
🌹VOTEEE YEEE GAISSS🌹
David tersenyum sudah menyiapkan acara liburan mereka minggu depan. Dia segera ke kamar untuk memberitahu Lily, sayangnya di sana sang istri sedang menidurkan kedua bocah.
"Sayang…..," panggil David.
"Sebentar, mereka belum benar benar terlelap."
Ketika mendengar percakapan kedua orangtuanya, mata Ares terbuka seketika. Yang membuat Lily segera menutupnya dengan tangan. "Tidur, Ares Sayang. Ayo."
Lily perlahan menarik tangannya, dia mendesah pelan saat melihat mata putranya kembali tertutup.
Tiga puluh menit Lily bergantian mengusap punggung anak anaknya. Meskipun mereka bermain bersama para pengasuh, jika tidur dan makan selalu ingin bersama dengan Lily.
Dan jika tidak ada hal yang penting, Lily tidak pernah keberatan.
Saat keduanya terpejam, baru Lily keluar untuk menemui David.
"Ada apa?"
"Ayo bicara di kamar."
Kening Lily berkerut.
"Tidak, Sayang. Aku hanya bicara, bukan menambah fermipan. Tapi jika kau mau aku tidak keberatan."
Lily tidak bisa berkata apa apa. "Ingin minum dulu?"
"Minum? Tanpa minum hartaku sudah kuat dan mengeras, Sayang," bisik David tepat di telinga istrinya.
Yang mana membuat Lily geli dan pipinya memerah malu. "David…"
"Ya Tuhan, kau masih memerah malu melihatku. Sudahlah, ayo kita ke kamar."
Sore belum datang, jadi David tidak khawatir akan anak anaknya. Mereka tentu saja akan David salurkan dulu ke rumah Oma agar dia dan Lily bisa berduaan.
Menarik tangan istrinya untuk berbaring di ranjang membuat Lily curiga. "Tidak, Sayang. Aku hanya ingin memelukmu, aku rindu padamu."
Lily tidak percaya kata kata itu keluar, semalam saja mereka baru selesai bertempur setelah sekian lama berpisah.
"Aku pergi selama empat bulan, yang seharusnya aku bersamamu setiap bulan. Jadi, 30 x 4 adalah 120. Dan durasinya biasanya minimal 2 jam. 120 x 2 adalah 240 kali aku mengunjungi anak anak kita."
"Tapi… david," ucap Lily ketakutan. Mengingat malam pertama mereka dulu saja membuatnya hampir pingsan.
"Tenang, Sayang. Suamimu ini baik dan tampan, jadi aku akan memangkas angkanya sampai angka belakangnya saja."
"Kosong?"
"Empat puluh, Sayang."
"A… apa?"
"Tenang, Sayang. Kita akan melakukannya di Thailand nanti, aku punya kejutan untukmu."
"Kapan kita pergi?"
"Minggu depan. Sekolah anak anak libur."
"Memang libur atau kau izin?"
"Libur, Sayang. Aku yang bertanggung jawab," ucap David sambil tersenyum. "Kenapa kau sangat cantik?"
"Hah?"
"Ehem."
Lily menegang, dia ingat kode ini adalah kode yang membuat mereka semakin dekat seiring berjalannya waktu.
"Ingat masa lalu, Sayang? Kenapa tidak mempraktekannya? Ehem."
Pipi Lily merah ingat semua yang tertuang dalam perjanjian aneh yang dibuat David.
"Ehem."
Lily masih diam.
"Sayang… ehem?"
Lily menarik napas, dia mendekatkan wajahnya dan CUP. CUP. CUP. CUP.
"Menyenangkan bukan? Coba kau yang berdehem dan aku yang mengecup."
Lily menggelengkan kepala malu.
"Ayolah, ini menyenangkan."
Dan tanpa diduga, David malah meraup bibir istrinya dan menciumnya dalam. Itu bukan kecupan.
"Dav--- hmmppphhhh!"
🌹🌹🌹
"Nyonya Besar, anak anak dalam perjalanan kemari."
"Benarkah? Siapkan makanan untuk mereka."
"Baik, Nyonya Besar."
Oma masih fokus dengan ponselnya, dia melihat lihat pakaian lucu untuk cicitnya. Sampa dia mendapat telpon dari orang yang tidak dikenal.
Oma mengangkatnya sambil mengerutkan kening. "Hallo?"
"Hallo, Ibu."
"Astaga, Dena?"
"Kau ingat aku? Untunglah, anakku tidak ingat aku lagi. Aku ingin datang ke sana dan menemui putraku yang diculik oleh penyihir."
Oma menarik napas dalam. "Penyihir yang kau katakan itu sudah melahirkan keturunan Fernandez, tidak sepantasnya kau mengatakan begitu. David sudah menjamin semuanya, jangan kau khawatir akan kesusahan."
Oma mematikan ponselnya, dia melempar malas jika sudah bersangkutan dengan wanita itu.
"Omaaaaa!" Teriak Athena yang datang lebih dulu. Dia memeluk kaki Oma di sana. "Omaaa!"
"Aduhhai, cicitku yang cantik. Di mana Ares?"
"Makan di bawah. Apa Omma tauuuu?"
"Tau apa?" Oma mendudukan cucunya di pinggir ranjang. "Beritahu Oma."
"Koh Chen akan datang."
"Koh Chen? Siapa itu?"
"Itu Daddy nya Mommy, Oma."
"Benarkah? Kapan?"
"Lusa katana."
"Sendirian."
"Tak tau," jawab Athena sambil mengangkat bahunya. Yang mana membuat Oma gemas dan mencubitnya berulang kali. "Aaaww! Atit!"
"Sudah makan?"
"Dah."
"Mandi?"
"Dah."
"Mau apa sekarang?"
"Main ama Ales," ucapnya lalu berlari menjauhi Oma.
Seribut apa pun, kenyataannya mereka berdua tetap akur. Oma menganggap ini kesempatan emas sebelum diganggu oleh kedua cicitnya
Dia kembali mengambil ponselnya dan menanyakan keberadaan Rio pada Nina.
"Hallo, Nina? Bagaimana?"
"Sedang dalam penelusuran, Nyonya."
"Baiklah, temukan dia."
"Baik."
Saat panggilan terputus, Oma bergumam, "Ya ampun, lihat saja pria tua Rio, kau akan ditemukan."
"Rio?" Ulang sebuah suara.
Oma menatap horror ke arah pintu. Di sana ada Ares yang tersenyum memperlihatkan giginya. Oma tahu betul apa yang ada dalam pikiran anak nakal itu.
🌹🌹🌹
TBC