
🌹Ajak yang lain guys🌹
"Ayo kita coba."
"Jangan sekarang," ucap Lily menahannya, dia menutup kotak itu kembali. "Nanti saja. Aku ingin berkeliling melihat lihat."
"Kita baru saja berkeliling."
"Aku belum puas," ucap Lily memajukan bibirnya.
"Tentu saja kau tidak puas, Sayang. Karena hanya aku yang bisa membuatmu puas. Kau paham?"
"Nanti saja… ya…."
Dan saat mereka sedang berdiskusi kapan akan memakai pengaman tuxedo, ada seseorang yang menekan bel dari luar. David bergegas untuk membukanya.
"Ini kiriman dari Marylin, Tuan," ucap penjaga villa di sana.
"Baik."
David segera membawanya ke dalam.
"Apa itu?"
"Celana dalammu, kupikir." Saat David membukanya, ternyata benar itu celana dalam baru. "Coba pakai."
Lily melihatnya, matanya membulat tidak menyangka. Celana dalam ini lebih parah, mereka berkilauan.
"David."
David malah terkekeh. "Coba, setidaknya tidak banyak ventilasi di sini."
"Nanti saja."
"Aku juga akan buka baju."
Lily berpaling saat David membuka bajunya dan menyisakan boxer saja. Pipinya memerah melihat liatnya kulit perut David.
"Ayo, Sayang. Ganti dengan yang itu."
"Aku akan menggantinya di kamar mandi."
"Baiklah," ucap David menunggu di atas ranjang.
Sebelumnya dia membuka tirai agar semua cahaya matahari pagi masuk. Mengingat dinding villa di dominasi kaca, David merasa dia ada di tengah hutan dan persawahan.
Sementara itu di kamar mandi, Lily masih ragu mengenakan pakaian yang berenda dan berkilauan. "Kenapa Marylin tidak pengertian? Malah membuat David bahagia dengan aku memakai ini."
Apalagi bagian bra nya, ada banyak berlian di sana. Warna merah menyala yang membuat kulit Lily terlihat jelas.
"Sayang?"
Lily masih ragu untuk berhubungan badan, pasalnya perutnya semakin membesar dan dia merasa pengab jika tidur terlentang.
"Sayang?"
"Sebentar," ucap Lily mengganti pakaian dalamnya.
Saat keluar, dia melapisinya dengan gaun.
"Kenapa pakai gaun? Buka bajumu, Sayang."
"A…. Itu…. David, kupikir aku tidak ingin berhubungan badan sekarang."
"Aku tahu."
"Kau tau?"
"Ya."
"Lalu kenapa menyuruhku membuka pakaian?"
"Kau harus berjemur di bawah sinar matahari. Akan bagus tanpa sehelai benang pun, tapi untuk berjaga jaga, ayolah."
Lily akhirnya menerima, dia membuka pakaiannya dan bergabung tidur di bawah hujan cahaya matahari.
"Enak bukan?"
Lily mengangguk, dia membelakangi David yang terus mengusap perutnya dan mencium punggungnya.
"Jika nanti kita datang ke sini lagi, aku harap bayi bayi kita sudah lahir dengan selamat. Akan menyenangkan menjemur bayi bayi di sini, tempat ini sangat sunyi."
Lily tidak terlaly mendengarkan, dia menutup mata akibat mengantuk.
Menyadari itu, David mengambil penutup mata dan menggunakannya pada Lily.
🌹🌹🌹
"Ayo masuklah."
Lily menggeleng malu, kolam renang itu ada di pinggir balkon yang menghadap ke hutan. "Nanti ada orang melihat."
"Ini tidak sopan."
"Sayang, mereka ada di bawah, tidak selamanya akan mengadah. Ayo masuk, belajar berenang bersamaku."
Lily akhirnya mau, dia membuka kimono nya yang memperlihatkan bikini ibu hamil yang seksi buatan Marylin. Bahkan David menelan ludanya kasar.
Dia mendekat menerima tubuh sang istri yang masuk ke dalam air.
"Astaga…."
"Hangat bukan?"
Lily mengangguk, rasanya menyenangkan merasakan kehangatan dari air dan pelukan David.
"Kemarilah."
"Aku tidak mau ke tengh, itu dalam."
"Aku akan selalu bersamamu, percaya padaku."
"Dadaku terasa sesak."
"Itu bagus, dadamu harus terendam di air, bukan di dalam lidahku saja."
Pipi Lily memerah seketika, bagaimana bisa David mengatakan hal sefrontal itu.
Semakin ke tengah, Lily semakin memeluk leher David erat.
"David…"
"Tidak apa, ayolah."
Lily yang merasa kesal karena dipaksa itu akhirnya berkata dengan pelan, "Kau tidak apa karena kakimu panjang. Sedangkan aku pendek, perutku berat jadi terus saja ke bawah."
"Apa kau mengatakan sesuatu, Sayang?"
"Di pinggir saja, ayo. Aku ingin melihat para petani bekerja."
"Kau bilang tidak ingin terlihat oleh mereka."
Alasan Lily mengubah rencana dan keinginan karena David selalu mencari kesempatan. Seperti sekarang, Lily memeluknya erat karena sulit sekali mengabang, dan David memanfaatkannya dengan memegang beberapa bagian tubuh Lily seperti pantat.
"Ke sana saja, duduk di sana."
"Setidanya kau harus belajar, ayo lepaskan tanganmu."
"Tidak mau!"
"Sayang, aku ada di depanmu."
"Tidak….."
Dan David melepaskan pegagannya pada Lily, membuat perempuan itu tenggelam selama beberapa detik sebelum David menggendongnya dengan cara mengangkat pinggang Lily.
Lily menarik napas seketika, sekujur tubuhnya basah. "David……," rengeknya menahan tangis.
"Tidak seburuk yang dipikirkan bukan?"
"Telingaku kemasukan air."
David segera membawanya ke pinggir, mendudukannya di bibir kolam sementara dirinya masih di bawah di antara kaki Lily.
Tangan David mengusap wajah istrinya. "Maaf, Sayang. Aku tidak ingin kelemahnmu dijadikan bahan candaan untuk orang lain, kau harus bisa menguasainya."
Lily terbatuk batuk saat tangan David mengusap pipinya.
"Agak mendingan?"
Lily megangguk.
"Bisa beri aku ciuman?"
Lily diam sejenak. Membuat David segera melanjutkan. "Ehem ehem ehem ehem."
Mata Lily membulat.
"Kau masih ingat kode itu, Sayang?"
Masih kesal dan marah, Lily merangkup pipi David lalu memberinya kecupan. Dan di kecupan keempt, Lily menggigit bibir bawah suaminya sebagai tanda dirinya kesal.
Namun, itu disalah artikan oleh David. Dia menyeringai, "Kenapa kau tidak bilang ingin bermain di ranjang, Sayang? Kalau begitu aku akan memakai pelindung tuxedoku. Ayo."
"Bu--bukan begitu."
🌹🌹🌹
David yang keluar dari kolam renang.