Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Di balik topeng



🌹Kasih Vote ya Guys🌹


Lily membuka matanya, dia meneliti sekeliling kamar. "David?"


Tidak ada jawaban di sana, membuat Lily bergegas dan ingat Oma. Dia keluar kamar. Saat melihat dari lantai dua, sudah ada Eta yang memasak di sana.


"Eta…" Lily mendekat, dia menuruni tangga sebelum mendekati Eta yang sedang memasak.


"Nyonya Muda."


"Kau datang sendiri?"


"Tidak, Nyonya Besar ikut."


"Di mana dia, Eta?"


"Beliau ada di sofa sedang menonton tv."


Lily bergegas pergi ke sana, dan benar saja. Dia melihat Oma sedang tertidur di sofa sambil memegang remote di tangannya. Merasa kasihan, Lily datang hendak menyelimuti, dan itu membuat Oma malah terbangun.


"Oma?"


"Lila? Kau sudah bangu?"


"Maaf aku menganggu Oma."


"Tidak." Oma mendudukan dirinya. "Kau tidak mengganggu Oma."


"Apa Oma sudah lama datang?"


Oma mengangguk. "Lumayan."


"Oma melihat David?"


"Dia pergi ke luar," ucap Oma lalu menguap, Oma berjalan ke arah dapur dengan langkah yang tidak karuan. Membuat Lily mengikutinya dari belakang. 


"Oma, tidur saja lagi jika pusing."


"Oma butuh air."


Lily bergegas mendahului, dia mengambilkan Oma air. "Ini Oma, ayo duduk kembali ke sofa."


"Eta!" Panggil Oma pada Eta di dapur yang sedang memasak.


"Ya, Nyonya Besar?"


"Masakan sesuatu yang bergizi untuk Lila."


"Baik, Nyonya Besar."


Oma kembali duduk, dia meminum semua air dari Lily. "Oma membawakan bahan makanan agar kau tidak sering keluar dan diam bersama David selama 14 hari di sini."


"14 hari?"


"Ya, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk bekerja dari rumah, itu sebabnya David akan diam di aprtemen sampai 14 hari ke depan."


"Lily tidak tahu."


Oma berdecak. "Apa gunanya ponsel untukmu?"


"Maaf, Oma."


"Jangan keluar jika tidak penting, pesta Luke juga membuat Oma khawatir."


Lily diam, dia berpikir sendiri.


"Oma ingin kau tidak pergi ke sana."


"Lily hanya mengikuti David."


"Jika akan pergi, bawa antiseptic dan masker."


Lily mengangguk paham.


"Lily akan memasak, Oma."


"Tidak usah, Sayang. Eta sudah melakukannya."


"David bilang dia ingin masakan buatanku," ucap Lily pelan, dia masih ragu mengungkapkan segalanya. Hal itu membuat Oma menarik napas panjang.


"Pergilah, dan masakan untuk suamimu."


Lily bergegas. "Eta… biar aku yang menyelesaikan."


"Tapi ini tinggal sebentar lagi, Nyonya."


"Tidak apa, aku membuat yang baru untuk David. Kau bisa buat untuk Oma."


"Baik, Nyonya."


Oma melihat Lily dari sofa, tertarik dengan sesuatu, Oma datang mendekat. "Lily…."


"Ya, Oma?"


"Tentang belajarmu, apa David setuju jika kau kembali belajar di sini?"


"David bilang dia sendiri yang akan mengajariku semuanya."


"Dia akan mengajarimu hal lain," ucap Oma menahan kekesalan. "Oma belum membentukmu menjadi wanita elegan."


Lily diam saat memotong bawang, dia menatap dirinya sendiri. "Mungkin Lily tidak akan pernah menjadi wanita elegan, Oma. Lily seperti ini."


Oma diam sesaat. "Kau bisa."


Lily ingin berkata, tapi dia menahannya. Lily selalu memendam semuanya sendiri, membuat orang yang pertama bertemu dengannya menganggap Lily sombong karena bisu.


"Lily…"


"Nanti Lily bicara dengan David lagi, Oma."


"Bagus," ucap Oma bertepuk tangan. "Ngomong ngomong, Lily. Lehermu merah, dia melakukannya semalam? Setelah kau selesai haid?"


Lily mengangguk pelan, dan itu membuat Oma melompat kegirangan.


"Oma! Apa yang Oma lakukan! Nanti pinggang Oma sakit!"


"Yes! Yes! Ayo bergegas Eta, kita harus membiarkan mereka berdua. Setelah makan siang kita pergi."


"Baik, Nyonya Besar."


"Kau harus sering membuat adonan, menambahkan fermipan sehingga cepat mengembang oke."


"Fermipan?" Tanya Lily bingung.


"Fermipannya adalah waktu, kalian harus sering membuat bayi agar jadi."


🌹🌹🌹


David pulang, dia kembali lebih cepat dari yang diperkirakan. Saat masuk, dia melihat Lily, Oma dan Eta yang sibuk di dapur. Membuat David ingat sesuatu dan berkata, "Apa seseorang datang?"


"Tidak," ucap Lily. "Siapa?"


"Sekretarisku, dia yang akan menggantikan rapat bersama pemimpin asing."


Oma menggerutkan keningnya. "Kau mempercayakan pekerjaanmu pada orang lain? Sekretaris? Seorang perempuan?"


"Laki laki, Oma," ucap David memutar bola matanya malas. "Aku mengganti sekretarisku, ingat?"


"Oh iya, kau melakukannya untuk Lily," ucap Oma menyindir.


"Tidak, bukan begitu." Kenyataan menyedihkan, David masih belum ingin orang lain tahu keadaan yang sebenarnya. Dia tidak ingin orang lain, termasuk Oma melihat dirinya tertunduk pada Lily. "David melakukannya untuk David sendiri."


"Benarkah? Bukannya kau takut istrimu marah?"


"Tidak."


"Iya."


"Tidak."


"Iya."


"Tidak."


"Iya."


Lily berusaha memedam rasa kesalnya dengan bertanya, "Kau ingin ganti baju sebelum makan?"


Dan tatapan tajam antara Oma juga David terputus. "Ya," jawab David.


"Aku akan menyiapkannya."


Saat mendengar nada bicara Lily yang terdengar kesal, David bergegas menyusul istrinya ke lantai dua. Dia mendapati Lily sedang memilihkan baju untuknya.


"Cuci tanganmu, David," ucap Lily menghentikan saat David hendak memeluknya.


Pria itu berdecak, dia melangkah mundur dan mencuci tangannya.


"Pakai ini," ucap Lily memberikan kaos.


Ketika dirinya hendak melangkah pergi, David menghadang tubuh kecil Lily dengan tubuhnya.


"Aku mau ke bawah membantu Oma."


"Bantu dulu aku membuka kancing ini."


Lily menarik napasnya dalam dan pelan. Dia mulai membuka kancing kemeja David sampai menampilkan dada bidang dengan perut kotak kotak.


"Apa kau marah?"


Lily diam sebelum akhirnya menjawab, "Kenapa aku marah?"


"Entahlah, kau marah bukan?"


"Tidak." Lily fokus membuka kancing.


"Tambahkan sedikit penyedap di masakanmu, rasanya tidak gurih," ucap David mencari topik pembicaraan.


"Micin tidak baik untuk kesehatan," ucap Lily mengadah saat dia sudah membuka semua kancing, membuat David menyingkirkan kemeja lalu membuka kaos dalamnya hingga menampilkan lekukan tubuh liat yang kecokelatan.


"Benarkah? Ada satu micin yang sehat."


"Kalau begitu kenapa kau tidak beli dan memberikannya padaky untuk masak?" Tanya Lily dengan suara pelan, dia mencoba memutuskan tatapan David yang tajam padanya. "Permisi, aku ingin membantu Oma."


"Tunggu, Sayang. Micin yang sehat dan membuatmu bugar, ingin tahu?"


Lily diam, dia kembali mengadah.


"Jawabannya micintaiku sampai kapanpun. Jika kau lakukan itu kau akan sehat dan bugar, semua kasih sayang, uang dan ketampananku ini milikmu."


Lily tidak bisa berkata kata, dia bingung bahkan untuk menyembunyikan ekspresi wajah speechless nya.


"Tapi itu tidak akan lengkap tanpa sayuran," ucap David lagi. "Kau tahu sayuran apa yang membuat pria dan wanita subur?"


"Subur?"


"Ya, sistem reproduksinya," ucap David sambil menempelkan tangan Lily di kejantananny yang masih terbungkus.


"Astaga, David," ucap Lily mencoba menarik tangannya, tapi apa boleh buat jika David menahannya kuat.


"Jawab dulu sayuran apa yang membuat pria dan wanita subur."


"Aku tidak tahu. Katuk? Kelor? Toge?"


"Ya, itu."


"Katuk?"


"Bukan."


"Kelor?"


"Bukan."


Lily masih agak risih saat David mendekat dan menghimpitnya diantara rak.


"Toge?"


"Yap, kau benar. Toge adalah kepanjangan dari Toge-ther membuat bayi."


"A…. Apa?"


David menunduk, dia melepaskan tangan Lily. Kedua tangan David fokus merangkup pipi perempuan itu, lalu kemudian mencium keningnya lama. Setelahnya, David memeluk Lily. "Aku tahu aku membuatmu kesal, keluarkan saja. Jika dipendam kau akan tua semakin cepat, Sayang. Meskipun aku punya banyak uang, tapi hati yang menua karena memedam semuanya sendiri tidak bisa aku obati."


🌹🌹🌹


to be continue....