Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Pengaruh Buruk



🌹VOTE🌹


"Lily? Bagaimana kondisimu?"


"Membaik, Oma," ucap Lily mendudukan dirinya. Dia menerima air jahe hangat dari Eta dan meminumnya. "Terima kasih, Eta."


"Sama sama, Nyonya. Ada lagi yang anda inginkan?"


Yang menjawab malah Oma. "Ya, bawakan cemilan hangat."


"Baik, Nyonya Besar."


"Tidur saja lagi," ucap Oma memerintah, Oma duduk di pinggir ranjang dan mengusap kaki Lily.


"Jangan lakukan itu, Oma."


"Diamlah, tidak apa," ucap Oma menarik kaki Lily untuk dia pijit. "Kau akan merasa baikan jika dipijat seperti ini."


"Ini tidak sopan, Oma."


"Tidak, kau tidak sopan jika membantah Oma."


Lily akhirnya memilih diam, dia melihat Oma yang memijat kakinya yang tertutup selimut. Lily tidak pernah merasakan ini sebelumnya, sebuah perhatian dari keluarga. "Terima kasih, Oma."


"Berhenti berterima kasih, Oma adalah nenekmu, wajar jika merawat cucunya."


Lily tersenyum senang, dia baru saja selesai diperiksa oleh dokter pribadi keluarga Fernandez.


"David saat sakit lebih parah, dia selalu meminta Oma memijit semalaman."


"Be… benarkah?"


"Ya, esoknya David langsung membelikan Oma emas batangan begitu banyak."


Lily paham.


"Ini cemilan anda, Nyonya."


Oma menjawab, "Bawa masuk, Eta."


Menyimpannya di nakas.


"Ayo bangun, Lily. Kau harus punya banyak tenaga."


"Baik, Oma."


Memakan kue kering yang baru saja terangkat dari oven, Lily sangat menikmati.


"Ini adalah kue kesukaan anakku, tidak sangka kau juga menyukainya."


"Ini sangat enak, Oma."


"Ya, Oma tahu. Ingat kata dokter, Lily, kau tidak boleh tidur terlambat. Tolak David secara halus."


Lily mengangguk malu-malu. "Baik, Oma."


Keduanya bercengkrama ringan sampai kelelahan, sampai akhirnya Lily terlelap karena usapan Oma di kepala. Oma menatap Lily penuh kasih sayang. "Istirahatlah, Oma tahu kau mengalami banyak kesulitan menghadapi David."


Oma keluar kamar dan menuju lantai satu, dia bingung melihat David yang sudah pulang. "Sudah pulang? Ini baru pukul empat."


"Ada sedikit masalah."


"Kenapa dengan rambutmu yang basah dan bersinar?"


David mengembungkan pipinya. "Di mana Lily?"


"Sedang tidur. Dia istirahat."


"Aku akan naik."


"Tunggu, David! David!"


David berbalik, dia mendekati Oma. "Apa, Oma?"


"Kau tahu alasan Lily sakit?"


"Tidak."


"Dia kelelahan. Kau selalu membuatnya bergadang."


David diam, dia merasa melakukannya.


"Jangan lakukan itu lagi, mengerti?"


"Baik, Ibu Ratu."


"Hei! Oma belum selesai bicara! David!"


Sayangnya David sudah naik lift dan masuk kamar. Dia hendak marah pada Lily, tapi melihat tubuh kecilnya terbaring lemah di atas ranjang membuat David diam. Sesuatu yang membara dalam jiwanya langsung padam seketika.


Dan cara mengalihkan amarah itu, dengan menjawab telpon Sebastian.


"Hallo, Bas?"


"Datang ke sini, aku punya wanita malam untukmu."


David menyeringai. "Aku akan datang."


Dia mengganti pakaiannya dengan kaos dan mantel. David segera keluar kamar tanpa bicara apapun lagi. Di pintu keluar, sudah ada Oma yang mencegat dengan tangan tersilang di dada.


"Mau ke mana kau?"


"Permisi, Oma Sayang."


"Kau akan bertingkah lagi?" Tanya Oma meninggikan suara.


"Aku hanya hendak ke apartemen Sebastian."


"Tidak," cegat Oma. "Jika kalian akan ke apartemen, maka kalian akan berakhir di hotel."


"Tidak seperti itu, Oma…"


"Jangan pergi! Kasihan Lily, ayolah, David. Lihat istrimu sedang sakit."


"Oma…." David mendekat dan memberikan ciuman di pipi. "Aku pergi, Bye."


"Anak tengik! Akan Oma kutuk kau! David kemari! Jangan lari! David!"


🌹🌹🌹


Lily terbangun, hal yang dia lihat pertama kali adalah pakaian bekas yang berserakan. Menandakan David sudah pulang. Lily yang merasa baikan langsung beranjang, memunguti pakaian kotor dan bersiap untuk makan malam.


Dipikirnya David sudah ada di bawah bersama Oma, sayangnya Oma mempersiapkan makan malam hanya bersama Eta.


"Oma….?"


"Lily Sayang, kau sudah mendingan?"


Lily mengangguk. "Apa Oma melihat David?"


"Oma….?"


"Dia masih ada beberapa hal yang harus dia urus, jadi kembali ke luar."


Lily mengangguk paham.


"Apa dia akan makan malam di sini?"


"Sepertinya di luar."


Lily mengerucutkan bibirnya.


Oma segera mengalihkan pembicaraan. "Sudah makan obat sebelum makan?"


"Sudah, Oma."


"Apa yang ingin kau makan?"


Lily diam, dia ingin memasak setelah menanyakan kalimat itu pada David. Seharian Lily tidak membantu pria itu, dan sekarang hilang begitu saja. "Nasi hangat dan sayur bening saja, Oma."


"Eta! Buatkan itu!"


"Baik, Nyonya Besar."


"Duduklah di sini, Sayang. Ayo duduk," ucap Oma.


Dan makan malam kali itu, hanya ada Oma dan Lily.


"Oma… kemanakan barang-barang dari Pangandaran?"


"Ck, Davi tidak tahu diri, kenapa kau membiarkan dia membeli semuanya, Lily?"


"Maaf, Oma."


"Barang itu Oma jual kembali."


"Oma jual?"


"Ya, di toko serba ada. David sering seperti itu, saat dia kesal dia malah membeli semua barang dan menyerahkannya pada Oma. Alhasil Oma membuat toko barang serba guna."


Lily tersenyum kecil. "Maaf tidak menghentikannya, Oma. David begitu tidak bisa dihentikan."


"Bagaimana lagi, oh ya… setelah ini minum susu kehamilan ya?"


Lily tersedak.


"Kenapa kau makan dengan cepat? Minum, ayo minum."


Lily minum. "Susu kehamilan, Oma?"


"Ya, kau pikir susu apa yang Oma berikan padamu setiap waktu? Itu susu penyubur."


Lily diam malu.


"Kau akan membuat keturunan Fernandez, Lily. Jika sudah sembuh, kau bisa melakukannya tiap waktu bersama David. Tapi ingat jam yang diberitahu dokter, jangan melebihi 3 jam."


"I… iya, Oma."


"Oma heran, bagaimana kau bisa bertahan dalam waktu 7 jam di serang oleh David?"


Pertanyaan yang membuat Lily malu, kenyataannya saat itu tangannya yang lemah terus mendorong dada David untuk menghentikan. Namun tenaga David jauh lebih kuat, dan pria itu juga menemukan titik kelemahannya.


"Lain kali gunakan alarm, jika berbunyi waktunya berhenti."


"Ba…. Baik, Oma…."


🌹🌹🌹


Sesampainya di apartemen Sebastian, David turun dari mobil. Perkiraannya Luka juga ada di sana, kenyataannya tidak.


"Di mana Luke?"


"Menyiapkan pernikahannya mungkin."


"Ck, melihat wanitanya saja belum."


"Kenapa? Kau ingat batasnya. Jika kau tidak melakukannya sampai Luke menikah, kau kalah, David."


"Aku tidak terkalahkan," ucap David membuka sebotol alkohol dan menuangkannya di gelas. "Apa yang ingin kau beri tahu?"


"Ayo ke klab malam, banyak wanita baru di sana."


"Wanita macam apa?"


Sebastian mengangkat bahunya. "Wanita penjilat kurasa. Kau akan suka, David. Mereka semua dari timur."


David menyeringai.


"Ngomong ngomong, bagaimana kondisi istrimu?"


"Masih sakit. Tapi sudah mendingan."


"Ahhh… aku tahu alasan kau datang kemari."


Keterdiaman David yang sibuk dengan minuman menjawab semuanya.


"Aku yakin kau akan suka, aku sudah memboking tiga wanita paling panas."


"Well… kita lihat nanti…"


Tidak lama kemudian, pintu apartemen terbuka.


"Luke? Kenapa kau terlambat? Mengurus pernikahan?" Tanya Sebastian dengan nada bergurau.


"Tentu tidak, aku baru selesai dipijat, badanku pegal."


"Pijat? Astaga….," Gumam Sebastian.


Hingga Luke menangkap sosok David. "Kenapa kau di sini, David?"


"Kenapa memangnya?" Tanya David.


"Tidak, hanya saja…. Kau meninggalkan istrimu sendiri?"


Sebastian tertawa. "Ayolaaah, kenapa kalian memperdebatkan status di rumah? Kita akan ke luar sana dan bersenang-senang, aku sudah menyewa wanita. Bukan begitu, David?"


David mengangguk.


Disadari atau tidak, Sebastian membawa dampak buruk bagi hidupnya.


"Ayo berangkat dan manjakan harta karun kita," ucap Sebastian memimpin.


🌹🌹🌹


TBC...