
🌹Jangan lupa vote dulu ya gais biar emak semangat.🌹
🌹Jangan lupa juga follow igeh emak ya ghais di : @RedLily123.🌹
🌹selamat membaca anak anak, emak sayang sama kalian.🌹
"Kenapa Ales belum juga kembali, Oma?" Tanya Athena yang kini sedang bermain dengan Joy, tangannya terangkat untuk menusuk-nusuk pipi bocah berusia tiga tahun yang sangat menggemaskan itu.
Sedangkan Oma sedang memangku Lucas yang tidak bisa berhenti membaca, membuat Oma kesulitan dan sesekali harus menyuapinya agar dia tidak kelaparan.
“Entahlah, Oma juga penasaran.”
“Ini sudah malam, Ales tidak datang saat makan malam.”
“Mungkin Daddy nya Joy takit pelut, jadi telambat,” ucap Joy mengingat apa yang selalu dilakukan oleh Sebastian jika dia pulang telat. “Daddy nya Kak Thea dan Lucas mungkin juga tama.”
“Daddy nya Lucas selalu pulang,” ucap Lucas yang segera disumpali dengan makanan oleh Oma begitu mulutnya terbuka.
Yang mana membuat Oma menarik napas dalam, dia menrunkan dulu Lucas. “Tunggu di sini sebentar ya, Oma mau menemui Mommy kalian.”
“Ote,” ucap Joy mengacungkan jempolnya sebelum kembali bermain dengan yang lain.
Oma melangkah menuju ke dapur, dimana cucu menantunya sedang memasak sambil bercengkrama sesekali. Saat Oma melihat jam, dia mengerutkan keningnya mengetahui seharusnya para pria itu sudah ada di sini. Yang mana membuat Oma mencoba menelpon cucu cucunya satu per satu. “Cucu cucu tengik itu pasti berulah,” gumam Oma.
“Ada apa, Oma?” tanya Rara mendekat. “Oma mau sesuatu? Katakana padaku, ingin cookies? Atau apa?”
“Para suami kalian tidak bisa dihubungi.”
Yang mana membuat Nana seketika menghentikan gerakannya. “Aku pikir Sebastian berhasil mencuci otak mereka.”
Rara menggeleng. “Mungkin ada seorang wanita yang menggoda suamiku, bagaimana ini? oh tidak, aku tidak bisa membiarkannya. Bagaimana jika mereka memperkosa Luke?”
“Hei tenang dulu,” ucap Lily yang berperut buncit itu. “Mungkin mereka sedang ada pekerjaan baru, project baru yang harus mereka selesaikan. Kerjasama mungkin?”
Oma menatap satu per satu wanita cantik yang membuatnya khawatir. “Setidaknya nanti lakukan sesuatu jika para pria itu tidak pulang, oke?”
🌹🌹🌹🌹🌹
Kenyataan yang menyakitkan, kini Sebastian, David dan Luke kembali berpesta di klab malam dengan sangat gila. Mereka membayar semua orang yang datang ke sini, duduk melingkar di meja bundar sambil memainkan kartu bersama pengunjung lain.
Menjadikan mereka pusat perhatian apalagi untuk para wanita penjaga klab malam itu. Mereka yang sudah mempercantik diri itu melanglah menuju pria kaya incaran mereka, yakni tiga pria yang membuat semua orang merasakan kegembiraan.
Saat Sebastian sedang merokok sambil memainkan kartu, tiba tiba seorang wanita duduk di pangkuannya. Tangannya melingkar di leher Sebastian dan berusaha menempelkan dadanya dengan pria itu. "Hai, Tampan. Apa kau butuh bantuan? Aku pintar dalam segala hal termasuk untuk memuaskamu," ucapnya menjilati leher Sebastian.
Membuat pria itu memejamkan matanya dan berkata, "Kau akan kehilangan pekerjaanmu jika menggangguku."
"Haha, ini pekerjaanku."
"Menyingkir sekarang juga," ucap Sebastian dengan nada suara dingin. Membuat primadona klab malam itu menghentakan kakinya dan melangkah menjauh dari sana.
Sebagai antisipasi, Luke mengangkat tangannya membuat seorang pelayan datang. "Anda butuh bantuan, Tuan?"
"Beritahu atasanmu untuk tidak mengganggu kami dengan para wanita, jika tidak ingin bangunan ini rata."
"Baik, Tuan."
Begitulah mereka, kesenangan yang didapatkan adalah memuaskan diri dengan bermain di bagian kasino. Dimana di sana mereka menghabiskan uang dan bertaruh dengan pengusaha lain yang juga menghamburkan uang seperti mereka.
Melihat itu David tertawa, bagaimana para wanita yang hendak ke sini sekarang berbalik arah. "Astaga, tubuh mereka jauh sekali dibawah istriku. Kenapa berharap aku melirik mereka?"
"Ayolah itu pekerjaan mereka. Kau boleh menolak, tapi jangan menghujat," ucap Luke memberi peringatan pada saudara yang lebih tua darinya.
Mereka kembali fokus pada permainan, sampai David merasa mulas. "Aku harus pergi ke toilet. Perutku sakit."
"Hei, kartu terakhir akan dibuka," ucap Sebastian. "Kau mungkin kalah."
Sambil diam, David merogoh ponselnya yang sengaja dimatikan agar tidak mendapatkan telpon dari istrinya. Ini semua ide Sebastian. David memang menyesal, tapi dia tidak bohong kalau dirinya memang menikmatinya.
Dan saat keluar dari kamar mandi, tiba tiba seorang wanita menghadangnya. "Hai tampan, aku melihatmu di majalah."
"Hmm.. lalu?"
"Kau kaya, kau ada di majalah. Menginginkan sesuatu?"
"Kau bisa mengabulkannya?"
"Tentu, kau akan bersenang senang malam ini."
David menggeleng sambil menyipitkan matanya. "Tidak terima kasih, tolong tinggalkan aku sendiri sebelum aku menaruh wajahmu di majalah dalam artian sesungguhnya."
"Oh ayolah, kau ke sini untuk bersenang senang," ucap wanita itu menahan tangan David.
Yang mana membuat David kaget dan berteriak, "Bas! Help!"
🌹🌹🌹🌹🌹
Dan benar saja, para pria itu tidak datang saat makan malam. Mereka juga tidak bisa dihubungi. Seharusnya malam ini pergi ke pedesaan membeli bahan bahan untuk paskah besok. Namun karena para pria itu tidak ada, mereka hanya diam.
Oma begitu pintar dalam mengasuh sehingga anak anak dihandle olehnya meskipun terkadang Lucas tidak paham bahasa Athena dan juga Joy mengingat keduanya masih tidak bisa mengucapkan beberapa kata.
Makan malam berakhir dengan rasa kecewa, kini ketiga perempuan cantik itu sedang duduk di sofa melingkar di pinggir kolam renang.
“Mereka menyebalkan,” ucap Lily mengerucutkan bibirnya.
“Aku takut seseorang menggoda suamiku, bagaimana jika dia diculik?”
“Tidak akan ada yang melakukan itu, mereka sedang bersenang senang, Rara.”
“Astaga……., ini menyebalkan jika mereka benar benar melakukannya,” gumam Rara menatap langit. “Kita harus berbelanja bukan?”
Nana mengangguk, dia menatap Lily yang sedang mengusap perutnya, membuat Nana ikut melakukannya dan berkata, “Kau harus menghukum suamimu, jangan beri dia jatah sampai melahirkan.”
“Kau selalu melakukan itu jika Sebastian berulah?” tanya Lily.
Nana mengangguk. “Aku selalu begitu.”
Yang mana percakapan itu menarik minat Rara yang begitu penuh dengan pertanyaan. “Posisi apa yang kalian sukai? Dog style? On top?”
“Aku lebih suka women on top,” ucap Nana dengan begitu mudahnya. “Bukankah itu menusuk sampai dalam dan kau bisa merasakannya dengan sangat dalam?”
“Oh.” Rara menggeleng. “Coba posisi dengan suamimu dari belakang sambil tidur miring. Itu lebih nikmat dan menakjubkan. Tapi aku lebih suka sedikit kekerasan, Luke suka melakukannya.”
“Lebih sedikit menantang jika mata tertutup bukan?”
“Nah, itu dia,” ucap Rara kemudian menatap Lily. “Bagaimana denganmu? Kalian menikah lebih awal, beritahu aku posisi apa yang membuatmu begitu puas dan juga ketagihan?” tanya Rara antusias.
Yang mana membuat Lily gelalapan bingung dengan jawaban yang akan dia lakukan. “Um…. Bukankah seharusnya kita merencanakan apa yang akan kita lakukan? Tentang…. Tentang para suami kita? Menghukumnya?”
“Hei, ayolah,” ucap Rara menggoda sambil tertawa. “Aku butuh posisi baru, beritahu aku.”
🌹🌹🌹
INI LILY
TO BE CONTINUE