Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Pakaian Dalam



🌹Vote yuu🌹


Ulang tahun Lily akhirnya tiba, David sudah memesan sebuah villa di puncak untuk mereka berdua saja. Dia menyiapkan itu baru kemarin, mengingat seharusnya besok dirinya menikah.


Saat dalam perjalanan pulang bersama Holland, David mendapatkan telpon.


Dia mengerutkan kening tahu itu dari Dena.


"Mama?"


"David, apa yang kau lakukan? Apa kau gila menikah dengan wanita itu hah? Mama kira kau akan bosan dan meninggalkannya. But, kau malah menikahinya. Apa kau gila?"


"Mama, tenanglah. Lily sedang hamil, berhenti menjelek jelekannya."


"Mama tidak setuju, dan Mama tidak akan datang."


"Mama harus datang dan meminta maaf pada istriku atas apa yang Mama lakukan."


"Mama melakukan itu untukmu, dan Mama akan membawa Megan kembali ke sana agar kau tahu mana wanita yang baik dan berpendidikan."


"Hentikan, Mama."


"Kau seharusnya menurut pada Mama, jauhi wanita bodoh itu."


"Lihat rekeningmu, Mama."


Dena melakukannya lewat ponsel lain.


"Kenapa saldoku berkurang?"


"Setiap Mama menjelek jelekan Lily, aku akan mengambilnya."


"David! Its not good, iam your mother."


"Dan Lily adalah istriku, dia mengandung anak anakku. Mama, buat baik padanya, datang dan minta maaf."


"Dia wanita ular!"


Dan setiap Dena mengatakan kejelekan tentang Lily, David mengambil saldonya.


"David! Kau melakukan ini untuk wanita murahan itu?"


Uang dalam rekening Dena terus tertarik.


"Baik, baik. Aku mengerti, aku akan datang dan minta maaf," ucap Dena. Dia merasakan anaknya jauh dari genggamannya.


"Bye."


David menarik napas dalam saat telpon terputus. "Kerja bagus, Holland."


"Sesuai perintah anda, Tuan Muda."


"Kita berhenti di toko roti, aku ingin membeli sesuatu untuk Lily."


"Baik, Tuan Muda."


David pulang saat jam makan siang, sore ini dia akan membawa Lily berpergian.


🌹🌹🌹


"Sayang, aku pulang," ucap David saat tidak mendapati siapa pun di sana. "Sayang?"


"Aku di atas."


David segera naik ke lantai dua, dia melihat Lily yang berdiri dengan wajah tegang seolah menyembunyikan sesuatu. "Hai, kau datang dengan cepat."


"Itu alasan aku menyuruh Nina pulang lebih awal."


"Ah iya, aku lupa."


Lily masih berdiri di sana, dia seolah menutupi sesuatu yang ada di belakangnya. "Apa yang kau sembunyikan, Sayang?"


"Tidak ada," ucap Lily menggeleng cepat.


"Aku tahu ada sesuatu di belakangmu, apa itu."


David mendekat membuat Lily was was. Dan saat David mengintip ke belakang Lily, tidak ada apa pun di sana.


"Apa sebenarnya yang kau sembunyikan?"


Lily menunduk, dia tidak bisa berbohong. Maka darinya dia menyeret sesuatu dari bawah ranjang dengan kakinya.


"Apa itu?"


"Dari Marylin."


David mengerutkan kening, dia mengambil dan membukanya. Matanya membulat melihat apa yang ada di dalamnya. Itu pakaian dalam untuk ibu hamil dengan renda hitam yang menggairahkan.


"Kau memesan ini pada Marylin, Sayang?"


"Celana dalamku hilang, maka darinya aku memesannya lagi pada Marylin."


"Bu… bukan seperti itu, David."


"Aku tahu kau ingin aku hanya menatapmu bukan? Apalagi dengan pakaian dalam baru yang penuh renda dan berkilauan."


"Aku memesan yang biasa pada Marylin, tapi dia malah memberikan ini."


"Sayang.." Senyuman David tidak putus. "Aku tahu kau ingin membuat suamimu yang tampan dan kaya ini hanya tertuju padamu, apalagi renda dan celana dalam ini transparan. Sangat seksi untukmu."


Pipi Lily memerah, dia bingung bagaimana cara menjelaskannya. 


"Marylin mendesainnya seorang diri."


"Kau benar benar pandai, Sayangku. Malam ini kita akan pergi ke puncak. Kita akan berakhir pekan di sana. Aku yakin kau tidak sabar menggunakan celana dalam ini bukan?"


"David…. Bukan begitu."


"Ya, ya, aku tahu. Aku juga cinta padamu."


🌹🌹🌹


Lily berbenah untuk bersiap menuju villa di puncak, akhir pekannya akan sangat berharga di sana.


"Biarkan aku saja, Sayang."


"Aku tidak berlari, tidak apa."


"Kalau begitu aku akan siapkan makan malam, kita ke sana dengan perjalanan malam. Bagaimana?"


Lily mengangguk saja setuju.


Dia memasukan beberapa pakaian santai David dan tidak lupa pengaman. Karena Lily yakin, David pasti tidak akan tinggal diam di sana.


Lily senang bukan kepalang, pasalnya dia akan merasakan suasana desa yang menyejukan. Villa yang katanya ada diantara hutan dan sawah, membuat Lily tidak tahan untuk ke sana dan bergabung dengan penduduk pribumi.


Mencium aroma masakan yang enak, Lily bergegas mengakhiri pengemasan baju David. Dia turun dan mendapatkan suaminya sedang membuat mie soba dengan berbagai macam sayuran.


"Makanan sehat untuk bayi bayi kecil kita."


Lily tersenyum bahagia. "Terima kasih."


Sampai mata Lily melihat tumpahan minyak. Membuat David bergegas mengakui, "Maaf, Sayang, aku menumpahkan minyak zaitun milikmu."


"Tidak apa, akan aku bawa lap dulu."


"Saat kau datang makanan akan siap."


Lily tersenyum malu, dia melangkah setelah menyelipkan rambutnya ke belakang.


Peralatan kebersihan ada di ruangan khusus. Saat Lily hendak membawanya, dia melihat ada sebuah kantong kertas yang asing. Lily melihatnya, dan alangkah terkejutnya dia melihat itu adalah celana dalamnya yang hilang.


Saat itu juga Lily menelpon Nina.


"Hallo, Nina. Kau di mana? Bisakah kau datang?"


"Saya akan datang secepatnya, Nyonya Muda."


Lily tidak bisa menahan kekesalannya, pasalnya celana dalam berenda itu adalah yang paling normal daripada yang transparan sekarang ini.


Lily bergegas keluar apartemen saat Nina mengiriminya pesan.


"Kau mau ke mana, Sayang?"


"Menemui Nina di luar, ada yang dia lupakan."


"Jangan lama, makan malam sudah siap."


"Baik."


Lily keluar, dia melihat Nina masih dengan kostum hitamnya. "Nina, aku menemukan pakaian dalamku di lemari barang, apa kau yang menyembunyikannya?"


Nina tergagap seketika. Membuat Lily semakin curiga. "Apa yang kau rencanakan? Lekas jelaskan padaku."


"Nyonya… itu…"


"Katakan, Nina. Jangan buat aku salah paham."


"Eum… maaf, Nyonya. Mesin cuci yang menyebabkannya."


"Apa?" Lily kebingungan.


"Saya adalah mantan koki, pengacara dan juga ahli bela diri. Tapi saya tidak terlalu pandai dalam bersih bersih, begitu pun dengan mencuci. Saya memisahkan pakaian dalam dengan pakaian lainnya guna lebih bersih. Sayangnya mesin cuci itu bergerak tidak karuan dan membuat pakaian dalam anda rusak."


Lily diam seketika. "Itu alasannya aku mendengar suara gaduh dari ruangan mencuci?"


"Ya, itu juga alasan saya selalu mengganti pakaian. Saya selalu memeluk mesin cuci saat beroperasi agar diam dan tidak menimbulkan suara."


🌹🌹🌹


tbc...