Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Perisai



🌹VOTE🌹


"Bagaimana keadaannya?" Tanya David saat Holland datang mendekat.


David sengaja menurunkan kaca mobil, dia hanya ingin mendengar perkataan Holland.


"Baik baik saja, Tuan Muda. Sebenarnya dia mengidap penyakit asma."


"Dan parfume yang aku ledakan membuatnya seperti itu?"


"Tidak, Tuan. Dia sudah merasa sesak sebelumnya."


"Dan Holland, awas saja jika mereka memberitahukan kejadian itu pada yang lain."


"Jangan khawatir, Tuan. Mereka adalah teman saya."


"Bagus." David bertepuk tangan. "Kau bisa membujuk mereka dengan apa pun, dan katakan pada mereka aku akan ganti rugi."


"Ba--baik, Tuan."


"Aku akan pergi, selesaikan masalah di sini."


"Baik, Tuan."


David segera pergi mengendarai mobilnya dengan keadaan lega, dia merasa senang setidaknya Holland mengenal orang orang itu. 


Dan David melupakan apa yang diinginkan Lily karena dia panik atas tuduhan lansia pria yang menyebutnya sebagai pelepas gas beracun. David berdecak, ini benar benar hari sialnya.


Satu saja kesalahan akan membuat reputasi David hancur, karir yang dia bangun akan lenyap. Wajahnya di seluruh benua Asia akan terpampang dimana mana, bukan sebagai founder atau pemimpi perekonomian lagi, melainkan karena upil dan kentut.


David memarkirkan mobilnya di basement. Saat di lobi, David melihat ada seorang pria berjas yang sedang memarahi resepsionis di sana. Dan teriakannya menarik perhatian orang lain.


Yang David tangkap, pria itu berteriak seperti ini, "Kenapa saya tidak boleh naik lift itu?! Itu adalah lift yang sama dengan tiga lainnya?! Yang lainnya penuh! Saya ingin naik yang itu!"


"Maaf, Tuan, tapi lift itu khusus untuk eksekutif hotel ini."


"Dimana eksekutif itu?! Tidak ada kan! Inilah yang menjadikan status sosial terlihat di sini! Eksekutif diberi kemewahan, sementara orang biasa tidak!"


David menyeringai, dia segera mendekat dan mengisyaratkan agar resepsionis dan pihak keamanan menghentika perdebatan.


Pria tua paruh baya itu berbalik. "Oh, jadi kau salah satu eksekutif itu?!"


"Tenangkan dirimu, Tuan. Tenagamu tidak akan merubah apapun."


"Inilah yang membuat dunia hancur, status sosial."


"Tidak, dunia hancur karena kau tidak bersyukur dengan keadaan dan hatimu terlalu iri." David dengan tangan masuk ke dalam mantel mendekat, dia berbisik pada telinga pria itu. "Aku mengenalmu, kau mantan Presdir ARC Group yang telah diturunkan paksa. Sebaiknya kau diam dan jaga bicaramu sebelum aku menerbitkan berita tentang dirimu yang mencuri dari anakmu sendiri."


Pria itu langsung diam, membuat David melangkah menjauh dengan wajahnya yang arogant. Dia berbalik sebelum masuk lift, tangan David mengisyaratkan agar keamanan mendekat.


"Ya, Tuan?"


"Perketat penjagaan di lift khusus eksekutif ini, tidak boleh ada orang yang masuk menggunakan ini, kecuali mereka yang berhak."


"Baik, Tuan."


🌹🌹🌹


Lily menatap televisi dengan seksama, dia menelan ludah kasar saat melihat orang orang dalam televisi tengah makan. Orang orang India itu makan terlihat sangat penuh kenikmatan. 


Lily tidak sabar menerima makanan dari David.


Dan ketika mendengar pintu terbuka, Lily tersenyum lebar.


"David….," Ucapnya menyambut David dengan datang mendekat dan merentangkan tangannya memeluk pria itu.


"Ada apa ini, Sayang? Kenapa kau begitu menyambutku?"


Lily tersipu malu, dia menampahkan telapak tangannya. "Mana?"


Dan David dengan bodohnya malah menggenggam tangan Lily lalu menciumnya. "Ini."


"Makanan ya?" Kemudian David tertawa garing. "Hehe, aku lupa."


Seketika senyum Lily luntur, dia menunduk menahan kesal.


"Maaf, Sayang."


"Aku lapar, bayi bayimu lapar."


"Kita ke restaurant bawah ya, ada makanan India di bawah."


"India?"


David mengangguk seketika. "Ya, restaurant baru. Ayo."


Lily melupakan kekesalannya, dia pergi ke restaurant bawah dengan genggaman David.


Benar saja, di sana dia mendapatkan banyak menu yang sama dengan yang Lily tonton dalam televisi. Dia memesan porsi besar dan memakannya di sana.


Dan entah mereka yang terlalu keras suaranya, atau telinga Lily dan David yang tajam, pelayan yang ada di belakang mereka membicarakan.


"Siapa wanita yang bersama Tuan Fernandez itu?"


"Aku tidak tau, tapi dia sedang hamil."


"Setahuku dia belum menikah."


"Ya, aku tau."


Seketika napsu makan Lily menurun, dia berkata pelan, "Aku kenyang."


David menyadarinya. "Ingin makan di kamar?"


Lily mengangguk pelan, dan David segera menggenggam tangannya saat menuju ke kamar mereka.


Namun, kenyataannya saat Lily berada di kamar, dia kehilangan napsu makannya.


Melihat Lily yang membaringkan tubuh begitu saja di atas kasur, membuat David menghubungi seseorang. "Penanggung jawab hotel di sini, suruh dia temui aku."


Dan setelah mengatakan itu, David kembali menatap Lily. "Sayang, ingin memesan sesuatu?"


"Aku mengantuk," ucap Lily memejamkan matanya.


Dan saat David mendengar suara ketukan dari luar, dia segera pergi ke sana.


"Tuan David," ucap pria itu menunduk, dia tahu David adalah pemilik saham terbesar di sini.


"Di restaurant India di bawah, seorang wanita berambut pendek dengan mata sipit, yang lainnya berambut panjang berwarna abu."


"Iya, Tuan?"


"Suruh mereka mengundurkan diri."


"A… ada masalah, Tuan?"


"Kau tahu siapa wanita yang datang bersama saya?"


Pria itu diam.


David kembali melanjutkan, "Dia istri sah saya. Karena saya tidak mengundang mereka atau mengumumkan pernikahan saya, bukan berarti istri saya harus menerima cemoohan dari mereka, dan memandang rendah istri saya. Kau pikir aku harus mengundang seluruh rakyat Indonesia agar mereka tau?"


Pria itu menunduk. "Ma.. maafkan mereka, Tuan. Saya janji hal ini tidak akan terulang lagi."


"Dan jika saya mendengar hal itu lagi, saya akan meratakan hotel ini supaya kalian semua menjadi pengangguran."


"Ba.. baik, Tuan. Saya mengerti."


🌹🌹🌹


Tbc.