Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Karena Tampan



🌹🌹🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. VOTE. 🌹🌹🌹


🌹🌹🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹🌹🌹


🌹🌹🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹🌹🌹


David terus menggenggam tangan istrinya untuk mencari keberadaan Ares. David memakai aplikasi untuk melacak ponselnya. Mereka menelusuri jalan sampai akhirnya…, hembusan napas lega terdengar dari mulut Lily. Bagaimana tidak, sosok putra yang membuatnya kesal itu kini sedang duduk tanpa dosa diatas karang besar sambil menatap layangan yang ada di angkasa.


Dan kacamata? Darimana Ares mendapatkannya, dia tidak menjual ponsel mahal miliknnya bukan? batin David bertanya tanya.


Berbeda dengan Lily yang melangkah cepat kemudian dia memeluk Ares dengan erat, membuat anaknya itu kaget. Baru juga dia akan memarahi orang yang tiba tiba akan memeluknya, tapi tidak jadi karena Ares mengenali aroma khas dari sang Mommy.


“Jangan lakukan itu lagi, apa kau tidak tahu bagaimana Mommy sangat panic? Jangan pergi jauh sendirian jika di tempat umum. Pria itu dipegang kata katanya, katanya akan kembali ke villa untuk poop, kenapa tidak jadi?”


Ares terdiam saat Mommy nya menangis di depannya, sambil memegang bahunya. Tidak ada cengkraman kuat, melainkan tangan yang menahan agar dirinya kuat. Ares menarik napas, jujur saja dia merasa sangat bersalah. “Poop nya masuk lagi, Mom.”


“Tetap saja, kau tidak boleh seperti itu. Mommy khawatir,” ucap Lily kembali memeluk putranya dan menciumi puncak kepalanya. Lily kembali merangkup wajah Ares. “Jangan lakukan itu lagi, oke?”


“Oke.”


“Anak pintar.”


“Mommy tau? Ares pikir yang memeluk Ares itu perempuan yang terpesona dengan Ares, tapi kenyataannya malah perempuan yang selalu membuat Ares terpesona setiap harinya. Jangan menangis lagi, Ares minta maaf ya. Konon katanya jika bidadari menangis maka hujan akan datang, kasihan mereka yang sedang bermain layangan.”


Lily hanya tersenyum, ternyata Ares tidak pernah berubah, dia memiliki 100% gen milik David. Dia tidak akan pernah bisa mengubah fakta itu.


“Duduk di sini, Ares ingin melihat layangan.”


David mendekat setelah acara berpelukan selesai. Baru juga Ares hendak mengeluarkan kalimat, tiba tiba Athena berteriak, “Mom! Mau jajan ini!”


Lily menatap Ares. “Ayo ke sana dan kita beli camilan.”


“Tidak mau, Ares di sini saja ya. Ares mau melihat Simba.”


“Jangan sendirian lagi.”


“Aku akan menemaninya, Sayang.”


Yang mana membuat Lily memicingkan matanya. Dibalas oleh angggukan oleh David. “Kalian bisa memperhatikan kami dari sana, aku tidak akan melepaskannya lagi. Tenanglah.”


“Jangan sampai terulang lagi.”


“Iya, Sayang.”


“Daddy nakal ya, Mom.”


“Kau juga sama.”


“Hehehe, tidak diragukan toh Ares anak siapa,” ucap Ares memperlihatkan giginya yang berjajar dengan sangat rapi.


Saat Lily menjauh, David duduk di samping putranya itu. Sedikit kesulitan karena karang itu memiliki sisi yang tajam. “Bisa kau geser, Ares?”


“Nanti Ares jatuh.”


“Daddy tidak bisa duduk.”


“Tapi bisa berdiri?”


“Anak durhaka,” ucap David langsung mengangkat Ares.


Membuat anak itu tertawa, kemudian didudukan di pangkuan Daddy nya.


“Mana ponsel, Daddy?”


“Ini.”


“Lalu kacamata ini darimana?”


“Diberikan anak cantik itu,” ucap Ares melihat anak perempuan yang mencuri pandang darinya. “Hai, Cantik.”


“Jika Mommy melihatmu dia akan memelintir telingamu,” ucap David berbisik.


“Berarti Daddy juga boleh?”


“Oh Daddy, ingat usia, Daddy.”


“Anak durhaka.”


🌹🌹🌹🌹


Lily, Oma dan David memperhatikan anak anaknya yang sedang bermain di pantai. Sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk melihat matahari tenggelam, Oma sangat menikmatinya.


“Oma, mana Black card milikku?”


Oma yang sedang memejamkan matanya itu mendengus kesal, dia membuka dompetnya dan memberikannya kepada David. “Jangan lupa beri Oma komisi jika ingin pergi lagi.”


“Dasar Oma mata duitan.”


“Kau bilang apa, bule tengik?”


“Tidak, Oma. Pak! Satu lagi es kelapa!”


“Siap,” ucap pedagang itu.


Mereka memang belum kembali ke villa, masih menikmati keindahan laut dari jarak dekat. Sementara Ares dan Athena sedang bermain dengan anak anak lain di sana.


Ares yang sedang memakai kacamatanya, masih duduk di atas karang sambil menikmati kelapa muda yang tadi dibawakan penjual. Matanya sesekali memperhatikan Athena yang sedang bermain dengan anak lain. Sesekali Ares berteriak, “Athena jangan jauh jauh, nanti kau hilang dan merepotkan,” ucapnya lalu kembali meneguk air kelapa dengan santainya.


Sampai seorang anak perempuan yang tadi memberikannya kacamata itu tidak sengaja menendang bola lalu mengenai wajah Ares. “Ayam ayam,” ucap Ares latah saat dirinya hampir limbung.


“Hei, hati hati. Bermainlah dengan baik.”


“Maaf, tapi aku silau dengan sinar matahari.”


“Woaw, matamu normal,” ucap Ares kembali duduk bersantai.


“Bolehkah aku meminta kacamataku kembali?”


“Apa?”


Tanpa aba aba, anak itu kembali membawa kacamata yang sebelumnya dia berikan. “Sekarang tidak silau.”


“Kau tidak bisa mengambil benda dari manusia tampan sepertiku.”


“Memangnya?”


“Karena aku tampan.”


“Bye bye,” ucap anak itu kembali bermain dengan yang lain.


Membuat Ares menghela napasnya dalam. “Seharusnya ketampananku menjadi alasan untuk segala hal.”


Ingatannya kemudian pergi pada beberapa tahun lalu, dimana ada teman Athena yang selalu memberinya sesuatu seperti;


“Ini mangga untuk Ares, karena Ares tampan.”


“Aku akan tersenyum, karena Ares tampan.”


“Ini jawabanku, silahkan lihat dengan baik karena Ares tampan.”


“Karena aku menyukai Ares, maka Ares tampan.”


Kalimat kalimat itulah yang waktu itu sering Ares dengar.


“Siapa ya namanya? Centini? Iya, Centini.”


🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE