Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. PELUK CIUM DARI EMAK, AJAK JUGA YANG LAIN BUAT BACA KARYA INI YA.🌹


Saat sedang bercengkrama dengan orang orang di bengkel, tiba tiba seseorang menghubunginya, dan itu adalah nomor baru.


Bukan pertama kalinya Ares mendapatkan telpon terus menerus seperti ini. karena dia mengira itu adalah penggemarnya yang fanatic, Ares memilih untuk menolaknya.


“Siapa, Bang?” tanya pegawai di sana yang sedang membetulkan motor Ares supaya lebih keren.


“Orang tidak dikenal.”


“Banyak cewek yang demen sama Abang di sekolah?”


“Wajah menjelaskan semuanya, ‘kan?”


“Cewek pasar kemarin, yang manis itu. Punya Abang?”


“Temen masa kecil.”


“Saya gebet gak papa, Bang?”


“Jangan main main,” ucap Ares memperingati.


Sampai Ares kembali mendapat panggilan dari nomor itu, Ares tetap menolaknya. Dan karena terus menerus menelpon, akhirnya Ares tidak tahan dan mengangkatnya.


“Hallo?”


“Ares, ini Mommy. Kenapa kau terus menolak?” terdengar suara marah dari sana.


“Mommy?” Ares sedikit terkejut. “Maaf, nomor Mommy baru. Aku tidak mengenalinya,” ucap Ares memberi alibi.


“Ares dimana?”


“Di bengkel, Mom.”


“Nanti kalau mau pulang ke rumah mampir dulu ke toko bunga ya?”


“Toko bunga? kenapa?”


“Barang Oma ada yang tertinggal di sini, santai saja.”


“Oke, Mom.”


“Save nomor Mommy yang baru ya.”


“Emang yang itu kenapa sih?” tanya Ares heran.


“Ponselnya retak, tidak sengaja diduduki Daddy mu.”


“Ck, pasti kalian sedang beternak berudu kan.”


“Ares!”


“Iya, Mommy.”


Ares menutup telponnya, dia segera pergi setelah selesai di sana. Dan sebuah kebetulan yang tidak terduga lagi, Ares melihat ada sosok yang sebelumnya mengacuhkannya itu sedang membeli bunga.


Ares dengan tingkat kepedeannya itu menyibak rambutnya ke belakang saat turun dari motor, tapi itu tidak berpengaruh apapun.


“Ares, barangnya ada di atas, yang ada di dalam kotak biru.”


“Oke, Mommy,” ucap Ares melewati perempuan yang sedang berbicara dengan Mommy nya.


Sebelum Ares benar benar menghilang naik tangga, dia mendengar percakapan Mommy nya dan tetangga baru Cantika itu.


“Sekolah di sini, Nak?”


“Panggil saja Laura, Tante. Iya, baru saja pindah.”


“Di sekolah itu?” tunjuk Lily pada arah sekolah Ares.


“Iya.”


“Wah, kelas berapa?”


“XII IPA 2.”


“Anak tante juga sekolah di sana, yang barusan namanya Ares, dan yang perempuan namanya Athena, tapi dia berada di kelas XII IPA 1.”


Dan informasi itu sudah cukup untuk Ares, dia tersenyum. “Oh ini yang baru, satu kelas dengan Centini rupanya.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Ares berlari menuju kamar Athena segera setelah dari rumah Oma. Tapi dia tidak mendapati adiknya di sana.


“Apakah Thea sudah pulang?” tanya Ares pada pelayan di sana.


“Sudah, Tuan.”


“Aku tidak mendapatinya di kamar.”


“Ah, seharusnya aku tahu, dia punya kelinci baru,” ucap Ares segera pergi ke sana.


Dan benar saja, saudari kembarnya tengah bermain bersama kelinci. Dia memotretnya, merekamnya kemudian menumpuk video itu.


“Untuk apa lagi itu?”


“Oh astaga! Kau mengagetkanku.”


“Tidak ada les?”


“Aku pulang lebih awal.”


Ares merasa diacuhkan oleh adiknya itu. “Kenapa kau merekam segala hal?” tanya Ares kesal.


“Aku akan menjadi Youtuber.”


“Videomu sudah menumpuk seperti dosa, dan kau belum juga meng-upload videonya.”


“Aku harus mempersiapkan semuanya matang matang. Ah, maukah kau menjadi aktorku, aku ingin memperlihatkan video cara mengurus bayi kelinci dengan benar.”


“Bukankah kau akan menjadi beauty vloger?”


“Hei, cantik itu tidak cukup. Kau juga harus menarik.”


Ares menggeleng saat Athena memberikannya anak kelinci. “Lalu kau mau apa ke sini?”


“Aku ingin meminta nomor Centini.”


“Cantika? Untuk apa?”


“Ada keperluan, berikan padaku.”


“Jangan bermain main dengannya.”


“Apa maksudmu?” tanya Ares kesal.


Athena mengerutkan keningnya. “Tidak biasanya kau meminta nomor perempuan, kau normal?”


“Ak⸻”


“Aku senang kau bisa normal menyukai perempuan, tapi Cantika? No, no, no, tidak akan aku biarkan sahabatku bersama pria sepertimu.”


“Ck, Centini hanya perantara, aku menyukai tetangganya.”


“Ah, baiklah.”


🌹🌹🌹🌹


Cantika sedang memotong sayuran itu mendapat telpon dari orang yang tidak dikenal. Dia mengangkatnya.


“Hallo?”


“Centini, ini aku.”


“Ares?” tanya Cantika senang, bagaimana mungkin dia tidak bahagia. Pria yang selama ini dia kagumi itu menelponnya. “Kau memiliki nomorku?”


“Aku memintanya dari Thea. Oh ya, kau sedang apa? Apa aku mengganggumu?”


“Aku sedang memotong sayuran. Ada apa? Kau butuh sesuatu?”


“Tidak ada, aku hanya ingin menelponmu. Besok pagi aku akan menjemputmu.”


“Astaga, atas dasar apa? Rumahmu dan rumahku bertolak belakang,” ucap Cantika.


“Kenapa kau banyak bertanya? Tidakkah kau senang pria paling tampan di sekolah menjemputmu?”


Cantika menggaruk kepalanya. “Um…, aku hanya ingin tahu kenapa?”


“Kau akan tahu nanti. Jangan berfikir yang aneh aneh, tetaplah mengagumiku sebagai penggemar.”


Cantika mengerucutkan bibirnya. “Baiklah.”


Telpon pun tertutup, Cantika menyimpannya.


Dia juga tahu diri, tidak mungkin dirinya disukai oleh Ares. Maka dari itu, Cantika hanya akan mengagumi sebagai teman masa kecilnya saja. apalagi Ares sudah tahu kalau dirinya menyukainya, tapi tidak memberikan respon apapun. Yang mana membuat Cantika memilih tetap mengaguminya.


“Tidak apa, menyukai pria tampan itu sehat. Lagipula aku sadar diri, sainganku itu satu sekolah. Ck, aku tidak pernah berfikir Ares menyukaiku sebagai wanita.” Kemudian Cantika tersenyum dengan mata berbinar. “Tapi Ares benar benar tampan…. Astaga….. aku selalu mengaguminya. Tuhan.”


🌹🌹🌹🌹


 


 


TO BE CONTINUE