Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Demam pelukan



🌹VOTE🌹


"Apa kau marah?"


Lily diam, jelas dia marah. Tapi mencoba tenang dan membiarkan semuanya beralir. David mengirimkan barang-barang itu pada Oma, dan Lily tidak memiliki apapun untuk Lily berikan pada Oma nanti.


"Berhenti diam, ayo kita main air."


"Main apa?"


"Main air madu?"


Lily jelas mengerti, membuatnya memerah malu.


"Kenapa kau selalu memerah? Tapi lumayan, pabrikmu juga pink."


"Bi… bisakah kau tidak bicara sefrontal itu?"


Lily yang sedang merebah di sofa itu menutup wajahnya dengan bantalan sofa. Bukannya dia tidak ingin main, tapi Lily merasa pusing dengan kepala yang pening.


"Ada apa? Kau merasa pusing?"


Lily diam, dia memejamkan matanya sesaat. Apalagi saat David menyentuh keningnya. "Hangat, kau sakit."


Lily membuka mata, menatap David yang duduk di bibir sofa. 


"Aku akan memanggil dokter."


"Tidak usah," ucap Lily menahan tangan David. "Aku baik-baik saja."


"Keningmu panas, sebentar lagi malam. Aku tidak ingin menunggumu nanti malam."


"Tidak apa, aku baik-baik saja."


David mulai khawatir, apalagi Lily kembali memejamkan matanya. "Apa yang kau lakukan jika sakit?"


"Hanya minum air teh hangat dengan jahe bakar."


"Apa lagi?"


"Makan yang banyak."


David menatap jam, ini sudah waktu jam makan malam. "Apa yang kau ingin makan?"


Lily tidak kunjung menjawab.


"Lily Sayang, apa yang ingin kau makan?" 


"Bubur bayam saja."


David mengangguk, dia segera keluar dari sana untuk menghubungi Holland. Dan ini pertama kalinya dia peduli pada wanita selain Oma, apalagi sampai sekhwatir ini. Sayangnya, David tidak sadar akan hal itu.


"Hallo, Holland? Aku minta bawakan teh jahe hangat dengan bubur bayam. Dan berikan obat pereda panas untuk perempuan berusia 19 tahun sudah menikah."


"Baik, Tuan Muda. Ada lagi?"


"Ya, cepatlah."


David bergegas kembali ke dalam, Lily ada di ruang bersantai masih dalam posisi sama.


"Lily, ayo pindah ke kamar."


"Tidak perlu."


"Kau bisa tidur dengan nyaman di sana."


Lily tidak menjawab, yang membuat David memilih duduk di atas karpet menghadap Lily yang berbaring di sofa. Dia mengelus kepala Lily penuh sayang.


Tidak lama, Holland datang dengan beberapa pelayan membawakan pesanan David.


"Bawa itu ke meja sana."


"Baik, Tuan."


Setelah para pelayan kembali, Holland berkata, "Ini obat yang anda minta, Tuan. Didapatkan dari dokter di klinik."


"Baik, jangan pergi terlalu jauh, aku yakin akan membutuhkanmu lagi."


"Baik, Tuan."


David bergegas masuk kembali. "Lily Sayang, ayo makan dulu. Minum teh hangatnya."


Lily membuka mata, dibantu David dia duduk. "Darimana kau dapatkan ini?"


"Aku kaya," jawab David singkat.


"Ingin aku suapi?"


Lily menggeleng.


Saat Lily memakan buburnya, dia menatap David. "Kau belum makan malam?"


"Nanti saja, kau duluan."


"Kenapa tidak meminta mereka membawakan untukmu?"


"Aku belum lapar."


Kenyataannya, David lupa akibat terlalu cemas pada Lily.


🌹🌹🌹


Lily kini beralih tidur di atas ranjang, dia tidur dengan selimut menutupi tubuhnya sampai batas leher. 


Saat itu, David sedang mandi. Dan Lily ingat tugasnya sebagai istri adalah memandikan David. Membuatnya membuka mata, dan berjalan ke kamar mandi. Di mana David sedang duduk di dalam bathub sambil memejamkan mata mendengarkan suara ombak.


David terkejut merasakan seseorang menyabuni punggungnya. "Lily? Kenapa kau ke sini?"


"Aku perlu memandikanmu."


"Ck." David menghentikan gerakan Lily. "Tidak perlu, aku memberikanmu belas kasihan, jadi pergilah tidur lagi."


Lily ragu, dia tahu ini tugasnya. Dan Lily bukan tipe orang yang lari dari tanggung jawab, apapun kondisinya.


"Aku baik-baik saja. Berbaliklah, belakang telingamu masih kotor."


David akhirnya menyeringai, pemikiran licik tercipta di pikirannya. "Kau ingin melihatku bukan?"


"Ti… tidak, aku menjalankan tugas sebagai istri."


"Atau mungkin kau hanya ingin mandi bersama."


"Bu…. Bukan," ucap Lily malu.


"Kalau ingin bergabung masuklah."


Lily memang belum mandi, tapi dia tidak ingin masuk ke sana. Lily tahu akan ada banyak kejadian terjadi.


"Aku tidak akan masuk pabrik, ayo ke sini saja."


"Tidak, aku… aku tidak akan mandi. Masih…. Agak pusing."


"Kalau pusing pergi ke luar sana. Tidur."


"Tap--"


"Ini perintah."


"Baiklah," ucap Lily segera keluar.


Itu juga rencana David agar dirinya menahan diri. Berada di tempat strategis bersama Lily membuat David ingin memakannya terus menerus. 


Kejantanannya selalu menguat dan membesar ingin bekerja bersama kewanitaan Lily. Dan itu hanya terjadi pada Lily. Sebelumnya, kejantanan David harus dijilat terlebih dahulu oleh para wanita malam sebelum bangun. Namun, bersama Lily lain lagi. Hanya melihat Lily bernapas lagi mampu membuat uratnya menguat, kekar dan liat.


Ketika keluar, dia mendapati Lily sedang menyisir. "Kenapa tidak tidur lagi?"


"Aku baru minum obat."


David mengangguk, dia memakai pakaian tidur. Dan itu hanya sebuah jubah hitam, dengan bagian dalam mengenakan boxer saja.


Saat itu, ada sebuah ketukan pintu.


"Apa kau memanggil Holland?" Tanya David.


"Tidak."


"Lalu siapa itu?"


"Biar aku periksa," ucap Lily pergi, dia tahu David tidak bisa memeriksa karena masih berpakaian.


Dan alangkah terkejutnya dia melihat siapa yang datang. "Megan?"


"Selamat malam, Nyonya. Saya diperintahkan Tuan untuk datang dan bekerja malam bersama."


🌹🌹🌹


Lily diam seorang diri di kamar, David dan Megan sedang membicarakan sesuatu di ruang tamu. Dan Lily yang tidur di kamar lantai satu bisa melihat dari sana apa yang sedang Megan dan David lakukan. Kedunya sedang berdiskusi.


Lily tidak bisa tidur, membuatnya bicara sendiri. "Astaga, Lily, ayo pejamkan matamu dan tidur. Kenapa kau mengkhawatirkannya?"


Sebenarnya bukan khawatir, Lily cemburu. Namun, dia ingat siapa dirinya, tidak berani menunjukan kecemburuannya. Banyak wanita yang menamba pada David di luar sana, sedangkan dirinya kalah jauh dari mereka.


"Kenapa aku tidak bisa tidur?" Lily mendudukan dirinya. 


Dia bangun, berjalan menuju arah dapur. Di mana melewati David dan Megan.


Sambil menuangkan air, Lily menatap kedunya yang membelakangi.


Saat Lily tersedak, David menoleh, "Kau baik-baik saja, Sayang?"


"I… iya…"


"Tidurlah duluan, pekerjaanku masih banyak."


Lily tidak menjawab, dia hanya kembali ke kamar. Namun, dia masih belum bisa tidur. Apalagi telinga Lily mendengar Megan yang tertawa kecil seolah disengaja. Dia membuka matanya dan menatap keduanya dari kamar.


"Aku tidak bisa tidur jika mereka berdua ada di sana…," ucap Lily dengan suara kecil.


Dan entah kenapa perutnya juga tidak bekerja sama, Lily merasa haus dan lapar terus.


Itu yang membuatnya terus keluar masuk dapur dan kamar.


Dan David menyadari hal itu, istrinya tidak bisa tidur.


"Kita akhiri ini."


"Tapi, Tuan, kita belum selesai."


"Masih ada waktu besok."


"File ini harus sampai di Malaysia besok siang, Tuan."


David membuka kacamatanya, dia menatap Megan tajam. "Ada yang harus diubah di sini, saya tidak bisa lagi berdiskusi ataupun bekerja di malam hari. Karena pekerjaan saya di malam hari adalah menemani istri saya."


"Ta… tapi, Tuan."


Megan tidak bisa membantah, dalam hatinya dia mendumal sambil berjalan keluar. Padahal dirinya sudah bergairah melihat David memakai jubah tidur. Sialnya dia harus pulang.


"Bawa file ini bersamamu."


"Baik, Tuan."


Pintu tertutup, David segera melangkah ke kamar. Di mana Lily sedang berbaring dengan mata terbuka.


"Sudah selesai?" Lily bertanya.


David membuka jubahnya dan ikut berbaring. "Ya, aku sudah selesai. Kemarilah, kau masih demam dan harus tidur. Ayo datang ke pelukanku, kau mendambakannya bukan?"


Malu-malu, Lily mendekat dan memeluk David. Dan saat itu dia baru bisa memejamkan mata.


🌹🌹🌹


TBC.