
🌹VOTE🌹
Lily menggigit punggung tangannya saat David mencabut kejantanannya dari kewanitaan Lily. Rasa panas masih tertinggal di sana, di tambah lagi David kini tidak memakai pengaman. Lahar panas yang masuk ke dalam tubuh Lily keluar seketika.
Basah di mana mana.
Tidak sampai di situ, David berbaring menghadap Lily, menyingkirkan punggung tangan istrinya lalu mencium bibir istrinya lama sambil memangutnya pelan.
David tidak bisa berhenti, dia akan terus menerus menginginkan Lily sampai kapan pun.
"Lelah?"
Lily mengangguk pelan.
"Tidurlah, nanti sore kita ke rumah Oma."
"Aku… ehem!" Lily berdehem saat suaranya begitu serak, desahannya terlalu kuat akibat David yang tidak berhenti menghentakan tubuh secara terus menerus sampai Lily merasa haus. "Aku ingin memakai baju."
"Pakai selimut saja."
"Tidak…"
"Aku janji tidak akan mengajakmu membuat adonan lagi."
Dan David menyelimutinya, membuat Lily tidak tahan memejamkan matanya karena lelah. Saat Lily benar benar terlalap, David mengambil tissue basah dan mengusap beberapa titik di tubuh Lily yang meninggalkan sisa cokelat.
Seperti di dekat kewanitannya, bagian dada dan leher.
Setelah selesai, David memakai boxernya untuk merokok sebagai pemuas akhir. Semenjak Lily hamil, David tidak bisa egois dan mementingkan diri sendiri dengan terus menghentakan tubuh.
Dia sadar akan ada bahaya jika Lily sampai pingsan lagi.
Sambil merokok di balkon, David menuangkan whiski yang membuat dahaganya hilang.
"Awas saja jika ada semut menggigit istriku," ucap David saat melihat ada sisa sisa cokelat berceceran di sprai. "Eh, di tempatku kan bebas semut."
Saat Lily tidur, David memakai kesempatan itu untuk menghubungi Holland.
Sambil mengeluarkan asap dari mulut, pria itu menyapa lebih dulu. "Holland, bagaimana perkembangan rumahku?"
"Hampir selesai, Tuan. Kami sedang membuat taman bermain seperti yang anda inginkan."
"Terus pantau dan berikan laporannya padaku. Ingat, Holland, keamanan anak anakku yang pertama, tidak perlu penuh dengan gaya dan artistik, yang penting tidak ada yang membahayakan mereka."
"Baik, Tuan Muda."
David menutup telpon, dia tidak sabar memberi kejutan rumah pada Lily. Dan David harap rumah itu akan siap setelah dirinya berbulan madu ke luar negri bersama kekasih hatinya itu.
Untuk apartemen ini, David tidak akan menjualnya. Karena David tahu, suatu saat anaknya ingin hidup terpisah, jadi David akan memastikan mereka hidup dengan aman meskipun berada di atap yang berbeda dengannya.
Lily yang tertidur itu bangun akibat tidak nyaman di tubuhnya, rasanya sangat lengket.
"Sayang, ada apa?"
David menelan ludah kasar saat melihat Lily yang duduk sambil menahan selimut agar menutupi dadanya.
"Ada apa, Sayang?"
"Ini tidak nyaman, aku ingin mandi."
"Aku mandikan ya."
"Tidak usah."
"Aku memaksa," ucap David menggendong Lily ke kamar mandi.
Lily khawatir nafsu David kembali berdiri, apalagi mereka mandi bersama dengan dirinya yang ada di hadapan David.
Air shower membasahi kaki keduanya, tangan David tidak berhenti mengusap perut Lily yang membuncit.
🌹🌹🌹
"Mana rotinya?"
"Di sini," ucap Lily kemudian menerima genggaman tangan David saat keluar dari apartemennya, mereka menuju ke tempat Oma untuk mengantarkan makanan.
Lily selalu merasa tidak nyaman setelah berhubungan badan bersama suaminya, dia merasa perutnya agak kembung.
"Ada apa?" Tanya David memegang perut Lily saat mereka berada di dalam mobil.
"Tidak apa."
"Kau terlihat tidak nyaman, Sayang."
"Aku hanya perlu berjalan lebih sering."
"Ah, besok akan ada guru less yang akan mengajarimu, Sayang."
"Besok? Setelah senam?"
David mengangguk, pikirnya Lily akan senang. Tapi kenyataannya wajahnya terlihat muram. "Ada apa, Sayang?"
"Besok aku ingin streaming film Tuan Takur."
David menelan ludahnya kasar, inilah latar belakang David ingin membuat Lily kembali belajar daripada otaknya diisi oleh polisi berkumis tebal itu.
"Kau bisa menontonnya lain kali, Sayang. Kau bilang kau ingin belajar, lagi pula ini bukan less biasa. Ini belajar untuk penyetaraan."
"Jadi aku bisa mendapatkan ijazah SMA?"
"Tentu."
Lily girang bukan kepalang. "Aku menginginkannya."
"Bagus," ucap David menarik napas dalam.
Dia ingin yang terbaik untuk istrinya, makanya melakukan cara licik ini.
"Ngomong-ngomong, David. Kau sedikit mirip Tuan Takur."
"Apa?" Tanya David tidak terima. Dia sedikit meninggikan ucapannya.
"Kau tinggi, bertubuh tegak seperti Tuan Takur."
"Tapi dia tidak sekaya dan setampan diriku, Sayang."
"Benar juga," ucap Lily yang membuat David tenang.
Sampai di mansion Oma, Lily kembali digenggam oleh David saat masuk.
"Eta, dimana Oma?"
"Ada di kamarnya, Tuan Muda."
Mereka menuju ke sana, niatnya keduanya ingin mengejutkan Oma dengan membuka pintu secara diam diam.
Namun, sebelum Lily menyentuh pegangan pintu, tiba tiba Oma membukanya dari dalam dan berteriak. "Booyah! Aku berhasil Booyah Eta!"
Seketika saja Lily kaget apalagi Oma mengangkat tinggi tangannya. Dan Oma melangka melewati David dan Lily begitu saja.
"Eta! Aku booyah! Ha ha ha ha, aku berhasil, Eta! Ha ha ha."
Lily menatap heran pada David, yang segera dijawab David dengan, "Ha ha ha," ucapnya mengikuti gaya tawa Oma.
🌹🌹🌹
Tbc.