Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA PARA KESAYANGAN EMAK. JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN BACA INI YA.🌹


“Jadi…., bagaimana dengan museumnya?” tanya Cantika saat dia sedang diobati oleh perawat di sana.


Tentu saja dengan Ares yang sedang duduk di ranjang pasien lain yang kosong; sedang memainkan ponsel.


“Jika itu bagus, aku kira ayahku akan mengambilnya. Dan jika tidak, maka akan mengganti kerugiannya saja.”


“Aku tidak tahu jika ayahmu tertarik pada museum.”


“Bukan itu,” gumam Ares masih melihat ke layar ponselnya, sebenarnya dia tidak sanggup melihat luka itu dibersihkan. Ares sedikit takut melihat darah, apalagi jika yang terluka adalah orang terdekatnya.


Dia memilih berpaling dan mengalihkan pandangan pada yang lain.


“Jadi?”


“Mungkin benda benda kuno itu bisa dipajang di hotel hotel milik ayahku, supaya menarik pengunjung lain. Atau mungkin di rumah sakit, tapi benda benda itu menakutkan,” gumam Ares.


“Sudah selesai,” ucap perawat memotong pembicaraan keduanya. “Resep obat dan antiseptic bisa diambil di depan.”


“Terima kasih, bagaimana dengan kakinya?” tanya Ares.


“Itu akan pulih dengan sendirinya, untuk saat ini mungkin masih agak sakit,” jelas perawat itu. “Ada yang bisa aku bantu lagi?”


“Tidak, terima kasih.”


Saat perawat itu menjauh, dia memberitahu perawat lain dengan sebuah bisikan, “Anak muda.”


Ares berpindah tempat jadi duduk di ranjang yang sedang diduduki oleh Cantika. “Aku heran bagaimana kau bisa berlari dengan keadaan kaki sakit seperti tadi? Menaiki tangga dan menjerit? Kau bodoh atau bagaimana?”


“Aku mencoba bertahan hidup,” ucap Cantika yang hendak turun.


“Kau mau apa?”


“Tidak mau apa apa, aku ingin pulang, kurasa Nenek dan Mama akan mengkhawatirkanku.”


“Bukan itu maksudku,” gumam Ares tetap menatap Cantika yang menjatuhkan kedua telapak kakinya ke lantai, kemudian bangkit berdiri.


Tidak butuh hitungan detik; “Awww! Shhhh!” desahnya kesakitan akibat pergelangan kakinya. Cantika kembali duduk di bibir ranjang kemudian menatap Ares. “Sakit.”


“Cih, kau benar benar tidak bisa hidup tanpaku,” ucap Ares berjongkok di depan Cantika.


“Tidak bisakah kita memakai kursi roda?”


“Jangan buang waktu, naik ke punggungku.”


“Baiklah,” ucap Cantika pada akhirnya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Cantika diam diam mengamati wajah Ares yang sedang menyetir mobil, beberapa kali dia menggumkan kata, “Wah…. Wuih… menakjubkan…..”


Dan Ares mendengar itu, dia menengok. “Apa yang menakjubkan?”


“Wajahmu, itu adalah face genius, bagaimana bisa setampan itu?”


Ares berdehem, dia menahan senyumannya sambil mengibaskan rambutnya ke belakang. “Kupikir aku adalah titisan malaikat, aku begitu tampan bukan?”


Sampai dia melihat ponsel Ares yang terus berdering sejak tadi. “Nomor baru it uterus menghubungimu, mungkin ada hal penting.”


“Atau mungkin penggemar fanatikku, aku tidak mau mengangkatnya,” ucap Ares kembali focus ke jalanan.


Kening Cantika berkerut, dia menatap lama nomor tersebut. “Itu terlihat seperti nomor Laura. Benar! Itu Laura! Kau harus mengangkatnya,” ucap Cantika dengan antusias.


Atau lebih tepatnya Cantika panic. “Ayo angkat! Sejak tadi dia menghubungimu!”


Dan saat telpon mati, Cantika mendesah. “Nah, dia marah baru kau tahu rasa, Ares. Kau harus menelponnya kembali.”


“Nanti saja,” ucap Ares focus pada jalanan.


Kemudian notifikasi baru muncul, itu sebuah pop-up pesan.


+6281xxxxxxxxx : Ares, ini aku Laura. Kenapa kau tidak mengangkat tel……..


Sisa pesanya tidak bisa Cantika baca karena ponsel itu dalam posisi terkunci.


“Nah, lihat. Itu Laura. Bagaimana jika dia marah?”


“berarti di sedang kesal.”


“Astaga, Ares.”


Ares tidak memikirkan Laura sedikitpun di kepalanya saat ini, dia hanya memikirkan bagaimana dia menjelaskan pada Nenek Cantika kenapa cucunya dikembalikan dalam keadaan tidak baik baik saja.


“Ayo turun,” ucap Ares berjongkok memunggungi Cantika saat membukakan pintu mobil.


Cantika menggeleng. “Tuntun saja aku, sekarang sudah lebih baik.”


“Jangan membantah, ayo cepat naik.”


“Tidak mau.”


“Kau berani menolak punggung tampanku?! Itu kesempatan langka,” ucap Ares meraih kekesalannya.


Cantika terdia, “Iya, itu langka,” ucapnya menundukan badan dan memeluk Ares dari belakang.


Ares berdiri dan membenarkan posisi duduk Cantika.


Dan saat itu, Laura yang sepertinya akan hang-out keluar rumah melihat kejadian itu. Yang mana membuat Cantika menegakkan tubuhnya di gendongan Ares. “Laura, hai, kau mau keluar?”


“Kenapa kau menggendongnya di belakangmu?” tanya Laura pada Ares.


“Karena aku tidak menggendongnya di depanku,” jawab Ares yang saat ini hanya memikirkan Cantika saja. kemudian berjalan menuju rumah Cantika.


Saat itu Cantika lebih banyak diam, apalagi melihat tatapan tajam dari Laura yang seakan siap memakannya.


🌹🌹🌹🌹🌹


 


 


TO BE CONTINUE