Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Bobba



🌹Jangan lupa kasih eemak vote yaaa anak anak kesayangan Emak.🌹


🌹juga follow igeh emak di : @RedLily123.🌹


🌹Emak sayang kalian, selamat membaca yaaa.🌹


“Aku tidak bisa meninggalkan anak anak lagi, David,” ucap Lily menatap suaminya yang sedang bersiap. “Lagipula kita harus membantu Oma pindahan bukan?”


“Pindahannya diundur, karena Oma ingin ruangan bersantai khusus dirinya. Jadi kemungkinan minggu depan.”


“Kenapa kau tidak bilang?” tanya Lily kaget, dia merasa kesal sekaligus tidak percaya suaminya tidak memberitahukan ini. Padahal dirinya bersiap ikut menata ruangan di sana.


David menghela napas dalam mendengar istrinya yang mengeluarkan nada marah. 


David berjongkok di depam Lily yang duduk di samping ranjang, suaminya menggenggam tangannya. “Aku hanya ingin mengajakmu berjalan jalan, ada yang ingin aku perlihatkan padamu. Aku juga butuh pendapatmu, karena aku tahu kau akan berperan penting dalam pembangunanku kali ini.”


“Kau butuh bantuan? Ini bukan sekedar kencan biasa?” tanya Lily yang merasa tersentuh dengan raut wajah suaminya. “Baiklah ayo keluar.”


“Oke, aku sudah menghubungi Nina dan pengasuh untuk datang.”


Karena memang Lily tidak boleh tahu tentang kedatangan Oma. Lily selalu curiga akan terjadi sesuatu jika Oma ikut andil. 


“Baiklah, kita tunggu mereka datang dulu.”


Sambil menunggu kedatangan pengasuh, Lily menemui anak anaknya dulu yang sedang bermain, “Hai, apa yang kalian gambar?”


“Wajah Athena,” jawab Ares.


Dan saat Lily melihatnya, dia terkejut melihat Ares menggambar wajah Athena yang lonjong seperti telur. “Astaga, apa Thea terlihat seperti itu.”


“Thea mau lihat,” ucap Athena yang langsung ditutupi oleh Ares.


“No.”


“Lihat!”


“No!”


Lily menghela napas, belum juga dirinya pergi, anak anaknya sudah ribut. Dan Ares menyadari mommy nya yang terdiam. Dia segera duduk dan berkata, “Sorry, Thea. Ini bukan dirimu, tapi manusia telur. Jangan marah oke?”


Kemudian Ares menatap Mommy nya. “Daddy bilang akan mengajak Mommy keluar, kami akan baik baik saja. ‘kan, Thea?”


Athena sempat terdiam, karena dia tidak ingin ditinggalkan bersama saudaranya yang aneh.


“Thea?” tanya Ares dengan senyuman menakutkan.


“Mommy, Ales kesulupan.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Seperti yang direncanakan, Oma datang setelah Lily dan David pergi. 


“Omaaa!”


Teriak anak anak berlari memeluk kaki Oma, dan itu membuat semua amarah Oma pergi begitu saja. rasa kesalnya terganti dengan rasa bahagia, apalagi saat anak anak itu memegang kedua tangannya.


“Ayo Thea bantu.”


“Ares juga.”


Oma tersenyum. “Jadi, apa yang kalian rencanakan? Apa yang akan kalian buat sekarang/”


“Akhil akhil ini Mommy suka sekali dengan bobba, ayo buat kue dengan bobba.”


Ares mengangguk setuju. “Kita hiasi dengan kubangan bobba.”


“Oma tidak paham.”


Dan saat sampai di dalam, Athena segera berlari untuk memperlihatkan gambar. 


Ares yang bagian menjelaskan berkata, “Jadi kita buat bolu bulat, buat kubangan di tengahnya. Agar tidak bocor, kubangan itu dipakaikan cokelat supaya vla yang ada di atasnya tidak tembus ke dalam bolu. Lalu isi dengan susu dan bobba.”


Oma menatap takjub, “Kenapa kalian sangat kreatif sekali?”


Ares menyeringai. “Oma sedang bicara dengan Ares Fernandez.”


“Astaga, baiklah ayo kita buat.”


Bukan waktu yang sebentar untuk membuat hal semacam itu dengan anak anak, apalagi kedua cicitnya menolak ditolong oleh pengasuh maupun Eta, karena mereka ingin semuanya buatan sendiri.


Oma pun hanya mengarahkan saja. 


Beberapa jam mulai terlewati, bolu dengan kubangan sudah sempurna. 


Hal terakhir yang mereka lakukan adalah membuat bobba.


Saat semuanya sudah dibulatkan dan tinggal di panaskan, ketiganya menunggu.


Ketika timer berbunyi, Oma bergegas mengangkat hal terakhir penghias kue ulang tahun.


Namun, alangkah terkejutnya mereka saat melihat penampakan bobba.


Oma berkata, “Kenapa bobba nya berubah warna? Mereka pucat seperti anemia.”


Athena yang penasaran itu menekannya dengan kelingking. “Bentuknya gepeng sepelti cendol, juga kelas sekali.”


Ares yang memiliki ide ini hanya menelan ludah kasar saat memegangnya, memang itu sangat keras, Ares kemudian berkata, “Lumayan untuk perontok gigi.”


🌹🌹🌹🌹🌹


To Be Continue