Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Berhasil



🌹Vote dong guys🌹


"Aku akan pulang, Nyonya Muda. Jangan lupa saranku."


"Terima kasih, Mete."


Senam telah usai, meninggalkan Eta dan Oma di apartemen untuk rehat dan makan siang.


"Astaga, lelah. Aku malas pergi."


"Oma, besok biar Lily saja yang ke rumah. Oma tidak perlu datang."


"Hei, tidak begitu. Oma akan datang padamu," ucap Oma dengan cekikikan.


Ini adalah salah satu metode Oma untuk mendapatkan posisi brides maid. 


"Sudah dapat pesan dari David?"


"Belum Lily periksa."


"Kalau begitu periksa," ucap Oma dengan nada menggoda, sebenarnya itu membuat Lily risih. Sikap Oma agak lain.


"Lily akan ganti pakaian dulu."


"Oma juga akan lakukan hal yang sama…."


"Ba.. baik." Lily naik ke lantai dua.


"Eta, apa menurutmu strategiku sudah bagus?"


Eta mengangguk mengacungkan kedua jempolnya.


"Mantul, Eta?"


"Mantul, Nyonya Besar."


"Hi hi hi. Kalau begitu aku akan ganti baju, kau siapkan makan siang."


"Baik, Nyonya Besar."


Oma masuk ke kamar mandi tamu di lantai bawah, sedangkan Eta memasak untuk keduanya.


Ketika Lily turun kembali ke lantai satu, dia mendapatkan balasan dari David.


12.04.


Suamiku tampan : Aku sudah mengatur semuanya. Lihat semua daftar ini, Sayang.


Kemudian Lily membuka dokumen berisi rincian. Sayangnya itu bukan dari bahasa Indonesia atau pun Inggris, itu terlihat seperti bahasa India.


Yang membuat Lily segera mengetik pesan pada suaminya.


Me : Aku tidak mengerti bahasanya, David.


Suamiku tampan : Tidak apa, aku juga tidak mengerti.


Lily tidak bisa berkata kata.


Me : Lalu bagaimana cara membacanya?


Suamiku tampan : Aku menggunakan penerjemah pribadi. Tapi jangan anggap aku bodoh, Sayang. Aku menguasai enam bahasa asing, kebetulan India masih dipejari.


Me : Tidak perlu mengirim penerjemah, masih ada Oma di sini. Kami akan makan siang.


Suamiku tampan : Ah, gunakan Oma, Sayang. Dia bisa bahasa India karena cita citanya adalah menjadi istri kedua Amita Bachan.


Lily segera mengakhiri percakapan di pesan, pembicaraan mereka semakin aneh.


"Kenapa Oma belum keluar, Eta?"


Dan tidak lama kemudian terdengar teriakan dari dalam kamar mandi.


"Eta! Eta! Baju ini tidak bisa lepas! Gulungan strawbeery nya tersangkut di telingaku!"


🌹🌹🌹


David bergegas pulang setelah mendapat pesan dari istrinya yang menyatakan dia tidak ingin menikah. Sontak saja itu membuat David meninggalkan semua kepentingan, karena Lily dan anak anaknya ada di atas segalanya.


Saat masuk apartemen, David mendengar percakapan Oma dan Lily.


"Kau salah mengetik, Lila! Kenapa kau malah mengatakan tidak ingin menikah?"


"Lily terkejut karena Oma yang tidak sabaran. Sebenarnya Lily tidak keberatan jika menikah minggu depan."


"Baca di sana. Astaga, Amita Bachan, aku harap ka tahu perjuanganku dengan anak ini. Kau bilang ingin pesta sederhana? Ini mewah."


Lily diam saja, membuat David melangkah masuk.


"Sayang…."


"David?"


"Oh, kau bule?"


"Aku mendapat pesan darimu, kau bilang tidak ingin menikah?"


"Dia tidak ingin menikah jika semuanya diatur olehmu. Biarkan wanita yang memegangnya," ucap Oma menjawab.


"Benar begitu, Sayang?"


"Tentu saja benar. Kan, Lila?"


"Aku bertanya pada istriku, Oma."


"Istrimu lambat, dia sulit bicara."


David berdecak. "Sayang…."


"Astaga, astaga, kenapa kau terlalu jujur, Lila?"


"Lily tidak keberatan dengan apa yang ada dalam daftar, Oma," ucap Lily.


"Oma yang keberatan," ucap Oma berdiri dari duduknya. "Saat Papamu kawin lari dengan mamamu, Oma tidak bisa merasakan resepsi pernikahan. Kini Oma ingin mengaturnya selayaknya mertua."


David malah tertawa garing yang membuat Lily segera memukul punggungnya pelan, memberi isyarat agar diam.


"Oma…."


"Jangan membantah," ucap Oma mengangkat tinggi telunjuknya. "Lihat, aku masih sehat."


David kembali tertawa. "Oma, aku perlu mematangkan rencana lebih dari satu bulan. Melihat lokasi ke sana ke mari, bagaimana dengan Oma?"


"Oma sehat!" Teriak Oma mengangkat dua telunjuknya ke udara. "Lihat, Oma bugar."


"Kalau begitu angkat satu kakimu, kau kan jatuh terkapar."


"Tidak." Oma melakukannya perlahan. "Lihat… Oma bisa, Oma bugar."


"Baiklah baiklah, sudah turunkan kaki dan tangannya," ucap David mengingatkan.


"Biarkan Oma yang mengurusnya, ya? Nanti Oma berikan sesuatu untukmu, David."


"Aku tidak butuh apa pun, semua yang aku butuhkan ada di dalam istriku."


Keduanya saling menatap lalu tersenyum, membuat Oma membuat ekspresi mual.


"Biarka Oma yang mengurus, Oma ingin merasakan repotnya punya anak pria."


"Bukankah cukup repot memiliki Papa yang kawin lari bersama Mama?"


"Bule tengik ini!"


"David," ucap Lily mengingatkan.


"Baiklah, Oma. Terserah padamu."


"Yes, akhirnya."


"Lalu? Apa yang akan Oma berikan padaku?"


Oma tertawa membuat pipi keriputnya bergoyang. "Oma mengurangi kadar kebencian Oma padamu."


🌹🌹🌹


Sambil menyiapkan makan malam, Lily dan David menunggu kedatangan dokter. Lily memasak dengan David yang berkutat bersama laptop.


"Makan malam sudah siap, ayo makan dulu."


"Sebentar, Sayang, aku akan melakukan Video Call bersama beberapa pemilik saham."


Belum juga Lily bicara, David memakai earphone nya. Mata David tetap fokus pada layar.


Di saat ponsel David yang ada di meja makan berbunyi, Lily mengangkatnya.


"Hallo, Oma?"


"Oh, Lily. Beritahu David jika persiapan pernikahannya sudah siap."


"A… apa? Secapat itu, Oma?"


"Kenapa? Kau tidak percaya pada Oma huh?"


"Bukan seperti itu," ucap Lily kebingungan.


"Sudahlah, beri tahu saja David. Oke?"


"Baik."


"Oma mengirim file nya pada Email David."


"Baik, Oma."


"Selamat malam, Lila."


"Malam, Oma."


Lily menutup telpon, dan saat David melepaskan earphone, Lily mendekat. "Oma bilang persiapan pernikahan resepsi kita sudah siap, dia mengirim file pada email milikmu."


"Apa? Secepat itu?"


David segera membuka Emailnya, dan menapatkan file berbahasa India.


"Astaga, mana ponselku, Sayang? Aku butuh penerjemah."


Dan saat David mengarahkan kamera ke layar laptop, menerjemahkannya dari sana.


"Ini sama seperti sebelumnya, apa yang beda?" Gumam David.


Sampai di bagian paling bawah, dia melihat tambahan yang sebelumnya tidak ada.


Yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inonesia yaitu


Brides Maid atau pengiring pengantin : Oma. Silahkan untuk mengukur baju datang ke rumah.


Tidak lama kemudian, datanglah pesan dari Oma.


Oma Owner Lambe Turah💖 : Oma sudah menyerahkannya ke WO.


🌹🌹🌹


Tbc...