Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Kematian yang akan datang



🌹JANGAN LUPA KASIH LOVE YA SEMUANYA.🌹


🌹IGEH JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, SAYANG KALIAN SEMUA.🌹


Akhirnya, mereka makan malam bersama. Diselingi canda tawa dan juga dentingan keramik yang berantkan, khususnya anak anak yang membuat para orangtua emosi. Dimana mereka harus menggantikan dengan peralatan makan plastic. Namun, bukan anak anak namanya kalau tidak berisik. Suara mereka mengalun indah, dimana mereka duduk acak dan menempati kursi mana saja.


“Ares, jangan ganggu adikmu.” ⸻Ibu Peri di dunia nyata


“Berhenti menggigit kukumu, Joy. Uncle Michael sepertinya Joy menganggap tangannya adalah kue. Bantu dia.” ⸻Nyonya Sarkas.


“Lucas, simpan bukunya. Jangan sampai Mommy harus menyuapimu, nanti Mommy kotor dan Daddymu tidak suka lagi bagaimana?” ⸻Bucinnya Tuan Luke Russel.


Begitulah istri mereka mencoba mengatur anak anak, yang mana membuat Sebastian terkekeh. “Ares punya tampang yang luar biasa, dia pasti akan menjadi primadona di sekolahnya nanti.”


David mengangguk setuju. “Ya, dia pintar memilih gen ayahnya.”


“Hei, Lucas juga tampan.”


“Dia memakai kacamata, Luke. Sepertinya ketampanannya luntur karena menjadi kutu buku.”


“Setidaknya bukan kutu micin sepertimu,” ucap Lucas yang mana membuat Sebastian menatapnya kesal. “Kudengar anakmu yang dalam kandungan juga laki laki. Apa Ares baik baik saja?”


“Dia awalnya menolak karena tidak ingin ketampanannya tergantikan,” jawab David.


“Hahahaha, tapi kurasa tidak mudah menjadi pacar seorang Ares nantinya.” Luke menambahkan.


Sebastian mengangguk menyetujui. “Dia seperti ayahnya, seleranya tinggi dan terlalu mencintai ketampanannya.”


David menggeleng, dia membiarkan pie itu masuk ke dalam perutnya dahulu. “Kalian tau? Ares menyukai seseorang, Centini namanya.”


“Namanya Cantika!” teriak Ares seketika.


Yang mana membuat para pria dewasa itu menatapnya heran. David berkata, “Kau selalu menyebutnya dengan nama Centini.”


“Hanya Ares yang boleh menyebutnya seperti itu, Daddy,” ucap Ares tidak terima.


Membuat ketiga pria dewasa itu kembali menatap satu sama lain dan memilih melanjutkan percakapan mereka. Sebastian berbisik, “Aku khawatir dengan Joy, dia menyukai si Aheng.”


“Aheng?” tanya Luke dan David secara bersamaan.


Sebastian mengangguk. “Joy bilang padaku kalau dia ingin menikahi si Aheng saat dewasa nanti.”


“Lalu? Mereka tidak sedarah,” ucap David.


Dibalas anggukan oleh Luke. “Mereka cocok.”


“Si Aheng itu menyukai Karina, anak tetanggaku.”


Yang mana membuat Luke berdecak. “Heh ayolah, mereka hanya anak anak. Lagipula siapa yang percaya perkataan anak usia 3 tahun? Dia hanya asal bicara, kenapa kau sangat berfikiran rumit?”


“Aku takut karma,” bisik Sebastian.


“Karma?” tanya David.


“Ya, dulu aku sangat membenci si Aheng. Ingat?”


Yang mana membuat Luke menatap kasihan pada sang saudara. Dia menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Kasihan sekali, untung saja Lucasku tumbuh dengan sangat baik dan wajar sebagaimana anak anak.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sesekali terdengar suara teriakan, jeritan, tangisan sampai nyanyian yang mengganggu telinga. Lily khawatir, tapi dia mencoba tenang dengan menikmati keindahan yang ada di sekitarnya. Gazebo yang menghadap pada bentangan langit dan bunga bunga di pinggr kolam. 


Rara tidak khawatir akan putranya, dia khawatir dengan Luke yang kemungkinan tidak tertarik dengannya lagi karena belum juga membuka percakapan dengannya sejak tadi.


Sementara Nana, dia sibuk dengan pemikiran akan bagaimana cara membuat suaminya jera.


Berebeda dengan Oma yang sedang melihat ponselnya, lalu sesekali memperlihatkannya pada ketiga cucu menantunya. “Lihat, ini adalah Gucci terbaru. Oma menambahkannya pada keranjang.”


“Versace mengeluarkan tas musim panas yang bagus, Oma,” ucap Nana. “Kenapa tidak beli itu? Itu lebih mahal. Bagus untuk menguras uang Sebastian.”


Oma menggeleng. “Masing masing dari mereka punya jatah masing masing. Apa kalian sudah bicara dengan suami kalian?”


Ketiganya menggeleng. 


Rara menghembuskan napasnya. “Aku ingin memperkosaanya saat ini juga.”


Yang mana membuat Lily tersedak dengan minumannya. “Uhuk! Uhuk! Apa kau bilang?”


“Dia sangat tampan, tapi mengacuhkanku membuatnya lebih tampan. Bukan begitu?”


Nana menggeleng. “Aku ingin Sebastian jera. Oma, aku akan berdandan untuknya malam ini.”


“Bagaimana denganmu, Lily?” tanya Oma.


Yang mana membuat Lily terdiam sejenak, pipinya memerah mendengar apa yang akan direncanakan oleh teman temannya yang lain. Nana akan menggoda Sebastian tapi tidak akan membiarkannya menyentuhnya, Rara akan menerjang Luke saat ini juga. Dan dirinya?


“Kau butuh bantuan, Lila?” tanya Oma.


Membuat Lily menggeleng seketika. “Tidak, Oma. Aku akan meminta David menyentuh perutku, Alden pasti merindukan sentuhan Daddy nya.”


“Alden?” tanya Oma.


“Athena yang memilihnya, aku tidak bisa menolaknya,” ucap Lily tersenyum menatap perutnya. “Ah ya, Oma. Bisa aku titip anak anak denganmu nanti malam?”


Rara juga mengangguk. “Iya, Oma. Lucas juga titip ya. Dia sangat suka pada Oma dan menurut.”


“Aku juga ingin menitipkan Joy dan Michael, mereka sangat menurut pada Oma.”


Perkataan ketiga cucu menantunya itu membuat Oma terasa pengab. “Ba⸻bagaimana mereka tidak menurut, mereka selalu minta ampun saat Oma hampir mati serangan jantung karena ulah mereka,” ucap Oma panic.


Ares, dengan sikap jailnya yang melebihi tinggi gunung Everest.


Athena, manusia kecil yang selalu berdebat dengan siapa saja.


Joy, bayi gembrot yang selalu tidak ingin berjauhan dengan Michael.


Lucas, anak yang selalu membaca buku sampai tanpa sadar jika dirinya ngompol di celana.


Michael, anak asrama yang kadang terlalu ketat dengan tatakrama, bahkan dia menghormat pada bendera yang ada di televise.


“Oh astaga, akankah Oma bisa tidur nanti malam?” gumam Oma.


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE.


KALAU UDAH BERPISAH, NANTI BALIK KE KEBIASAN MASING MASING KOK. GAK AKAN SAMA. OKE?