
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA JANGAN LUPA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
TIN!
TIN!
Suara klakson terdengar dua kali berbunyi, yang mana membuat Nenek yang sedang berada di belakang mengerutkan keningnya. Dia memastikan dahulu siapa yang datang. “Nak Ares?”
“Nek,” ucap Ares dengan bangganya datang dan memberi salam pada orang yang lebih tua. “Cantika nya sudah siap?”
“Sebentar ya Nenek panggil dulu, ayo ke dalam dulu. Masa ganteng ganteng di luar.”
“Apalagi kalau di dalam, kan sayang kegantengannya disembunyikan terus.”
“Oh iya ya, sebentar ya,” ucap Nenek yang segera masuk ke dalam menemui Cantika. Dia ke kamar cucunya, tapi tidak mendapatinya di sana. “Cantika?”
“Di dapur, Nek.”
Sang Nenek ke dapur untuk mengecek, dan terlihat Cantika yang sedang membereskan cabai. “Nanti Kakek yang akan membawanya ke pasar, sudah sana berangkat. Ares menunggumu di depan.”
“Ares? Dia ke sini lagi?” gumam Cantika bingung. “Tapikan biasanya juga Cantika yang membawanya.”
“Kakek sekarang mengurangi jam kerjanya di museum, jadi dia yang akan membawanya.”
“Cantika, temanmu sudah menunggu,” ucap sang Kakek yang sedang membaca Koran sambil meminum kopi, tidak lupa bako yang selalu menemaninya.
“Iya, Kek.”
“Apa kalian benar benar tidak pacaran?”
“Nenek.”
“Tapi Ares tampan. Nak, kau normal ‘kan?”
“Nenek,” ucap Cantika yang tidak suka, dia segera mencium pipi neneknya. “Cantika berangkat ya.”
Tidak lupa Cantika juga melakukan hal yang sama pada Kakek dan Mamanya yang sedang bersiap siap. Biasanya sang Mama akan dibawa jalan jalan oleh Neneknya di sekitaran kompleks ini atau sekedar di kebun setiap paginya.
“Ma, Cantika berangkat ya.”
“Sama Ares?”
“Iya.”
“Kalian pacaran?”
“Ya ampun, Ma. Jangan mulai deh,” ucap Cantika tidak suka.
“Kenapa tidak pacaran? Kan anak Mama menyukainya sejak dulu.”
“Ck, Mama jangan lupa nanti minum obat ya. Cantika berangkat dulu.”
“Cantiknya dulu gimana?”
Cantika seketika menunjuk kedua pipinya dengan telunjuk sambil memejamkan mata dan berkata, “Piyak.”
“Ah…. Anak ayam Mama lucu sekali.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
“Kenapa kau sangat lama?” tanya Ares menatap Cantika. “Dia berangkat pagi sekali.”
“Siapa? Laura?”
Ares mengangguk. “Aku melihat mobilnya keluar tadi.”
“Lagipula aku tidak menyuruhmu menjemputku, Ares,” ucap Cantika menerima helm yang biasa dia pakai kemudian naik. Sambil menggerutu karena merasa tergesa gesa sebelum akhirnya Cantika tersenyum lebar. “Tapi karena kau tampan, aku maafkan.”
“Nah, baru saja akan aku ingatkan akan ketampananku ini,” ucap Ares kemudian menyalakan mesin motornya.
Motor sport itu membelah jalanan dengan gagahnya. Dan seperti biasa, Ares menepi untuk sarapan di bawah pohon rindang.
“Turun,” ucap Ares.
Cantika pun menurut, dan mereka duduk di bangku taman di bawah pohon dekat motor itu.
“Ini.”
“Wah, sandwich kenikmatan duniawi.”
“Sebegitu kau menyukainya?”
Ares tersenyum bangga. “Ini baru buatan ibuku, kau belum merasakan bagaimana buatanku.”
“Kau bisa memasak?”
“Centini…..,” ucap Ares penuh penekanan. “Kau pikir aku hanya bermodalkan tampang saja?”
Cantika mengangguk dengan polosnya.
“Ah, Laura bilang dia ulang tahun ke-20 tahunnya itu dua minggu lagi.”
“20 tahun?” tanya Ares terkejut. “Dia sudah tua? Apa dia bodoh?”
“Dia bilang telat masuk sekolah karena… entahlah.”
Ares mencoba membuat dirinya baik baik saja. “Tidak apa, umur hanya angka. Pantas saja dia terlihat lebih dewasa. Dan dua minggu lagi?”
Cantika mengangguk.
“Kau tahu apa yang disukainya?”
Cantika menggeleng, dia sibuk memakan sandwich itu. Cantika memang memiliki porsi makan yang besar, tapi tubuhnya tetap kecil.
“Centini, berapa umurmu?”
“Aku akan berumur 16 tahun depan.”
“enam belas….?” Tanya Ares tidak peduli. “Apa kau salah masuk sekolah?”
“Aku masuk lebih awal, kau tahu itu. Awalnya hanya ikut ikutan, tapi guruku bilang aku sudah siap masuk ke sekolah umum.”
“Wah…. Aku akan berumur 18 sebentar lagi. Kau masih bocah rupanya,” ucap Ares sambil berdiri dan melangkah.
“Kau mau kemana?” tanya Cantika panic.
“Tunggu di situ.”
Cantika ditinggalkan bersama dengan motor besar. Tidak mempedulikan Ares, Cantika tetap memakan sandwich buatan mommy Ares itu. “Astaga, rasanya sangat enak. Apalagi sambil memandang wajah tampan Ares, sayangnya pria itu hilang. Apa yang akan dia lakukan?”
Dan tidak lama kemudian, Ares kembali membawa kantong kresek berwarna putih.
“Dari mana?”
“AlfaMart,” jawab Ares mengeluarkan susu kotak. “Minum ini, kau masih dalam pertumbuhan. Pantas saja kau sangat pendek.”
Cantika menerimanya, tapi dengan sedikit keraguan.
“Kenapa?” tanya Ares sambil menusuk susu miliknya.
“Aku tidak terlalu suka rasa cokelat.”
“Bagaimana dengan rasa strawberry?” Tanya Ares menatap miliknya.
Cantika mengangguk.
Dan tanpa basa basi, Ares menukarnya dengan mengambil susu itu dari tangan Cantika. “Minum yang ini.”
Keduanya menikmati susu mereka sambil melihat kendaraan yang lewat di pagi yang sibuk.
“Kau lebih muda dua tahun dariku, pantas saja pendek.”
“Aku akan tumbuh seiring berjalannya waktu.”
Ares menggeleng, kemudian bergumam kecil, “Tapi porsi tubuh itu sudah cocok untukmu.”
“Apa?”
“Tidak ada,” jawab Ares seketika.
Dia kembali menelan susu itu dengan cepat. Sebenarnya Ares tidak terlalu suka susu, tapi ada sedikit kekhawatiran jika tinggi Cantika tidak semungil itu lagi. Maka dari itu, untuk membuatnya tetap terlihat kecil, Ares juga harus tetap tumbuh tinggi.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE