Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Perasaan Cemas



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN🌹


Oma menatap Athena dan Ares yang saling menautkan tangan mereka. Oma sengaja menyuruh mereka saling menggenggam satu sama lainnya supaya berbaikan.


Namun, sampai saat ini belum juga ada yang membuka suara.


Oma menghela napas dalam dan mengambil seutas pita. Dia mengikatkannya pada tangan Ares dan Athena.


"Apa yang Oma lakukan?" Tanya Keduanya.


"Ini sudah malam. Kalian tidur bersama ya, apa kalian tidak saling merindukan?"


"No!"


"No!"


"Ales jelek!"


"Thea sering mendengkur!"


Oma menghela napasnya, baru juga dua sudah membuatnya pening. Yang mana Oma memilih berdiri. "Sudah, sekarang tidur ya."


Oma tidak mengencangkan tali itu, lagipula itu akan sangat mudah dilepas jika mereka sudah malas.


Oma meninggalkan kedua cicitnya di kamar dan memilih untuk menuju dapur, melihat makan malam yang masih banyak.


Ditambah makan malam romantis itu diaediakan berbagai lampu dan lilin.


"Eta, duduklah," ucap Oma pada Eta.


"Apa? Saya Nyonya?"


"Ya, sayang sekali makanan ini. Ayo kita makan berdua."


"Baik, Nyonya."


Eta menurut saja.


Saat sedang makan, terdengar suara tawa anak anak. "Lihat, anak anak sangat mudah untuk berbaikan."


"Tentu, Nyonya. Tapi ini sudah malam, alangkah baiknya kita menyuruh mereka untuk segera terlelap?"


"Tidak, biarkan saja mereka," ucap Oma.


Beberapa menit berlalu, yang mana itu adalah masa masa Oma makan dengan tenang.


Hingga.


BRUK!


"Aaaaaaaaaa!"


Seketika sang pengasuh dan pelayan datang dengan sigap. Dan Eta melihat Athena yang sedang menangis sambil dipeluk oleh Ares di sana.


"Tolong Thea hiks….," Ucap Ares dengan suara mungilnya.


Nina segera menggendong Athena. "Kita ke rumah sakit."


"Kenapa dengan dia?" Tanya Oma lagi.


"Tulangnya sepertinya patah," ucap Nina yang berlari keluar.


Sementara itu Eta menahan tangan Ares.


"Tuan Muda, anda tetap di sini."


"Hiks…. Ares ingin melihat Thea…."


"Ares, Thea akan baik baik saja. Kita akan menyusul, ayo bersiap dan tolong bawakan mainan kesukaan Thea ya."


Ares pun mengangguk dan segera masuk untuk memilihkan mainan untuk adiknya.


"Haruskah kita menelpon Tuan David, Nyonya Besar?"


"Jangan, mereka mungkin sedang tanggung."


🌹🌹🌹🌹


"Aku sangat bahagia, Sayang. Hanya saja aku terkejut. Aku tidak memakainya hanya sekali bukan? Ketika aku mabuk? Itu sangat hebat, berarti kualitas benihku lebih dari premium. Langsung jadi hanya dalam satu kali." Begitulah ucapan David yang menghanyutkan.


Dilanjutkan dengan, "Kalau begitu, aku tidak akan memakai pengaman lagi. Aku ingin mengunjungi calon bayi kita, Sayang. Kau adalah wanita paling sempurna yang aku temui, belahan jiwaku. Terima kasih untuk semuanya."


Kalimat kalimat yang diucapkan Lily saat makan malam itulaah yang mengantarkannya pada pergulatan hebat.


Tangan Lily mencengkram punggung suaminya, dia memejamkan matanya tidak kuat. Tenaga David tidak pernah berkurang, malah semakin gencar di setiap sentuhan mereka.


"Sshhhhh… David…. Akhhh!" Lily terkejut saat tiba tiba pria itu membalikannya.


Plak! David memukul pantat Lily. "Bergeraklah, Sayang."


Lily menarik napas merasakan dirinya menduduki sesuatu yang besar dan keras.


Waktu berlalu begitu cepat untuk keduanya, David mendapatkan pelepasannya.


Namun entah mengapa saat itu juga Lily tidak merasakan apa apa. Dia memeluk suaminya yang menindihnya dan menyembunyikan wajahnya di leher sang istri.


"David."


"Iya, Sayang?"


"Aku ingin pulang."


"Apa?" 


Lily mendorong pelan David dari atasnya dan melangkah menuju kamar mandi dengan memakai kemeja suaminya.


"Aku merasa tidak enak," ucap Lily mengutarakan isi hatinya.


Yang disalah artikan oleh David, dia menatap kejantanannya. "Tidak enak?"


🌹🌹🌹🌹


To be Continue