Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Pertanyaan



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


Oma terlihat senang melihat anak anak kembali bermain dengan ceria, apalagi dengan kedatangan Sebastian dan juga Nana yang membuat semangat mereka kembali bangkit.


Ares juga perlahan mmelupakan dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk lebih menjaga ibunya.


Nana yang kelelahan bermain itu melangkah kea rah Oma yang sedang menatap mereka.


“Kau haus, Nak?”


Nana mengangguk.


“Eta, bawakan minuman.”


“Nana bisa mengambilnya sendiri, Oma.”


“Jangan, Oma ingin bicara denganmu, duduk di sini.”


Tapi Nana malah duduk di atas karpet yang ada di bawah kursi, mereka sedang berada di beranda depan.


“Kenapa duduk di sana?”


“Tidak apa, Oma. Nana ingin meluruskan kaki.”


“Bagaimana rencanamu? Untuk memiliki anak?”


“Mungkin Tuhan belum memberikan kepercayaan padaku, Oma. Jadi aku akan menunggu.”


“Cek kesehatan kalian, sudah?”


Nana mengangguk. “Semuanya normal.”


“Baiklah, kalau begitu kau tinggal bersabar. Perbanyak berdoa.”


Nana mengangguk.


“Atau mungkin Sebastian tidak kuat jika berkelahi denganmu?”


Nana yang mengerti itu terdiam, dia menggeleng. “Dia monster sesungguhnya.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


“Ares menyalahkan dirinya sendiri,” ucap Lily masih terlihat sedih dan khawatir dengan keadaan anaknya. “Bagaimana ini?”


“Dia akan baik baik saja, apalagi jika kau juga begitu, Sayang.”


Lily menghela napasnya dalam, dia melihat perutnya yang sudah rata dan mengusapnya di sana.


Melihat itu, David menggenggam tangan istrinya. “Aku di sini, jangan khawatirkan apa pun lagi. Aku tahu ini sulit, tapi jangan menyalahkan diri sendiri, itu membuatku dan anak anak ikut sedih.”


Lily segera memeluk suaminya itu, membiarkan David mengusap kepalanya dan menenagkan dirinya. Sampai mata Lily terfokus pada sesuatu, dia menunjuk karangan bunga yang sangat cantik di atas meja. “Dari siapa itu?”


“Dari Sebastian.”


“Dia datang?”


“Ya, bersama Nana. Dia ingin melihatmu tapi kau sedang tertidur, kini mereka ada bersama anak anak.”


“Sebastian tahu apa yang terjadi, dia ikut merasa bersalah karena itu anjing pemberiannya.”


“Tapi itu bukan salahnya.”


“Ya, kita tahu ini bukan salah siapa pun, Sayang.”


Lily menarik napas dalam, dia meminta diambilkan buah buahan dengan menunjuknya.


“Mau itu?”


Lily mengangguk, yang mana membuat David segera membawakannya.


“Biar aku yang mengupasnya,” ucap David menahan Lily untuk mengambil alih.


“Rasanya sudah lama aku tidak melakukan ini,” lanjut David. 


“Mengupas buah?”


“Berbincang berdua denganmu.”


Lily tersenyum. “Kita terfokus pada anak anak.”


“Ya, pikiran kita selalu terfokus pada anak anak. Haruskah kita liburan berdua?”


Lily menggeleng dan mengusap kepala suaminya dengan penuh kasih sayang. “Kita tidak bisa meninggalkan anak anak, pikiranku selalu pada mereka.”


“Maka dari itu…..,” ucapan David menggantung.


“Apa?”


David sebenarnya menyembunyikan fakta kalau Lily tidak boleh mengandung dahulu selama beberapa tahun. Namun istrinya itu terlihat ingin buru buru memiliki bayi lagi.


“Apa?” tanya Lily lagi.


“Apa kau ingin memiliki bayi lagi, Sayang?”


“Jika Tuhan kembali memberiku kepercayaan, aku tidak akan menyia nyiakannya.”


“Tapi, Sayang…..,” ucapan David kembali menggantung, apalagi dia sambil mengupas buah. “Bagaimana kalau kita menunda rencana itu?”


“Kenapa? Kau tidak percaya padakku?”


“Bukan begitu,” ucap David langsung menggenggam tangan sang istri setelah melepaskan pisaunya. “Aku ingin kita focus dahulu pada anak anak kita sampai mereka sudah cukup besar, kita bisa melanjutkan rencana itu.”


Lily terdiam, dia baru terfikirkan hal itu.


“Kasihan anak anak, setidaknya sampai mereka berusia 10 tahun.”


“Baiklah,” ucap Lily. “Kita tunda rencana pembuatan anak. Tapi…..”


“Tapi kenapa?” tanya David.


“Apa kah kau kuat, David? Umurmu semakin tua dalam lima tahun lagi.”


Seketika David terdiam. “Usia bukan penghalang untukku. Oke?”


🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE