
🌹VOTE🌹
David merokok sambil menatap Lily yang terlelap, sesuatu dalam dirinya tidak bisa ditahan. Mendengar suara napasnya saja membuat David gemas. Dia mematikan rokok, merangkak ke atas ranjang dan memeluk Lily erat.
Tubuhnya yang kecil mampu hilang dalam pelukan David, tenggelam beserta kepalanya yang menyeruduk ke ceruk leher David.
"Kau menggemaskan," ucap David memeluk erat Lily.
Liy menggeliat kegerahan.
"Diamlah, aku ingin memelukmu."
Lily malah berbalik memunggungi David, membuat pria itu berusaha membalikan kembali Lily menatapnya. Hingga akhirnya membuat mata Lily terbuka perlahan. "David…..? Apa yang kau lakukan?"
"Tidak ada, aku tidak sedang memelukmu."
Padahal Lily tidak menanyakan itu.
"Sudah, tidur saja lagi."
Karena kenyataannya Lily masih ngantuk, dia kembali tidur memunggungi David.
Pria itu kesal, dia berdehem. "Ehem."
Membuat Lily yang sedang berbaring membuka matanya seketika, dia perlahan berbalik dan merayap untuk mengecup bibir David.
Lily kembali tidur memunggungi.
"Ehem."
Kembali membuka matanya, Lily mendekat dan mengecup.
"Ehem."
Untung Lily belum berbalik membelakangi.
"Ehem."
Lily diam sesaat, menatap David yang melihat langit-langit kamar.
"Apa? Aku berdehem karena teggorokanku sakit, kau malah menciumku. Aku sebenarnya tidak masalah, tapi aku yakin kau pasti ingin melakukannya."
Lily yang enggan berdebat memilih berbaring, kini menghadap David. "Bolehkah aku tidur lagi?"
"Ingin berenang?"
Lily menganggguk.
"Kakimu sudah agak baikan?"
Lily mengangguk.
"Kalau begitu kalau aku masukan akan kembali sakit?"
Jelas Lily terkejut, dia melihat ke kejantanan David yang masih tidur. Lily ingat betul bagaimana dia pernah memegangnya, keras dan empuk bersatu menjadi satu. Dan Lily ingat jelas bagaimana ekspresi David saat kejantanannya meletus.
"Apa yang kau pikirkan, Sayang?" Tanya David dengan suara sensualnya.
"Tidak ada," ucap Lily menggeleng.
Saat Lily hendak bangkit, David menahan pinggangnya. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Bisa aku masuk malam ini?"
Lily masih diam.
David yang tidak tahan akhirnya mengtakan, "Aku membantumu mengerjakan tugas Oma, hanya lima jam. Bagaimana?"
Dan itu membuat pipi Lily memerah. Lima jam dipastikan dia akan kembali pingsan dan kelelahan. Lily ingat jelas bagaimana dirinya berkeringat, pucat dan menimmati sisa kenikmatan sambil setengah sadar.
David tahu apa yang ada dalam pikiran Lily. "Kalau begitu empat jam?"
Lily masih enggan selama itu, pasalnya kewanitaannya masih ngilu.
"Tiga jam?"
Lily masih enggan.
"Dua jam?"
Belum juga menjawab.
"Satu jam?"
Hingga akhirnya Lily menjawab, "Satu menit?"
"Satu menit? Apa-apaan itu? Itu hanya memiliki waktu saat masuk saja, Lily Sayang."
Lily masih ngilu, tapi dia tidak bisa menolak David. "Satu jam?"
David menyeringai. "Oke, satu jam."
"Tapi…."
"Tapi apa?" Tanya David dengan kening berkerut.
"Dengan ritme pelan."
"Sebelumnya juga itu level paling pelan."
Malu-malu Lily berkata, "Pelankan lagi."
"Yasudah, aku masukan saja dan tidak keluarkan sampai pagi, bagaimana?"
🌹🌹🌹
Menatap David yang sedang berselancar, Lily duduk di pasir sambil menggambar sesuatu di sana.
"Ini minuman anda, Nyonya."
"Hatur nuhun. (Terima kasih.)"
Pelayan itu tampak terkejut. "Ibu urang sunda? (Ibu orang sunda?)"
"Asli Ciamis," ucap Lily tersenyum.
"Oh muhun, aya deui anu bade dipesen, Bu? (Oh iya, ada lagi yang ingin dipesan, Bu?)"
"Teu aya, hatur nuhun, Teh. (Tidak ada, terima kasih, Teh.)"
"Sami sami, Bu. Upami butuh nanaonmah sauran abdi. Aya di palih dinya. (Sama sama, Bu. Kalau ada apa-apa panggil saya, ada di sebelah sana.)"
"Muhun mangga, Teh. (Iya, Teh.)"
Lily menolak bergabung, dia tidak bisa berenang. Dan David memintanya menunggu di tepi pantai.
Lily tersenyum seorang diri, kedamaian dia dapatkan. Bagaimana melihat suaminya begitu keren menaklukan ombak, dengan sinar matahari menyinari kulit kecokelatannya.
Tidak tahan, Lily ingin bermain air, dia berdiri dan melangkah pelan menuju air. Senyuman semakin merekah saat air membasahi telapak kaki.
Dan David melihat itu, dia berhenti dari berselancar. Dadanya yang telanjang basah oleh air, dia mendekat pada Lily.
"Aaaaaaa!" Lily menjerit saat tiba-tiba seseorang memeluk dan mengangkatnya dari belakang.
David membawanya layaknya karung beras. "David, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku."
"Ayo kita berenang," ucap David berjalan ke bagian yang lebih dalam.
"Aku memakai gaun," tolak Lily.
"Aku bisa memberikan satu juta gaun seperti itu."
"Aku tidak bisa berenang."
"Tapi kau senang bermain air."
Lily menahan napas saat David menurunkannya di air yang dalam. Bahkan kakinya tidak mencapai permukaan tanah.
"David…."
"Tenang, Sayang," ucap David menenangkan. Dia memeluk pinggang Lily. "Kau suka."
"Rasakan ombak itu."
Lily mendekat, dia memeluk leher David. "Gaunku terangkat."
"Jangan khawatir, berenanglah."
"Tidak……" Lily ketakutan saat David hendak melepaskan pelukannya. "Jangan lepaskan."
"Tadi kau bilang ingin berenang."
"Di tempat yang dangkal," ucap Lily, dia mengerucutkan bibir.
"Beri aku ciuman."
Lily melakukan kecupan.
"Aku meminta ciuman."
Lily diam, menatap David yang tersinari cahaya senja.
Tubuh Lily bergetar, apalagi saat tangan basah David mengusap pipinya dan mendekatkan bibirnya.
Keduanya berciuman disaksikan senja. Bagaimana mereka saling memadu kasih diantara gemuruh ombak, mengalahkan keindahan atas lautan senja. Menghiasi pemandangan, akan dua insan yang saling jatuh cinta.
🌹🌹🌹
"David, bolehkah aku menelpon Oma?"
David yang sedang mengeringkan rambut mengangguk.
"Apa kau ingin makan malam dulu?"
"Kita sudah makan tadi."
"Oh iya."
"Lakukan VideoCall," perintah David yang dilaksanakan Lily.
Lily membereskan rambutnya sambil menunggu Oma mengangkat panggilan.
"Oma…." Lily terlihat bahagia saat melihat Oma yang memakai kacamata, sepertinya sedang membaca.
"Astaga, cucuku yang cantik."
"Oma, Lily rindu Oma."
"Jelas kau merindukan Oma, secara Oma sangat menyayangimu."
Dan Oma juga cucu tidak ada bedanya.
"Kapan kalian akan pulang?" Tanya Oma.
"Lusa, Oma. Oma ingin sesuatu?"
"Ya, cicit. Kalian sudah membuka pabrik."
David ikut bergabung, dia menjawab, "Sudah aku lakukan, Oma. Pabriknya aktif selama tujuh jam."
Setelah berkata seperti itu, David pergi menjauh.
Oma kembali fokus pada Lily. "Apa kau bisa berjalan?"
"Itu…."
"Katakan pada Oma."
"Awalnya iya, Oma. Sekarang sudah baikan."
Oma tersenyum, dia malah tertawa. "Terima kasih, Tuhan. Kau telah membuat cucuku lebih giat jika bersama Lily."
"Oma…," ucap Lily malu. "Apa yang Oma inginkan?"
"Kembalilah dengan selamat, dan jangan biarkan David berkeliaran. Banyak wanita yang menginginkan David."
"Iya, Oma."
"Oma tutup dulu, Oma tahu kalian akan membuka pabrik lagi."
Belum juga Lily berkata, Oma menutup panggilan. Membuat David yang berada di ambang pintu menyeringai. "Kau dengar apa keinginan Oma?"
"Ta… tapi…. Aku ingin jalan-jalan besok."
"Aku hanya akan memasukannya saja tanpa bergerak," ucap David mendekat, dia menggendong Lily di depannya. "Hanya masuk dan tidak bergerak."
"Itu akan mengganjal."
"Kau belum mencobanya, aku tahu kau menginginkanku, Lily Sayang. Aku sering mendapatimu menatap dan mengagumiku diam-diam. Jadi ini hari keberuntunganmu aku akan membuatmu bahagia dengan masuk dan diam."
🌹🌹🌹
TBC...