Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



Malam itu Ares bersenang-senang dengan kekasihnya. Meskipun ada dua orang yang terus mengikuti, yaitu kedua adiknya yang terus saja menggoda. Seperti kalimat-kalimat ini ;


"Kak Cantika kenapa mau dengan Abang Ares? Dia kan bodoh, petakilan, aneh, modal tampang doang."  Alden yang mengatakannya.


"Gak tau tuh, padahal nggak ada bagus-bagusnya juga. Cuma modal tampang doang sih, otaknya udah karatan."


Karena kesal dengan mereka berdua, Ares mengeluarkan kartu kreditnya dengan berkata, "jajan ya kalian, silahkan. Tapi jangan ganggu kita."


Kemudian menarik tangan Cantika untuk melangkah pergi dari ke-2 orang tersebut.


"Apa mereka akan baik-baik saja ditinggal seperti itu?"


"Nerhenti menghawatirkan mereka Cantika, mereka sudah mendapatkan kartu kredit ku."


"Lalu kita akan kemana sekarang?"


"Cari tempat, untuk pacaran," ucapan Ares yang membukakan pintu mobil.


"Kita akan pergi? Kau tidak bercanda bukan? Apa kita akan meninggalkan mereka?"


"Mereka bisa pulang dengan taksi. Ayolah kita masuk dan bersenang-senang," ucap Ares dengan tatapan memohon.


Terpaksa Cantika masuk ke dalam sana meskipun dirinya khawatir setengah mati dengan Athena dan juga Alden. "Kita akan pergi kemana?"


"Tempat yang sepi untuk pacaran?"


"Mau apa? Kau tidak akan melakukan sesuatu yang aneh bukan?"


Ares tertawa mendengar pertanyaan Cantika. Gemas setengah mati pada kekasihnya itu. Karena pada kenyataannya mereka berdua Sebuah taman hiburan.


"Naik kincir mau? Kau tidak takut ketinggian kan. Meskipun takut, aku akan selalu berada disampingmu. Pria tampan tidak pernah meninggalkan kekasihnya."


Cantika hanya tertawa sebagai balasan, dia membiarkan Ares menggenggam tangannya.


"Bagaimana kalau kita beli popcorn terlebih dahulu? Supaya di atas sana Ada hal yang bisa kita kerjakan. Jika tidak, aku mungkin akan menciummu."


"Ayo kita beli popcorn." ucap Cantika menarik dengan Ares.


Membuat pria itu tertawa karena tingkah gemas kekasihnya. Mereka membeli popcorn terlebih dahulu sebelum akhirnya naik ke dalam Bianglala. Kota Jakarta dari atas terlihat lebih indah.


Keduanya sama-sama terdiam, Cantika menatap langit yang bertaburan Bintang. Sedangkan Ares memandang gadis yang ada di depannya itu. "Sebenarnya aku merindukanmu mommy dan Deddy."


Cantika menoleh. "Lalu kenapa kau tidak menyusul mereka saja jika akhir pekan nanti?"


Bukannya menjawab, Ares malah menarik tangan Cantika kemudian menyatukan bibir keduanya. Menggoreskan sebuah kenangan indah bagi perempuan itu.


Sengaja Ares mematikan teleponnya supaya tidak mendapat gangguan dari adik-adiknya. Semalaman dia bermain bersama dengan Cantika, kuliner malam hingga membuat anak gadis itu baru sadar kalau ini sudah larut malam.


"Bagaimana kalau kakek memarahimu?"


Yang Cantika khawatir kan bukan dirinya sendiri, melainkan Ares. 


"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa berdebat."


"Aku serius, Ares, kakekku sepertinya akan memarahimu." dan kenyataan itu pun terjadi ketika mobil memasuki pekarangan rumah. Dimana Cantika melihat kakeknya udah duduk yang ada di teras depan. "Ares....., kakekku membawa sapu yang panjang. Bagaimana jika dia memukulmu dan kau pulang dengan keadaan Amnesia?"


Ares hanya tertawa sebagai jawaban. "Aku mungkin Amnesia, tapi tidak akan pernah melupakanmu."


Namun gombalan Ares tidak berarti apa-apa, dirinya juga ikut takut ketika turun dari mobil dan melihat sang kakek menatapnya dengan begitu tajam.


"Malam kek, nggak ngapel sama nenek?"


Sang kaki menyipitkan matanya mendengar pertanyaan Ares. Dia memutar-mutar sapu seolah ingin menepuk kepala itu.


"Cantika, kamu masuk," sang kakek menatap cucunya.


Cantika menggelengkan kepala, dia melirik Ares. Takut kekasihnya diapa-apakan oleh sang kakek.


"Masuk cepat."


"Tidak apa-apa, kau masuk saja," ucap ares pada Cantika.


Perempuan itu menghela nafasnya kemudian melangkah mendekati sang kakek untuk berucap, "Kakek jangan apa-apain Ares, tadi Cantika yang jajan mulu."


"Sana masuk."


Akhirnya meninggalkan kedua pria yang dia sayangi.


"Kamu bawa Cantika ke mana sampai larut malam seperti ini?"


Belum juga Ares menjawab, sebuah taksi berhenti di depan gerbang rumah Cantika. Kemudian keluarlah sosok yang berteriak dengan arah sebagai objek. "Abang kurang ajar ya, Kenapa meninggalkan kami?"


Ares memejamkan matanya, Kenapa dua tuyul itu tidak pulang saja langsung ke rumah? Dan malah datang ke sini untuk ikut memarahinya?


🌹🌹🌹


To be continue