Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Langit Bergerak



🌹VOTE🌹


"Oma….," Gumam David merasa malu, apalagi saat suara terompet dan letusan pesta layaknya tahun baru. Lebih gilanya lagi, Oma memasang banyak balon dengan bertuliskan pabrik telah dibuka.


Lily enggan menjauh dari David. 


"Lily Sayang, kemarilah." Oma merentangkan tangannya. 


Daripada bersama David dan mendapat godaan dari teman-teman David, Lily memilih mendekati Oma dan memeluknya. "Oma….."


"Berhenti berwajah merah, ini belum seberapa. Kita akan mengadakan pesta besar jika kau segera mengandung."


"Omaa…"


Oma tertawa, dia memanggil beberapa temannya. "Kenalkan, ini istrinya David. Salam pada mereka, Lily."


"Hallo."


"Selamat atas dibukanya pabrik. Ngomong-ngomong, sebenarnya pabrik apa?" Tanya salah satu teman Oma.


"Pabrik anak ayam tentunya," ucap Oma bersenda gurau.


Lily hanya ikut tertawa. "Benarkah Oma? Anak ayam?"


Oma berbisik, "Tentu saja, kau Ibu Ayam dan David Bapak Ayam."


Lily kembali bungkam, dia menarik napas dalam.


Di saat bersamaan, David menemui kedua temannya.


"Aku tahu apa maksud Oma-mu membuka pabrik," ucap Sebastian sambil tertawa.


"Diamlah."


Luke menambahkan, "Selamat kau berhasil, bagaimana rasanya?"


David meminum alkohol, dan menjawab dengan santai tanpa ekspresi, "She's virgin."


"Wohoo!" Sebastian bertepuk tangan. "Masih ada wanita seperti itu di dunia?"


"Jika kau beruntung kau akan mendapatkannya."


"Bagaimana dengan tunanganmu, Luke?" Tanya Sebastian.


"Aku tidak tahu, kami belum bicara langsung."


"Siapa namanya?" Tanya David.


"Namanya? Akan aku beritahu di undangan nanti."


"Kau yakin akan menikah? Apa dia mau ikut denganmu?" Sebastian menodong dengan pertanyaan.


"Keputusanku…." Luke meminum anggur. "Aku akan tetap tinggal di Indonesia, dia juga akan di sini bersamaku."


"Dia bisa berbahasa Indonesia?"


"Dia pernah tinggal di sini."


David mengerutkan kening. "Apa dia teman masa kecilmu yang itu?"


"Yang mana?" Tanya Sebastian.


"Pernah satu sekolah bersama Luke dulu."


Luke tidak ikut dalam percakapan Sebastian dan David. Yang mana membuat Luke menatap Lily secara tidak sengaja.


"Lihat, David, Luke menatap istrimu diam-diam."


"Bukan begitu," ucap Luke memutuskan pandangan. "Apa taruhan itu masih akan berjalan?"


"Kenapa?"


"David, wanita yang kau nikahi itu wanita yang polos."


"Maka dari itu taruhan dilakukan," ucap Sebastian tertawa. "Kita akan tahu kelanjutannya, bukan begitu, David?"


"David, dia istrimu sekarang," ucap Luke. "Aku pikir wanita yang akan kau nikahi adalah sejenis wanita malam."


"Luke…." Sebastian menepuk pundak Luke. "Taruhan ini berjalan, benar begitu, David?"


David diam, dia menatap Lily yang sedang berbicara dengan teman Oma.


"David?" Sebastian menyadarkan. "Kau akan mendapatkan Kapal Pesiar diriku, dan Mobil milik Luke."


David diam.


Luke mengatakan, "Tapi kau akan kehilangan real estatemu, David. Kita akhiri di sini."


"Tidak, ini akan berjalan, kan David?"


"Ya, ini taruhan ini masih berjalan."


🌹🌹🌹


"Lily Sayang, kau tidak apa?"


Lily duduk, dia merasa pusing. "Jam berapa kau tidur tiap malam? Tidak, berapa jam kau tidur?"


"Hanya beberapa jam."


"Apa David selalu menganggu?"


Lily mengangguk perlahan. 


Pesta masih berjalan, bersamaan dengan makan malam. 


"David!" Panggil Oma. 


David segera meninggalkan kedua temannya. "Ada apa?"


"Lily merasa pusing."


"Dia demam lagi?" David memegang keningnya dan bergumam, "Hangat."


"Bawa dia ke atas."


"Lily bisa sendiri Oma," ucap Lily.


"Iya, Oma."


Meninggalkan pesta pembukaan, Lily digendong David naik lift. Dan kening Lily berkerut saat melihat lift terus naik. "Ke lantai tiga?"


"Ada yang harus aku tunjukan," ucap David.


Lantai tiga, David membawa ke sebuah ruangan yang belum pernah Lily datangi sebelumnya.


"Wahhh… ada kamar di sini?"


Sebuah kamar luas, dengan ranjang susun tiga berukuran king size. Warna biru mendominasi, dan ini adalah kamar anak laki-laki.


"Kamar siapa ini?"


"Milikku."


"Kenapa tersusun tiga?"


David menurunkan Lily. "Naiklah ke ranjang paling atas."


Lily melakukannya, disusuk oleh David. Saat berbaring di ranjang ketiga, David menekan tombol yang membuat langit-langitnya terbuka, memperlihatkan banyak bintang bersinar.


"Waaahhh… ini indah." Lily otomatis tidur dengan tangan David sebagai bantalan.


"Kenapa ranjangnya ada tiga susun?"


"Satu untuk Mama, satu untuk Papa."


Lily bingung.


"Dulu aku tidak suka tidur sendiri, dan rasanya tidak adil Mama dan Papa tidur berdua. Jadi Papa membuat ranjang susun ini, supaya membuktikan padaku semuanya tidur sendiri."


Lily terkekeh pelan. "Sangat lucu."


David mengusap rambut Lily. "Kamar ini tidak dipakai setelah Papa meninggal dan Mama pulang ke Amerika, hanya Oma yang selalu membersihkan."


Lily ingin menanyakan sesuatu, tapi dia bingung. 


"Mama belum menikah lagi, tapi dia sudah punya anak lagi. Oma hanya punya satu anak, jadi aku menemaninya di sini, walaupun dia agak cerewed."


"Oma sangat baik."


"Aku tahu."


Lily menatap ke angkasa, bagaimana bintang berserakan di sana.


"Besok bekerja?"


"Ya, kembali ke realita."


Lily memeluk David saat pria itu sendiri yang melingkarkan tangan Lily di pinggangnya. "Jika masih sakit, tidak usah mengirimkan makanan."


"Aku baik-baik saja."


"Besok aku akan memanggil dokter, kau mungkin kurang tidur. Makannya, berhenti menggodaku dan tidur."


🌹🌹🌹


"Terima kasih atas pestanya, Oma," ucap Luk sebagai tamu terakhir yang hendak pergi. 


"Ya, pergilah dan istirahat. Aku dengar kau akan menikah."


"Beberapa bulan lagi, Oma."


"Semoga awal pernikhanmu sangat baik, jangan seperti David."


"Aku mengerti, Oma."


Oma menghela napas dalam, dia tersenyum melihat berantakannya mansion karena David dan temannya. "Etaaaa!"


"Ya, Nyonya Besar?"


"Bereskan ini, aku akan tidur."


"Baik, Nyonya Besar."


Oma yang tidak tahu Lily dan David ada di kamar lantai tiga, juga pergi ke kamar lantai tiga. Oma merindukan kenangan saat David kecil dan anaknya masih ada. 


Saat membuka pintu, Oma tidak melihat ke bagian ranjang tingkat tiga. Dia hanya fokus membaringkan tubuh di ranjang susunan pertama.


"Ah, andai anakku masih hidup. Dia akan senang melihat ini."


Oma mula memejamkan matanya.


David yang terbangun juga tidak menyadari Oma ada di sana. Dia bangun dan melihat Lily yang sudah terlelap.


Sisi iblis David kembali bangun, dia mendekat dan memberikan beberapa ciuman di leher Lily.


Membuat Lily membuka matanya. Batinnya berkata, 'Jangan lagi, David.'


"Wow, kau terbangun?"


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Aku berdehem beberapa kali, tapi tidak mendapatkan apapun."


Lily diam, malu malu dia mendekatkan wajahnya pada David dan memberikan kecupan di sana. 


Sayangnya, kecupan itu berubah menjadi ciuman liar. Yang membuat David mengendalikan semuanya, membuat ranjang bergerak, dan Oma yang sedang tidur bangun.


Seketika Oma berteriak, "Gempa! Gempa!" Sambil berlari keluar kamar.


Lily dan David menghentikan aktivitas mereka, keduanya menatap Oma yang masih berteriak.


"Se… sejak kapan Oma ada di sana, David?"


"Kadang Oma tidur di sini."


"Gempa! Gempa! Etaaaa! Bangunkan cucuku! Gempa datang! Gempaaaaa!"


🌹🌹🌹


TBC.