
🌹VOTE GAISS, EMAK CAPE INIH🌹
David mengerutkan keningnya saat Oma mengirim emoticon berjoged seolah mengejek dalam pesan.
Seperti ini :
Oma💗
12.03 P.M : Dia akan kebingungan, wuahahahhaƪ(‾.‾“)┐ ƪ(‾.‾“)┐
David berdecak. "Aku tebak pasti ada pengamen di sampingmu, Oma."
Lalu karena lama tidak mendapatkan balasan, Oma menelpon. Saat itu Lily masih di kamar mandi sedang mencuci muka, yang membuat David mengangkatnya sendiri.
"Halo, Lila, bagaimana menurutmu? Kenapa kau tidak membalas?"
David diam mendengarkan.
"Kau tahu? Oma mencarinya dengan sangat susah payah, itu barang premium hanya untukmu, agar David tidak menyeretmu kembali ke kamar."
Oma terus mengoceh. "Dan harganya tidak murah, sangaaaaatttt mahal. Tapi jangan khawatir, Oma sangat baik hati dan akan memberikanmu secara percuma. Bagaimana? Oma baik bukan?"
David diam tidak menjawab.
"Lila? Kau di sana?"
Hanya suara napas yang Oma dengar.
"Lila?"
David tetap diam.
"Lilaaaa?"
Sampai akhirnya Oma paham, dia bertanya dalam telpon. "David?"
"Bakmmmmmmm…."
"Astaga! Kau memakai ponsel Lila sejak tadi?"
"Bakmmmm…."
"Apa yang kau lakukan? Jawab Oma, kau tidak sopan."
"Bakmmmmmm…"
"David!"
"Bakmmmm…."
Dan saat itu, Lily yang keluar dari kamar mandi melihat David yang mengeluarkan kata yang aneh.
"David!"
"Bakmmmmmm….."
"Cucu tengik!"
"Bakmmmmmm…."
"Dasar durhaka!" Teriak Oma lalu menutupnya.
Di sana lah David tertawa puas.
"Sayang, apa yang kau lakukan? Ayo ke sini."
"Dengan siapa kau bicara, David?"
"Dengan Oma."
"Apa ada sesuatu yang penting?"
"Ya, bacalah pesannya," ucap David masih merasa gagah telah menjahili Oma dengan suara raksasa yang dia sukai saat kanak kanak. Dan Oma punya kebencian tersendiri dengan suara itu.
Pasalnya jika David tidak ingin makan, dia bersembunyi di dalam lemari. Dan Oma akan memanggil sambil mencari, saat kecil David menjawabnya dengan tiruan raksasa. Yang mana membuat Oma jengkel dan kesal dengan suara itu.
Sementara itu Lily membaca pesan yang dikirimkan Oma, membuat pipinya memerah merona.
"Astaga…," gumam Lily dengan bibirnya yang kecil.
"Kenapa, Sayang? Apa kau suka pemberian Oma?"
Lily diam.
"Kau suka ya?"
"Bukan begitu," ucap Lily yang masih ragu.
"Sudah kuduga kau tidak ingin memakai itu. Lily Sayang, tidak apa jika kau ingin berduaan bersamaku. Ayo peluk aku, kemarilah datangi suamimu yang kaya dan tampan ini."
"M… makan, David. Kau harus makan. Aku suapi," ucap Lily mencegah hal yang aneh terjadi.
"Apa kau memesan celana itu pada Oma?"
"Tidak."
"Itu dari besi, Sayang. Jangan mau pakai."
"Tidak, makanlah yang benar, jangan banyak bicara."
David menyeringai, dia menerima suapan dari istrinya lagi.
"Aku melihat di bawah karyawanmu mengemas makanan, untuk siapa?"
"Untuk karyawanku yang beragama islam. Karena ini bulan spesial bagi mereka, aku menyiapkan makanan untuk dibawa pulang, yaitu obor."
"Opor, David. Bukan obor."
"Itu maksudku, Sayang."
🌹🌹🌹
Oma menarik napas dalam sebelum masuk ke apartemen cucunya.
"Lila….?" Panggil Oma dengan pelan. "Lilaaaa?"
Eta yang berada di belakang majikannya merasa aneh saat majikannya menunduk sembunyi. Padahal jelas di sini tidak ada siapa pun.
"Lilaaaa?"
"Nyonya Besar, anda tidak har--"
"Apa yang kau lakukan, Eta," ucap Oma dengan penuh penekanan tapi pelan. "Menunduk, kau ingin peluru dari mulut David memarahimu?"
"Ba… baik, Nyonya Besar."
"Lilaaaa…."
"Iya, Oma?"
"Astaga, kau mengagetkanku!" Oma hampir jatuh karena ternyata Lily ada di sofa sedang tidur. "Apa ada David?"
"Dia sedang tidur di atas."
"Dan kau sendirian di sini?"
Lily tersenyum kaku. "Eum.. Lily sedang menonton Tuan Takur, Lily kabur dari pelukan David."
"Astaga, si Takur itu memenuhi otakmu," gumam Oma lalu mendekat. "Lihat, Oma bawakan kau celana dalam besi."
"O… oma, Lily tidak butuh itu," ucap Lily dengan suaranya yang pelan.
"Apa maksudmu kau tidak butuh, kau sangat butuh ini. Ayo ambil."
Karena tatapan Oma yang antusias, Lily mengambilnya. "Astaga, ini berat."
"Tentu berat, ini besi dengan berat 5 kilo."
"Astaga, 5 kilo, Oma?
"Bahkan jika ada peluru yang menembak pantatmu, itu akan mental lagi."
"Siapa yang akan menembakku, Oma?"
Oma berpikir sesaat. "Sudahlah, ayo coba itu."
"Tapi…."
"Ayo coba."
Dan saat itu, Oma mendengar pintu terbuka dari lantai dua. Oma merebut kembali celana besi itu hendak menyembunyikannya.
Namun saat Oma hendak berlari, tangannya kehilangan benda di tangannya, hingga…..
PRAAAANNKKKKKK!
Suara besi jatuh membuat bising di sana, dan itu membuat Oma yang berdiri segera menatap David yang sudah ada di pembatas lantai dua sedang tersenyum.
"Kau tidak akan bisa mendekati Lila lagi!"
"Bakmmmmm…"
"Dia akan Oma kunci!"
"Bakmmmm…."
"Diam kau, Bakm!!!"
🌹🌹🌹
To be continue..