
🌹VOTE YAAAA GAIISSS🌹
Lily segera berpakaian setelah dirinya selesai mandi, dia mempoleskan sedikit bedak sebelum keluar dari sana.
Lily tidak sadar, ini sudah menuju siang. Gara gara aktivitasnya dengan David, dia kembali kelelahan.
"Oma?" Panggil Lily saat turun ke lantai bawah. "Oma? Apa Oma masih di sini?"
Sampai tatapan Lily terpaku pada seseorang yang tertidur dalam bawah selimut di sofa. Lily was was, di mengambil spatula untuk berjaga jaga untuk dipukulkan.
"Oma? Eta?" Lily memastikan sekali lagi.
Karena memang perawakannya jauh dari Oma atau pun Eta.
SREEEETTT!
Dan seketika Lily menarik selimut.
"Aaaaaa!" Lily dan Nina teriak di waktu bersamaan.
"Nyonya?"
"Nina? Astaga apa yang kau lakukan di bawah selimut sepagi ini?"
Seketika Nina melepaskan dan berdiri tegak layaknya tentara. "Maaf, Nyonya. Semua ini rencana Nyonya Besar."
"Di mana mereka sekarang?"
"Saya pikir mereka keluar bersama Mete."
Lily menurunkan spatula di tangannya. "Aku pikir kau pencuri yang hanya numpang tidur."
Nina kebingungan menjawab kalimat itu. "Saya akan mulai beres beres, Nyonya."
"Nina aku akan menata balkon bawah menjadi taman, tolong belikan aku pot bunga yang cantik."
"Baik, Nyonya. Ada yang lain?"
"Tidak, aku akan memasak makan siang untuk David."
Lily berkata sambil melangkah menuju dapur begitu saja. Dia menyiapkan makanan kesukaannya untuk diperkenalkan kembali pada David. Lily suka makanan sunda, dengan banyak lalapan yang akan membuat David sehat.
Ketika Nina sibuk di balkon, dan dirinya yang masak, saat itulah Oma datang bersama Eta.
"Lila… kau sudah bangun?"
"Iya, Oma."
"David pasti membuatmu lelah. Dasar cucu tengik itu, adonan sudah jadi terus saja ditambah fermipan, tidak waras memang. Lily, sekali kali kau tutup pabrikmu supaya tidak bisa beroperasi."
Lily terdiam malu. "Tidak ada yang bisa Lily lakukan, Oma."
"Apa dia tidak bisa libur biasanya?"
"Biasanya David libur saat Lily haid," ucap Lily malu malu.
"Astaga, tenanglah. Oma dan Eta akan berkelana supaya bule tengik itu tidak membuatmu kelelahan lagi.
Kening Lily berkerut melihat Oma yang mengambil tas seolah ingin pergi lagi.
"Oma, dari mana saja Oma tadi?"
"Dari sana."
"Sekarang mau ke mana?"
"Ke situ."
"Ke mana?"
"Mencari segel supaya pabrikmu tutup. Ayo, Eta."
"Baik, Nyonya Besar."
Dan sebelum mencapai pintu, Oma berbalik. "Ah ya, less hari ini sebelum kau pergi menemui David. Hanya tiga puluh menit."
"Jam berapa, Oma?"
"Sekitar jam sepuluhan."
Lily menghembuskan napasnya malas.
"Jangan malas, Lila. Oma tahu kau ingin menonton Tuan Takur. Jika kau bodoh maka kau akan seperti Tuan Takur yang selalu teraniaya."
"Iya, Oma. Lily paham."
"Ayo, Eta," ucap Oma lagi mengajak asisten nya keluar. "Eta, aku berhasil menipu si kacang mete. Ha ha ha!"
"Tentu, Nyonya Besar."
"Astaga, ini menyenangkan. Oh ya, kita akan berjalan memutar, jangan lewat jalan raya."
"Oh tentu, di jalan besar ada banyak pengamen. Kau tahu aku tidak tahan saat mereka bernyanyi, itu seperti irama yang menendang ingin digoyangi."
🌹🌹🌹
"Lihat ini, Holland. Sangat otentik, Lily akan suka tinggal di sini."
"Lalu bagaimana dengan rumah milik Nyonya Besar, Tuan? Dia sudah mencatat anda sebagai ahli warisnya."
"Saat anak anakku sedikit tumbuh dewasa, aku akan menyuruh mereka tinggal bersama Oma."
Holland terdiam, dia tersenyum berpikir bahwa David melakukan itu agar Oma tidak kesepian.
"Itu perbuatan yang sangat baik, Tuan."
"Aku tahu, aku membiarkan mereka bersama nenek buyut mereka supaya aku dan Lily bisa berduaan lagi."
Seketika senyuman Holland luntur, dia menatap David yang merokok sambil berkeliling lagi menatap rumahnya yang minimalis tapi mewah.Â
"Holland aku ingin membuat perubahan."
"Ya, Tuan?"
"Buat lantai tiga dengan atap kaca yang bisa di buka tutup, jangan ada sekat apa pun. Biarkan saja terbuka dengan kaca di mana mana. Tapi buatkan itu tersembunyi, supaya hanya aku dan Lily yang tahu. Itu akan menjadi ruang keluarga yang tersembunyi dan indah."
"Baik, Tuan Muda."
David kembali melangkah berjalan jalan, sampai dia mendapatkan telpon dari Rio.
"Hallo? Ada apa?"
"Nyonya Muda di sini, Tuan."
"Apa? Sedang apa dia di sana?"
"Mengantarkan makan siang."
"Shiiitt," gumam David baru ingat, dia segera menutup telpon. "Aku akan pergi, selesaikan pekerjaanmu, Holland."
"Baik, Tuan Muda."
David menaiki mobilnya, dia mengendarai dengan cepat supaya bisa sampai di tempatnya bekerja dengan cepat.
Beberapa orang yang bertemu dengannya menunduk memberi hormat, tapi David tidak menghiraukannya.
"Di mana dia?" Tanya David pada Rio sekretarisnya.
"Menunggu di dalam, Tuan."
"Bagus." David menarik napas dalam sebelum membuka. "Sayaaangg…. Apa kau lama menunggu?"
"Tidak, apa kau berlari?"
"Setelah selesai rapat aku langsung ke sini supaya tidak kehilanganmu."
"Apa? Rapat? Rio bilang kau bertemu teman kuliahmu?"
David diam, dia lupa untuk berkompromi dengan Rio tentang hal ini.
"Ah ya… maksudku aku memang bertemu teman kuliah dengan membicarakan bisnis. Sudahlah, apa yang kau bawa?"
"Makanan."
"Kau lucu, beri aku ciuman."
Lily gugup, melihat tatapan tajam David pasti mereka akan berakhir di ranjang. "A… ayo makan dulu."
"Baiklah, suapi aku."
Lily mengangguk. "Aku akn mencuci tangan dulu."
Dan saat Lily pergi, ponsel Lily berbunyi dalam tas. David membukanya dan mengambil ponsel istrinya.
Dan dia mendapatkan pesan dari Oma.
Oma💗
12. 01 P.M : Lilaaaaaaaa! Oma dapat sesuatu yang bisa menutup pabrikmu.
12. 01 P.M : Dengan ini bule itu tidak bisa membuatku kewalahan lagi. Lihat gambar yang Oma kirim.
12. 02 P.M : TARRAAAAAAA! Kuncinya kuat sekali.
🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE