Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Berjauhan



🌹VOTE YA GAIS🌹


"Sudah, Lila, jangan sedih. Dia akan kembali."


Lily menatap sarapan di depannya dengan malas. Oma terpaksa membawanya ke dalam kamar.


Karena setelah kepergian David, Lily langsung naik ke atas untuk mandi. Namun, dia tidak turun kembali sampai siang hari.


"Lila…."


"Aku akan makan sebentar lagi, Oma."


"Tidak boleh, kasihan bayi bayimu yang butuh asupan makanan."


Lily memegang perutnya yang membuncit. Dia menarik napas dalam.


"David akan pulang dengan cepat, ayo makan, nanti Oma buatkan kue cokelat untukmu."


Lily tersenyum, demi menghargai Oma dia mengambil sendok dan mulai memakan makanan di depannya.


Oma melihat kesedihan Lily, kunyahannya bahkan begitu pelan dengan tatapan kosong.


"Lily….," Ucap Oma kini dia berkata dengan benar saat melihat kesedihan jelas dari cucu menantunya. "Kenapa kau sangat sedih? Dia pergi ke Amerika, bukan pergi ke sisi Tuhan."


"Maaf, Oma," gumam Lily. "Aku hanya…. Lily tidak pernah punya teman, Oma. David adalah oran pertama yang memperlakukanku layaknya manusia. Dia menghargaiku meski aku memiliki status sosial yang rendah, Oma."


"Sayang…, aku mengerti kenapa kau sangat menyayangi David, tapi dia akan pulang."


Lily menunduk menatap perutnya yang membuncit. "Mereka akan rindu padanya."


"Makan yang benar, Oma akan buatkan kau air madu."


"Tidak perlu, Oma." Lily menahan tangan Oma. "Bukankah Oma harus senam?"


"Sudah, ini keinginan Oma. Kau diam saja di sini, nanti Oma ke sini. Jika mau susul Oma."


Dan Oma meninggalkan Lily untuk menghabiskan sarapannya di sana. Oma turun bergegas dan memanggil satu satunya pelayan di sini yang dia percayai, "Etaaaa!"


"Iya, Nyonya Besar?"


"Aku butuh sesuatu yang menghibur Lily."


"Seperti apa?" Tanya Eta.


"Entahlah, kau yang berpikir."


Eta diam, dia berpikir sesuai keinginan majikannya. "Eum… apa anda memiliki saran?"


"Tidak, Eta. Aku sedang mengingat ingat resep kue, aku tidak bisa berpikir."


"Bagaimana kalau memanggil Marylin, Nyonya Besar? Dan melakukan relaksasi dan perawatan tubuh."


"Tapi David suka pipi Lily yang chubby, Eta."


"Kita hilangkan perawatan itu, Nyonya Besar. Nyonya Lily suka ktika mendapat masker bulu mata."


"Hei, Eta. Itu yang akan aku katakan."


🌹🌹🌹


"Kopernya saya simpan di sini, Tuan."


"Ya, simpan saja," ucap David yang sedang terlentang di atas ranjang.


"Apakah ada hal lain yang anda perlukan, Tuan Muda?"


David diam berpikir sebentar. "Berikan aku alkohol."


"Saya akan meminta mereka membawakannya, Tuan."


"Di mana kau tidur?" Kali ini David menatap Holland.


"Di kamar sebelah."


"Pergilah, suruh mereka ke sini setelah membawa alkohol."


Holland mengangguk, dia keluar dari sana.


David memejamkan matanya sebentar, dia ingin terlelap tapi butuh sesuatu yang mendorong. Biasanya, pendorong itu adalah Lily yang selalu mengusap kepalanya. Kenyataannya, kini tidak ada.


Dan ketika mendengar ketukan pintu, David membukanya. Dia menerima alkohol yang dipesan. 


"Thank you," ucap David kembali ke dalam.


Dia duduk di balkon sambil meminum itu, juga sambil memainkan ponsel untuk menghubungi Lily.


Me : Sayang, apa yang sedang kau lakukan?


My love💖 : Sudah sampai? Apa sudah makan? Kau baik baik saja?


David tersenyum, dia suka tipikal wanita yang mengkhawatirkannya.


Me : Aku baik baik saja, Sayang. Sedang beristirahat di hotel, bagaimana denganmu?


My love💖 : Sedang tiduran di kamar sambil melihat Tuan Takur.


Me : Boleh aku menelpon?


My love💖 : Nanti ya, aku sedang menonton ini. Hanya tinggal dua puluh menit lagi.


Me : Kalau begitu biarkan aku melihat wajahmu.


My love💖 :



Me : Astaga, pakaian itu. Biarkan aku lihat tawa manismu.


My love💖:



Me : I Love You, Honey💖


🌹🌹🌹


Tbc