaris barunya lebih pelan dari dirinya, membuat David harus lebih santai. Dia akan menemui pengusaha baru asal Thailand, berada di industri pipa, David akan memanfaatkannya untuk menyuplai pada tempat tempat wisata dan real estatenya. Pengusaha itu terbilang masih baru dan awam, membuat David ingin mendahului sebelum pengusaha lain mengajaknya menjadi mitra.
Dengan David yang mengendarai mobil, sekretarisnya berada di sampingnya. Meskipun sudah tua, tapi otaknya sangat cermat dan terpakai.
"Bagaimana kabar istrimu, Rio?"
"Dia sudah agak mendingan, Tuan."Â
"Bagus, bawa dia saat resepsi pernikahanku."
"Baik, Tuan. Akan saya usahakan."
"Apa kau punya rekomendasi tempat bulan madu, Rio?"
"Bagaimana dengan Raja Ampat?"
"Tidak, istriku belum pernah ke luar negri. Aku ingin membawanya ke Thailand. Bagaimana menurutmu?"
"Bagus, Tuan. Anda bisa membicarakannya dengan pengusaha baru ini."
"Itu yang aku pikirkan."
Dan saat di bandara, keduanya keluar mobil. Mereka melangka menuju lobi di mana ada dua orang pria kembar. Mereka lah pengusaha itu. Keduanya tidak ditemani sekretaris atau pengacara, membuat David menggelengkan kepala.
"Welcome to Indonesia, sir. Sorry we are late, I hope you are comfortable. (Selamat datang di Indonesia, Tuan. Maaf kami terlambat, saya harap anda nyaman,)" ucap Rio mewakili David.
Salah satunya menjawab, "It's okay, Mr. Fernandez. It is an honor to meet you. (Tidak apa, Tuan Fernandez. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anda.)"
David terkejut saat keduanya menyalami Rio dengan santun.
Lalu setelahnya dia mendapat tatapan dari salah satu pria kembar itu. "Is he your maid, Mr. Fernandez? Please bring this, please. It's heavy, your body is big and tall, I'm sure you can carry our stuff. (Apa dia pembantumu, Tuan Fernandez? Tolong bawakan ini, ya. Ini berat, tubuhmu besar dan tinggi, aku yakin kau bisa membawa barang barang kami.)"
David yang sedari tadi bungkam menatap tumpukan tas hingga setinggi dirinya.
Tanpa diduga, David juga mendapat tepukan di bahu. "I know being a maid is tiring, but this is your job right?. (Aku tahu menjadi pembantu itu melelahkan, tapi ini tugasmu bukan?)"
🌹🌹🌹
tbc...