
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. JANGAN LUPA JUGA AJAK YANG LAIN BACA KARYA RECEH EMAK INI YA.🌹
“Kau tidak boleh berkata seperti itu pada Laura, Ares,” ucap Cantika dengan tatapan masih terpaku pada sosok Laura yang sedang berjalan pulang, Cantika merasa tidak enak pada Laura yang pulang setelah melihat Ares yang tertawa bersama dirinya, apalagi dengan menampilkan wajah kesalnya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Ares masih memakan kue lapis tersebut. “Lagipula aku merasa ada yang aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Sikapnya, terlihat berlebihan dan dibuat buatkan, apa yang terjadi dengannya? Jika memang tertarik padaku tidak akan seperti….. keterlaluan seperti itu. Kau paham atau tidak? Ck, pasti tidak.”
Cantika terdiam, dia baru mengingat tentang keranjang kue milik Ares yang ada di lobang sampah di belakang rumah Laura. Memang, Laura sepertinya tidak menyukai Ares seccara tulus, ada sesuatu yang membuat perempuan itu tiba tiba tertarik dengan Ares. Tapi Cantika tidak ingin berfikir negative, mungkin itu ada di tempat sampah karena anjingnya yang membawanya keluar? Tapi…., terasa tidak mungkin.
“Kenapa kau melamun?”
“Tidak,” ucap Cantika yang mengambil satu susu yang dibawa Ares kemudian meminumnya.
“Tika! Pesankan angkot online!” teriak sang Nenek dari dalam kamar mamanya Cantika.
“Tapikan ponsel Cantika belum dibawa pulang Kakek, Nek!”
“Pakai milikku saja,” ucap Ares mengeluarkan ponselnya.
“Pinjam milik Layla!”
“Iya, ini sudah!”
Dan saat Ares sedang memesan, keluarlah Nenek yang mendorong kursi roda milik Mamanya Cantika. Membuat Ares mengalihkan pandangan, dan pertama kalinya melihat wajah wanita yang telah melahirkan Cantika.
Dia terlihat seperti Cantika, tapi dalam versi lebih anggun. Dan juga penuh dengan ketenangan, yang mana membuat Ares segan.
“Bu, perkenalkan saya Ares.”
“Hallo, Nak Ares.”
“Ares bantu dorong ya, Nek.”
“Gak papa, Nak Ares,” ucap Mamanya Cantika menghentikan. “Ibu bisa berjalan, hanya letih saja. Tidak apa, temani saja Cantika, dia sering membicarakanmu sejak kecil.”
“Mama,” rengek Cantika.
“Layla kemana?”
“Pulang,” jawab Cantika.
“Lalu kalian berdua di sini? Tidak tidak, ayo keluar. Main di luar,” ucap Nenek Cantika mengusir agar keduanya berada di luar rumah.
Bisa gawat jika mereka berada di sini berduaan.
🌹🌹🌹🌹🌹
Dan kini Ares dan Cantika berada di luar rumah. Cantika yang duduk di teras dan Ares yang memanjat pohon mengambil mangga muda sesuai keinginan Cantika.
Tatapan Cantika beralih pada seragam Ares yang dilepas, pria itu kini hanya memakai kaos hitam dan dengan celana sekolahnya. “Bukankah besok masih memakai seragam yang itu?”
“Ck, kau pikir aku hanya punya satu?” ares membanggakan diri sambil memetik buah mentah yang diinginkan Cantika, sesekali pria itu mengumpat pelan karena semut terus menggigitnya. Tidak lupa Ares membawa kantong kresek agar buahnya tidak jatuh.
Dari atas pohon, Ares dapat melihat Cantika yang sedang duduk memainkan kuku kukunya. Sejenak dia menatap lama gadis yang usianya lebih muda darinya itu, sampai dia tiba tiba beranjak dari duduknya.
“Kau mau kemana?”
“Mengambil pisau dulu,” ucap Cantika masuk ke dalam dengan kaki yang terlihat kesakitan. Hal itu membuat Ares segera turun, dia mencuci mangga muda itu di kran yang ada di samping rumah.
“Letakan di sini,” ucap Cantika yang datang dengan piring plastic.
Ares melakukannya, dia melihat Cantika membawa begitu banyak alat alat membuat sambal.
“Kau akan membuat apa?”
“Rujak,” jawab Cantika mulai mengulek bahan untuk sambal rujaknya, yang terdiri dari gula jawa, sedikit terasi, cabe rawit, garam dan juga asem.
Ares bertepuk tangan kecil. “Wuaahhh, Mommy ku selalu membuat itu, itu bagus untuk ketampananku.”
“Kupas buahnya,” ucap Cantika memberi perintah.
Ares dengan senang hati melakukannya, sesekali dia mencuri pandang pada Cantika yang sibuk mengulek, tidak berani menatapnya.
“Kau marah padakku atau bagaimana? Kenapa kau tidak melihat wajah tampaku? Ada apa denganmu?”
“Karena ketampananku?”
“Iya.”
“Katakan itu dengan benar.”
“Karena ketampananmu.”
“Pintar,” ucap Ares.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ares memejamkan matanya, merasakan bagaimana pedas asam manis buah yang dilumeri oleh bumbu rujak itu mengalir di tenggorokannya. Sungguh, Cantika membuatnya kewalahan.
“Kau masukan berapa biji cabe rawit, Centini?” tanya Ares sambil kembali menusuk salah satu buah mentah yang telah dipotong kemudian memasukannya ke dalam mulut.
Cantika menatap Ares sambil sesekali tertawa melihat bagaimana pria itu kepedasan, sementara dirinya masih sibuk mengupas buah lainnya.
“Kapan kau akan makan? Tinggalkan itu.”
“Sayang sekali satu lagi,” ucap Cantika yang belum kunjung memakan rujak buatannya. Keduanya kini berada di teras rumah, duduk di atas keramik hitam dengan pemandangan pada halaman rumah tua yang luas. “Panggil Laura.”
“Untuk apa? Kau akan meminta camilan padanya?”
“Ajak dia memakan rujak.”
Ares terdiam, mulutnya masih mengunyah. “Kau saja yang ajak.”
“Dia menyukaimu, kau yang ajak.”
“Sudahlah, kita berdua saja.”
Cantika berdecak, sebenarnya dia juga tidak terlalu menyukai Laura semenjak melihat keranjang Ares yang dibuang itu, Cantika takut Ares nya disakiti. Tapi Cantika mencoba berfikir positive dengan membayangkan opsi lain yang membuat Laura membuang kue itu.
Tapi demi Tuhan, kue itu utuh.
“Ah…. Aku tidak tahan. Ini pedas,” ucap Ares berdiri dan berjalan tidak karuan di bawah pohon mangga. “Centini, ini membuat perutku mulas.”
“Makan mangga ini hanya dengan garam saja.”
Ares mendekat dan menuruti apa perkataan Cantika, dia mengambil beberapa potong buah mentah yang belum diaduk dengan bumbu kemudian ditaburi garam. Ares memakannya sambil jalan ke sana ke mari di halaman karena menahan pedas.
“Sudah mendingan?” tanya Cantika yang mulai menikmati rujak buatannya sendirian.
“Lumayan,” jawab Ares. “Aku tidak mau memakan itu lagi, kau keterlaluan. Terlalu pedas tidak baik untuk wajah tampanku.”
“Baik baik, nanti aku buatkan yang tidak pedas untuk Ares.”
“Tambahkan kata yang tampan.”
“Yang tampan.”
Ares menganggung senang, sesaat kemudian dia mengaduh saat mangga kecil jatuh di kepalanya, itu sebesar kuku ibu jari. “Wah… mereka rontok,” ucap Ares mengambil mangga yang lebih dulu gugur sebelum membesar.
Kemudian Ares menghirup aromanya. “Wah…., aromanya wangi.” Dia berbalik menatap Cantika. “Centini, apa kau tahu aroma mangga kecil ini harum?”
“Entah, aku belum pernah mencium aromanya.”
“Harus dari dekat seperti ini. ini sangat harum, ini bagus un⸻SRUUPPP!”
Mata Ares membulat, dia mengirup mangga kecil itu terlalu kuat hingga masuk ke dalam lubang hidungnya dan tidak bisa dijangkau oleh jari. Sedetik kemudian, “Centini! Centini! Selamatkan wajah tampanku! Centini bagaimana jika aku mati?! Centini mangganya masuk ke dalam lubang hidungku!”
Cantika seketika berlari menemui Ares yang ribut. “Kenapa? kau kenpa?” tanya Cantika yang tidak mendengarkan dengan jelas.
Kemudian Ares mengadah memperlihatkan lubang hidungnya. “Mangga nya masuk ke lubang hidungku! Aaaaa! Bagaimana ini?” rengek Ares panic.
“Tenanglah, tenang. Apa itu membuatmu kesulitan bernapas?”
“Tidak, tapi hidungku besar sebelah, Centini. Aku tidak tampan lagi, jariku tidak bisa menjangkaunya, bagaimana ini? Aaaaaa… apa yang harus aku lakukan? Lubang hidungku besar sebelah.”
“Jika itu tidak membuatmu kesulitan bernapas tidak apa,” ucap Cantika mencoba menenangkan.
“Tapi ini membuat wajah tampanku aneh, Centini! Aaaaaa!”
“Oke, oke, ayo ke rumah sakit. Pakai jaketmu, aku akan mengantarmu ke sana.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE