
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN BACA KARYA RECEH EMAK INI YA.🌹
Ares berhenti tepat di depan rumah Laura, tapi mesin motornya tidak dimatikan mengingat dia akan menjenguk sosok yang biasanya mengganggunya akhir akhir ini.
“Kau tidak akan turun?” tanya Ares ragu.
Laura menggeleng, dia malah melingkarkan tangannya di perut Ares dengan erat. Ini aneh untuk Ares, dan tidak nyaman, dan canggung, sungguh Ares heran apa yang terjadi dengan Laura yang terlihat berlebihan dalam segala hal jika bersama dengannya.
“Aku akan ikut menjenguk Cantika, bawa aku ke sana.”
“Baiklah, tapi jangan memelukku seperti itu, aku tidak bisa membedakan mana manusia dan ular piton,” ucap Ares mengatakan apa yang ada dalam pikirannya tanpa memikirkan Laura yang berdecak kesal.
Perempuan itu mendengus sambil mengerucutkan bibirnya kesal, dia hanya memegang baju Ares saat motor kembali melaju dan berhenti di bawah pohon mangga yang rindang.
Ares membuka helmnya, merasa itu menyakitinya. “Apa kepalaku membesar?” gumam Ares pada dirinya sendiri. “Apa itu akan berpengaruh pada ketampananku?”
“Kau bilang apa?” tanya Laura.
“Aku bicara sendiri,” jelas Ares hendak melangkah menuju pintu masuk, tapi terhenti karena sebuah mangga muda jatuh tepat di depan matanya, dan membuatnya terkejut seketika. “Ya tuhan, apa itu?”
Ares mengadah menatap ke atas, mulutnya terbuka melihat sosok yang sedang tersenyum di sana.
“Hallo, kenapa kalian ke sini?”
“Hei! Apa yang kau lakukan di atas sana? Bukankah kakimu sakit? Turun! Cepat turun!”
Laura menatap heran Ares yang terlihat seperti ibu ibu kompleks yang berteriak mengejar tukang sayur.
“Turun! Kau ini sedang apa huh?!”
“Aku sedang memetik mangga,” ucap Cantika dengan santai, dia bergerak perlahan untuk turun dengan mata focus pada kakinya.
“Hei! Hei! Hei! Melompatlah dan aku akan menangkapmu, kakimu masih sakit bukan?”
Laura yang muak itu berkata, “Ares, sudahlah. Hentikan, dia baik baik saja.”
“Centini apa kau tidak punya telinga? Melompat dan aku akan menangkapmu.”
“Ares, dia bukan anak kecil.”
Akhirnya Ares membalas tatapan Laura sambil mengatakan, “Dia anak kecil, usianya masih lima belas tahun.”
Jujur saja Ares khawatir, yang mana membuatnya merentangkan tangan berjaga jika Cantika tiba tiba jatuh dan kembali merasakan sakit.
“Aku sudah besar, jangan khawatir,” ucap Cantika masih menuruni dahan satu persatu.
“Lompat!” teriak Ares merasa ngeri saat dahan yang diinjak Cantika itu terlihat rapuh. “Aku akan memanggil polisi jika kau tidak melompat!”
“Ahhhh! Ulat!” teriak Cantika melompat seketika.
Tubuh berotot Ares dengan sigap menangkap Cantika hingga gadis itu mendarat di gendongannya seperti gaya pengantin baru menuju kamar. “Lihat, sudah aku katakan. Telingamu dimana?”
Cantika yang mendapat tatapan mematikan dari Laura itu segera berdehem dan turun dari pangkuan Ares dengan paksa, Cantika beberapa kali memukul dada pria itu agar melepaskannya.Â
“Kau ini kenapa malah memukulku?”
“Kenapa kalian ke sini?”
“Kenapa kau marah?” gumam Cantika. “Ayo mas⸻akhh!” cantika berteriak saat kakinya terasa sakit ketika melangkah.
Yang mana membuat Ares tertawa puas. “Sudah kubillang kau tetap dalam gendonganku, kemana telingamu, Centini?”
Dan Laura hanya mengepalkan tangannya di sana melihat Ares melangkah dengan Cantika yang ada dalam gendongannya.
“Kenapa kau berdiri di sana? Apa kau kram?” tanya Ares pada Laura.
“Aku akan menyusul kalian.”
“Baiklah.”
Ternyata, dirinya terlalu lama mendiamkan Ares sampai pria itu kini lebih dekat dengan Cantika. Ini tidak bisa dibiarkan, Laura sudah lama mengincar pria kaya. Ares adalah pria langka. Dia tampan, kaya dan juga muda. Setidaknya Laura tidak akan malu jika berjalan jalan bersama Ares dan memamerkannya sebagai pacar, usianya masih muda. Tidak seperti mantan mantannya yang sudah tua.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
“Silahkan diminum, kalian pasti baru pulang sekolah karena memakai seragam itu ya?” tanya sang Nenek sambil membawakan air putih dan kue lapis buatannya. “Dimakan, Nak Ares, Nak Layla.”
“Nama saya Laura, Nek. Bukan Layla.”
“Maaf,” ucap Cantika langsung menyela. “Ingatan Nenekku tidak terlalu baik.”
“Iya, Laura, maaf Nenek lupa. Hehe, ayo dimakan, Nenek mau nganter Mamanya Cantika dulu ya.”
Ares mengangguk. “Terima kasih, Nek.”
Kini ketiganya berada di ruang tamu, Ares mendudukan Cantika di sana. Karena jika membawa Cantika ke dalam kamar dengan posisi dalam gedongan seperti itu, akan membuat sang Nenek salah penafsiran.Â
Tadi saat memasuki pintu dalam posisi digendong seperti itu membuat Nenek terkejut dan mengira kalau mereka akan melakukan hal yang tidak tidak.
“Kue ini enak. Ah iya, aku membawakan ini untukmu,” ucap Ares mengeluarkan kantong kresek putih dari dalam tasnya. “Jangan berhenti tumbuh, kau pendek sekali.”
Cantika menerima itu dan melihatnya. “Kau membeli banyak susu.”
“Anak kecil harus minum susu.”
“Terima kasih, Ares…”
“Yang…?” ares kembali menggantungkan kalimatnya secara sengaja.
“Yang tampan,” ucap Cantika yang mana membuat Ares tersenyum penuh kebanggan.
Sementara Laura di sana menatap tajam, seolah dirinyalah yang menjadi obat nyamuk. Tidak ingin Ares berlarut-larut dengan Cantika, Laura berkata, “Apakah kuenya enak?”
“Cobalah.”
“Bisa suapi aku?” tanya Laura dengan nada manja pada Ares, badannya bahkan menempel pada pria tampan itu.
Ares terdiam mencerna kalimat Laura, dia sedikit risih. Tapi tidak ingin membuat Laura malu, Ares menarik salah satu tangan Laura dan membuka telapak tangan kanan Laura. Hal tersebut disalah artikan oleh perempuan berusia 20 tahun itu, yang mana membuatnya tersenyum malu.
Namun, Ares ternyata meletakan kue lapis di sana. “Cobalah.”Â
“Apa? Aku ingin disuapi olehmu, Ares. Kau bilang ini enak.”
“Ya, tapi kau harus mencobanya sendiri, itu mungkin terasa enak karena tanganku bekas mengupil.”
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE