
🌹VOTE🌹
David menarik napasnya dalam. Sebuah sepeda berkeranjang biru, Lily yang ada di belakang memeluk perutnya, jalan yang dipenuhi turis. Semuanya sudah siap.
"Ayo, berangkat," ucap Lily menggerakan kakinya tidak sabaran.
"Berhenti bergoyang, aku akan mulai menyetir sepeda ini."
Lily tersenyum, senang. Apalagi saat kedua kaki David mulai terangkat, pria itu mengayuh sepeda. Namun, keseimbangan tidak didapatkan. David hampir saja menabrak turis lain.
"Hei, watch your steps!"
"Sorry."
"Biar aku saja, David," ucap Lily hendak mengambil alih.Â
"Tidak, aku bisa memimpin."
Jauh dari perkataannya, sepeda yang mereka naiki kembali tidak seimbang hingga hampir jatuh. Lily yang takut jatuh akhirnya melompat dari sepeda, membuat David semakin tidak seimbang. Beruntung dia ingat rem.
"Apa yang kau lakukan?" David menatap Lily kesal di belakang sana.
"Biar aku saja yang di depan."
"Kau meremehkanku?"
Sebenarnya Lily tahu David tidak bisa naik sepeda dari Oma. "Bukan begitu, nanti jatuh."
"Kau meragukan keamanan saat bersamaku?"
Lily diam, hingga akhirnya dia mendapat celah. "A… aku tidak ingin kau terluka," ucapnya dengan pelan.
Dan itu membuat David menyeringai. "Karena apa? Karena aku tampan dan kaya? Oh tentu saja. Kau sangat menyukaiku karena itu."Â
David memberikan Lily kendali.
Perempuan itu naik di bagian depan, dengan David yang duduk di bangku penumpang.
Saat Lily mulai mengayuh, David kembali berkata, "Kita mau ke mana?"
"Membeli souvenir untuk Oma."
"Ke mana?"
"Aku tahu tempat yang murah."
"Tidak perlu mencari yang murah, cari yang bagus."
Lily mengangguk, dan David kini merasa diabaikan. Lily terlalu fokus dengan pemandangan di sekitarnya, dan itu membuat David kesal. Tidak ada percakapan, yang intinya Lily tidak lagi menginginkan mendamba dirinya.
"Kau ingin aku peluk?"
"Ya?" Lily mencoba mendengar kembali.
"Kau ingin aku peluk?"
Lily diam, bingung jawaban apa yang harus dikatakan. David masih menjunjung tinggi harga dirinya, dia enggan dirinya yang terlihat mendamba.
"Kau ingin aku jatuh?"
"Ti… tidak, David."
"Kalau begitu apa kau ingin aku memelukmu?"
"I… iya."
David menyeringai, dia memeluk Lily erat. Dan tangan nakal David tidak bisa diam, dia merayap. Saat hendak mencapai dadanya, baru Lily berhenti di salah satu kios pakaian.
"A… aku ingin membeli pakaian."
Dan David menyadari itu adalah salah satu cara Lily menolaknya.
Mereka turun dari sepeda.
"Selamat datang, Teh, Kang. Ada yang bisa saya bantu?" Lalu pedagang itu menatap David. "Wellcome, come and get dress or accsessories from me."
David mengerutkan kening, ejaan yang buruk dan pengucapan yang salah. Yang mana membuatnya memilih diam.
"Saya ingin membeli pakaian untuk Oma saya, Bu. Kira-kira tubuhnya seukuran saya."
"Tos sepuh pisah, Teh? (Sudah sangat tua, Teh?)" Pedagang itu menepuk keningnya. "Maaf, Teh, maksud saya sudah sangat tua Omanya?"
"Ga papa, Bu, saya bisa kok bahasa Sunda."
"Tapi saya tidak bisa," ucap David. "Mohon gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, atau jika Ibu berkenan boleh menggunakan bahasa Inggris."
"Gustiiiiiiii teuing….! Ieu bule tiasa nyarios bahasa Indonesia, Teh? Manawi teh ngan ngingintil doang."
🌹🌹🌹
"Bagaimana dengan yang ini, Teh?"
Lily menimang, menatap baju yang akan dia belikan untuk Oma.Â
"Yang ini saja, Bu. Tapi kalau aksesoris ada, Bu?"
"Eh, Teteh gak tau, ini…." Dia menunjuk rukonya. "Sampaiiiiii sana, milik saya, Teh. Mulai dari aksesoris, celana, baju, pakaian dalam, alat renang, mainan. Semuanyaaaaa saya punya."
Perkataan pedagang itu terlalu berisik, membuat David keluar dan menelpon sebentar.
"Ada apa, Megan?"
"Maaf, Tuan. Ada hal yang perlu anda tinjau, pihak Malaysia tidak mengizinkannya dikirim lewat soft file dikarenakan mereka sedang diguncang oleh seorang hacker."
"Lalu?"
Megan diam sesaat. "Jika anda berkenan, saya akan membawakan file ini pada anda, Tuan."
"David!" Lily memanggil. "Ini bagus?"
David mengangguk. "Saya berada di Pangandaran, datang ke Villa *****," ucap David pada Megan.
Di balik telpon, Megan tersenyum. "Baik, Tuan."
"Ini saja."
"Hanya itu?"
"Dan ini, dan ini," ucap Lily menunjuk beberapa aksesoris.
"Hanya itu?
"Ini lagi," ucap Lily malu-malu menunjuk dress pantai untuknya.
Untuk yang kesekian kalinya, Davi bertanya, "Hanya itu?"
"Ini…" Lily memegang pakaian pria. "Untukmu, kau suka?"
David diam, dia dipilihkan sebuah pakaian pantai yang sama coraknya seperti gaun Lily.
"Kau ingin pakaian couple?"
"Pedagangnya bilang ini bagus."
"Iya, Kang, bagus ini. Apalagi kalian baru nikah, aduh bagus sekali."
"Berapa totalnya?" Tanya David mengeluarkan dompet.
"Semuanya 549 ribu, Kang." Pedagang itu mengerutkan keningnya saat melihat David mengeluarkan kertas. "Kang, saya tidak terima cek."
"Tidak apa, biar aku saja," ucap Lily mengeluarkan dompetnya.Â
Dan David terkejut saat Lily mengeluarkan uang receh dari dompetnya, dia menghitungnya pelan-pelan. Dan yang membuat David kesal, saat pedagang melihat Lily seolah berkata, "Gayanya saja orang kaya, nyatanya duitnya recehan."
David tidak terima. "Hentikan, Sayang. Jangan menghitung uang itu."
"Kita perlu membayarnya, David."
"Berhenti, aku yang melakukannya."
"Tidak menerima cek."
David kesal dengan nada suara arogannya. "Berapa total semua barang di ruko anda? Saya membeli semuanya."
Pedagang itu bergurau sambil merendahkan, dia berkata, "Empat Millyar, Kang."
Saat itu, David menghubungi Holland untuk membawa uang tunai.Â
Selang beberapa menit, Holland datang dengan beberapa petugas kepolisian untuk membantu keamanan. Holland diperintahkan untuk membuka koper berisi uang di hadapan pedagang itu.
"Apa itu cukup? Saya memberi tip atas keramahan anda senilai 250 juta."
"Te… terima kasih, Kang."
"David, apa yang kau lakukan?" Desis Lily mendekati suaminya.
🌹🌹🌹
Oma sedang minum teh di sore hari. Dia menikmati Jakarta yang dilanda hujan deras. Walupun petir terdengar jelas, Oma tetap tersenyum. Membuat Eta khawatir.
"Anda baik-baik saja, Nyonya Besar?"
"Aku akan mendapatkan cicit, Eta. Aku sangat senang."
Eta tersenyum, dia menuangkan teh kembali. "Saya ikut senang, Nyonya Besar."
"Aku harap Lily kembali dengan perut yang siap membengkak."
"Amen, Nyonya Besar."
"Tapi, kita haru konsultasi pada dokter. Lily masih 19 tahun, dia masih rawan. Benarkan, Eta?"
"Betul, Nyonya Besar."
Oma tersenyum. "Aku selalu benar."
Oma memejamkan matanya sambil bergoyang di kursi goyang. "Andai saja anakku masih hidup, dia akan senang David kini hidup dengan baik."
"Tuan Fernandez akan bangga padanya, Nyonya Besar."
Oma mengangguk. "Ya, anakku sayang, aku akan menjaga anakmu sesuai amanatmu."
Dan ketika sedang bersantai, Oma diganggu oleh sebuah kendaraan mobil bak tertutup besar sejumlah lima yang masuk ke halaman depan mansion.
"Ada apa itu, Eta?" Oma bergegas keluar.Â
Di sana ada seorang pria yang dikenal Oma sebagai bawahan David. "Hei, apa ini? Kenapa banyak sekali mobil box? Ada apa?"
"Ini adalah buah tangan Nyonya dan Tuan Fernandez dari Pangandaran."
"Sebanyak ini? Apa dia membeli ruko?"
"Tuan David membeli barang dari 6 ruko, Nyonya Besar."
Seketika Oma syok, dia jelas tahu berapa uang yang David keluarkan. Dan itu dia keluarkan dengan percuma, Oma lebih mendukung David memanfaatkan uangnya dengan baik.Â
"Eta! Eta! Berikan telpon."
"Ini, Nyonya Besar."
Oma menghubungi David.
"Hallo, Oma?"
"Apa yang kau lakukan? Kau mengirim banyak barang tidak berguna, bule!"
David tertawa. "Oma, bukalah ruko dan sibukan dirimu daripada mengganggu aku dan Lily yang sedang membuat adonan."
"Dasar kurang asam!"
🌹🌹🌹
TBC. .