Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Dibawah Awan



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, SAYANG KALIAN SEMUA.🌹


Pada akhirnya setelah perdebatan yang begitu panjang antara Ares dan Athena yang menyebabkan keduanya sampai saling marah itu, Lily memutuskan untuk tidak menggunakan huruf R dalam bayi yang akan dia lahirkan nanti. Dan namanya akan diambil dari salah satu pilihan Ares, tapi tidak menggunakan huruf R.


“Sudah, jangan menangis…. Ares sudah meminta maaf bukan?”


Athena masih menangis tersedu sedu, yang mana membuat Lily memeluknya erat. Begitupun dengan Ares yang kini sedang marah karena dipukul Athena sedang berada dalam pelukan daddy nya.


“Kau juga harus minta maaf pada Ares, sayang. Ayo kita lakukan.”


Athena menggelengkan kepalanya enggan melakukan hal itu, biar saja Ares dipentung. Toh dia memang salah karena terus mengerjainya dengan membuatkan nama yang di dalamnya terdapat huruf R. itu benar benar membuat Athena sangat kesal sekali.


“Sayang…, jangan seperti ini. lihat kepala Ares, dia kesakitan karena pukulanmu.”


“Itu salahnya kalena telus mengejek Thea.”


“Oke oke,” ucap Lily tidak ingin membahas lebih dalam, dia memberikan tatapan pada David sebagai tanda agar dirinya segera membawa Ares pergi.


Begitulah jika mereka bertengkar, keduanya dipisahkan dahulu dan dipertemukan lagi jika keadaan sudah membaik. Satu kekhawatiran Lily, semoga saja anak yang ada di dalam kandungannya tidak menuruni sifat David ataupun Oma. Lily benar benar memohon pada Tuhan agar anaknya yang akan lahir memiliki sifat pendiam dan tidak membuat kerusuhan seperti saudaranya yang lain.


“Kita mau kemana, Dad?” tanya Ares saat David membawanya keluar villa.


“Ayo jalan jalan di pantai, Daddy akan membelikan sesuatu untukmu.”


“Oke,” ucap Ares yang masih kesal. Dia menyandarkan kepalanya di dada sang ayah, yang mana membuat Ares merasakan hembusan napas David yang hangat menyapunya.


david sedikit kesulitan menggendong Ares, putranya ini memiliki tinggi badan diatas rata rata anak seumurannya. Benar benar duplikat dirinya yang memiliki tinggi badan yang tegak.


Sampai David menurunkannya di salah satu tempat makan. “Ingin pesan apa?”


“Ares ingin ke sana.”


“Iya, kita membeli dulu ini.”


“Tapi nanti ke sana.”


“Ini, mainkan dulu ponsel Daddy,” ucap David memberikan benda pipih itu dan membiarkan Ares membuka aplikasi video anak anak. Yang mana membuat Ares langsung diam seketika.


“Tapi Daddy….”


“Kenapa?”


“Ares ingin poop.”


“Astaga!”


“Ares ke villa ya, nanti ke sini lagi.”


“Tau jalannya?”


“Itu dekat, jangan khawatir. Lagipula Ares pandai bela diri dan juga sudah deasa,” ucap Ares melangkah sambil memegang ponsel David, matanya tidak bisa lepas dari video kartun yang dia sukai. Sementara tangannya yang lain memegang pantatnya menahan mulas yang melanda.


“Hati hati!” teriak David begitu Ares semakin jauh dan membuatnya tidak terlihat lagi.


Namun, rasa mulas itu hilang tatkala Ares melihat banyak orang memainkan layangan di atas awas. Juga pantai yang begitu bersih dan tidak terlalu ramai. “Woaahh…. Keren.”


🌹🌹🌹🌹


Setelah memesan ice cream, David buru buru kembali ke villa untuk memastikan Ares sudah sampai di sana. Dia membawa dua cup ice cream ke sana dengan cukup kesusahan.


“Aduh anak itu,” gumam David melampiaskan kekesalannya.


David memasuki satu persatu ruangan, tidak ada siapapun di sana. Sampai dia mendengar suara tawa dari bawah, ternyata Athena, Lily dan Oma sedang merasakan terapi ikan sambil memakan camilan.


David segera menyimpan ice cream ke dalam kulkas kemudian melangkah mendekati mereka yang sedang berkumpul bersama.


“Sayang…”


“Oh David, ada apa? Bagaimana Ares?”


David menelan ludahnya kasar, dia mulai gusar kalau Ares tidak pulang ke sini.


“Um…., apakah…”


“Katakan apa yang ingin kau katakana, David. Jangan mengganggu kami bertiga.” Oma berkata sambil memakan es buah miliknya.


“Kalian sudah lama di sini?”


“Sejak kau pergi bersama Ares, Sayang,” ucap Lily. “Ada apa?”


“Apa… Ares sudah sampai ke sini?”


Seketika Lily yang memejamkan matanya itu terbuka, dia menatap suaminya dengan penuh kekhawatiran, begitupun dengan Oma. Hanya Athena yang tetap setia pada camilan dan juga terapi ikan di kakinya.


“Apa maksudmu?”


“Tadi Ares mulas, lalu pulang lebih dulu untuk poop. Dia tidak ke sini?”


“Astaga, David. Dia tidak ke sini, bagaimana ini? apakah dia di luar sana, kita harus pergi.”


“Tunggu, Sayang,” ucap David menahan Lily agar kembali duduk. “David membawa ponselku, kita bisa menghubunginya.”


“Bagus, ponselku di kamar.”


“Akan aku ambilkan,” ucap David berlari dengan cepat.


Lily di sana hanya menatap Oma dengan penuh kekhawatiran, terlihat jelas matanya yang menahan tangis. “Omaaa…”


“Tenang, Lila. Dia tidak akan diculik, siapa yang akan menculik anak yang menahan buang air besar? Dia pasti sangat bau.”


Athena mengangguk setuju. “Iya, atau dia mungkin mencali kamal mandi di lual.”


Lily yang tidak sabaran dan khawatir itu beranjak dari duduknya.


“Mau kemana?” tanya Oma.


“Menemui David,” jawabnya yang diyakini suaminya sedang menelpon Ares di sana.


Dan benar saja, David sedang mencoba menghubungi Ares dari ponsel istrinya di kamar. Sampai akhirnya panggilan terangkat. “Hallo?”


“Ares, kau dimana? Kenapa tidak sampai di villa? Kau baik baik saja?”


“Aku baik baik saja, Daddy.”


“Kau dimana?”


“Dibawah awan yang berbentuk lucu.”


“Katakan lebih spesifik, Ares.”


“Oh, oke, itu adalah singa. Oh tidak, aku pikir bentuknya sangat mirip dengan simba.”


🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE