
🌹Beri aku vote ya guys supaya semangat🌹
Sebastian yang mendapat telpon dari salah satu temannya yang polisi segera bergegas menuju hotel tempat Luke dan David bertengkar. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Sebastian sampai di tempat kejadian perkara. Di sana ada David, Luke, satu orang polisi dan manager hotel yang sepertinya telah menyelesaikan permasalahan.
Diyakini Sebastian, keduanya berdamai dan tidak menempuh jalur hukum.
Manger hotel yang keluar pertama, selanjutnya seorang polisi yang menjadi teman Sebastian. "Bas."
"Terima kasih."
"Sama sama, aku pulang dulu. Perhatikan dua sahabatmu itu."
"Aku harap…" Sebastian menahan bahu temannya. "Kau mengerti kan?"
"Aku mengerti, media tidak akan tahu."
Setelahnya mereka berjabat tangan, Sebastian masuk ke dalam menemui kedua temannya yang memiliki lebam dan ujung bibir berdarah.
"Senang melihat kalian saling memukul."
David jengah, dia berdiri dan meminum alkohol dari botolnya.
Luke yang pertama kali bersuara, "Ayo hentikan taruhan ini."
"Kenapa harus? Taruhan itu membawa pada hal yang benar, bukan begitu, David?"
"Berhenti mengurusi pernikahanku, Luke."
"Jika kau tidak ingin aku mengurus pernikahanmu, maka tata pernikahanmu dengan baik," ucap Luke dengan tajam. "Kau bahkan sering bermain wanita setelah menikah dengan Lily."
Sebastian mengerutkan kening.
"Jadi, kau mengakui kau menyukai Lily, Luke?"
"Dia bukan wanita yang tepat untuk kalian permainkan."
"Tidak ada yang mempermainkannya, aku menuntun David ke jalan yang benar."
"Berhenti mencuci otak David, Bas."
"Aku tidak melakukannya."
"Diam," ucap David tajam, dia menatap Luke. "Ini urusanku, urusi saja urusanmu, bukankah kau akan menikah? Jauhi istriku."
"Aku tidak keberatan menikahi seorang janda."
Seketika David melangkah lebar hendak memukul Luke, beruntungnya Sebastian menghetikannya dengan menahan dada David. "David, tenanglah."
"Jauhi istriku! Jauhi! Dia milikku!"
"Kau mempermainkannnya!"
"Tenang, David!" Teriak Sebastian.
"Jauhi istriku dan menikahlah!"
"Tidak sampai kau menjaga Lily dengan baik."
"Demi Tuhan aku tidak meniduri wanita lain setelah menikah dengan Lily!" David berteriak kuat, yang membuat Luke terdiam. "Ya, aku memang keluar malam, tapi aku pulang."
Sebastian terdiam, dia terkekeh sambil berdecak. "Serius? Kau melakukannya."
"Jauhi istriku, Luke." David mulai tenang. "Jauhi dia."
"Batalkan taruhannya."
"Hei." Sebastian menyela. "Lambat laun David akan melakukannya. Berhenti berdebat, kau akan menikah. Jangan biarkan wanita meracuni pikiran kita, kita adalah raja. Dan wanita tidak ada apa apanya tanpa kita."
David menyingkirkan Sebastian yang masih menahannya. "Aku akan pulang, sebaiknya kau perhatikan tindakan dan ucapanmu, Luke. Lily milikku, dia istriku."
Sebastian mengangkat tangannya saat David pergi, meninggalkannya dengan Luke. "Berhentilah mengganggu mereka, Luke."
"Wanita bukan untuk dipermainkan."
"Wow, sejak kapan kau punya pemikiran seperti itu?"
"Bas, berhentilah membenci wanita." Luke mengambil jaketnya. Dia mendekat dan berhenti di depan Sebastian. "Kau lahir dari wanita."
Kemudian meninggalkan Sebastian yang tertawa. "Aku tidak lahir dari wanita, aku lahir dari dalam hawa nafsu. Wanita bukanlah apa apa, mereka hanya makhluk penuh dengan keinginan yang menjijikan."
🌹🌹🌹
"Ada apa, Sayang?" Tanya Oma saat Lily yang terlihat lelah setelah selesai senam. "Lila."
"Lily, Oma," ucap Lily meminum air yang diberikan Eta. "Aku hanya sedang datang bulan, Oma."
"Apa Mete tahu?"
Lily mengangguk. "Dia memberikan senam agar peredaran darah Lily lancar dan tetap vit saat datang bulan."
"Baguslah, sebaiknya kau mandi, David akan datang saat makan siang bukan?"
Lily mengangguk. "Ya, dia akan pulang."
"Sana, pergi mandi. Keringatmu bau, memang semuanya tergantung kualitas. Ini salahmu membeli kaus yang jelek, tidak menyerap keringat hingga tercium bau," ucap Oma sambil menjauh.
Lily terpengangah melihatnya, dia hanya menggeleng dan naik ke lantai dua.
Oma yang masih memakai pakaian senam itu hendak berlari di halaman, dia berhenti bergerak saat melihat mobil David datang.
"David? Kau sudah kembali?"
David tidak menjawab.
"Apa yang terjadi dengan wajahmu?"
"Tidak ada."
"David." Oma menghentikan cucunya, dia memegang pipi David yang agak lebam, terlihat ada darah di ujung bibir. "Katakan pada Oma siapa yang melakukan ini padamu."
"Oma…"
"Katakan pada Oma."
"Luke menyukai Lily, aku menghajarnya."
"A… apa?"
"Dimana Lily?"
"Sedang mandi."
"Jika ada seseorang datang membawa berkas, suruh Eta membawanya ke kamarku, Oma."
Saat membuka pintu, terdengar Lily yang ada di kamar mandi. David pergi ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya, dia duduk di sofa dan menyalakan televisi sambil kembali minum alkohol ditemani rokok.
Saat itulah Lily keluar.
"David… kau sudah pulang?"
David tidak menjawab, sampai Lily yang hanya memakai handuk melilit di dadanya melihat luka David. "Astaga…." Lily berucap dengan suara pelan.
"Apa yang terjadi denganmu?"
Lily melupakan dirinya yang belum memakai baju, dia mengambil kotak obat dan duduk di samping David untuk mengobati.
"Kemarilah, liht aku. Akan aku obati lukanya."
"Tidak perlu."
"David…..," panggil Lily dengan suara pelannya.
Membuat David menyimpan rokok dan bergeser menghadap Lily untuk diobati.
"Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini?"
David melihatnya dengan jelas, bagaimana wajah Lily begitu khwatir dan gelisah. "Kenapa?"
"Aku rindu bertengkar dengan teman."
"Sebastian melakukan ini padamu?"
David terkekeh. "Kenapa kau menyangka itu Sebastian?"
Sesaat Lily menatap David, sebelum kembali fokus pada luka yang dia bersihkan. "Lily…"
"Dia terlihat tidak baik," ucapnya pelan dengan takut takut.
"Dan Luke?"
"Luke? Dia terlihat baik?"
"Kau menyukainya?"
Lily menatap bingung, dia menggeleng pelan.
"Bagaimana denganku? Kau menyukaiku?"
Lily kebingungan, biasanya David merasa dirinya sempurna hingga menarik kesimpulan kalau semua orang tertarik padanya.Â
"Lily…. Aku dan Luke? Mana yang akan kau pilih?"
Lily mengatakannya dengan suara pelan. "Kau…"
Alasannya, tentu saja karena David suaminya. Namun, David berfikir hal lain, dia memeluk Lily yang memakai handuk hingga hampir merosot.
"Astaga, David, handuknya."
"Biarkan terbuka."
"Aku sedang haid."
"Tidak apa, sabun banyak."
"Kau ingin mandi?"
"Ehem ehem ehem ehem."
Dan saat itu, Lily memberikan kecupan berulang kali.
🌹🌹🌹
Lily menatap David yang terlelap, terlihat damai dan tenang. Lily yang menidurkannya, David enggan melepaskannya.
Makan siang lumayan masih lama, Lily bersiap hendak turun dan membuatkannya untuk David.
Namun, saat hendak keluar, David terbangun. "Mau ke mana?"
"Memasak makan siang, tidurlah kembali."
"Biarkan Eta yang memasak, kemarilah peluk aku."
Lily akhirnya kembali merangkak naik, dia membiarkan diri dipeluk oleh David.
"Aku rasa aku harus membuka pintu," ucap Lily saat mendengar suara ketukan pintu. "Eta di luar sana."
"Euh, baiklah," ucap David melepaskan pelukan. Dia membiarkan Lily menjauh dan membuka pintu
"Ada apa, Eta?"
"Ini berkas milik Tuan Muda David."
"Baik, terima kasih."
Kening Lily berkerut mendengar suara ribut di bawah. "Eta."
Eta berbalik. "Ya, Nyonya Muda?"
"Apa yang sedang terjadi di bawah?"
"Itu…."
"Katakan, Eta."
"Ada Nyonya Dena."
"Nyonya Dena?" Lily mengingat. "Mama dari David?"
Eta mengangguk, dan Lily semakin jelas menengar suara Oma yang berteriak. "Eta, simpan ini ke kamar, aku akan ke bawah."
"Tidak, Nyonya Muda, jangan ke bawah. Nyonya Muda."
Tapi Lily lebih dulu naik lift, dan melangkah menuju Oma yang sedang berbicara dengan seorng wanita berambut pirang.
Terlihat Oma yang marah, dan itu membuat Dena kesal yang akhirnya tanpa sengaja mendorong Oma.
"Oma!" Lily berlari membantu Oma berdiri.
Dena yang berdiri di sana menyilangkan tangan di dada lalu tertawa. Dengan logat Amerika, dia berkata dalam bahasa Indonesia. "Oh, ini dia wanita yang dinikahi anakku. Sekarang anakku punya dua beban. Kau, bersiaplah untuk berpisah dengan David, aku sudah memilih menantu yang sempurna untuk melanjutkan keturunanku, bukan wanita bodoh dan miskin sepertimu."
🌹🌹🌹
hayooo hayoo ada pelakor nih.
To Be Continue...