Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Cinta



🌹VOTE🌹


Luke berjongkok di pinggir sawah dengan terik matahari yang menyengat. Mobil Sebastian mogok, sialnya lagi mereka dilarang masuk ke villa karena David belum meminta izin pada Lily.


"Sampai kapan kita akan di sini?" Tanya Luke.


"Sampai David mengizinkan kita masuk."


"Kenapa kita tidak menyewa tempat lain saja dulu?"


"Aku meninggalkan uangku."


Kening Luke berkerut, dia menatap Sebastian yang merokok. "Aku juga."


"Kenapa kau melakukannya?"


"Bagaimana denganmu?" Luke bertanya balik.


Sebastian menatap Luke yang masih berjongkok di sana. "Aku ingin memeras David. Bagaimana denganmu?"


"Anggap saja begitu."


Sebastian berdecak. "Kau tidak ingin dideteksi oleh Medina bukan?"


"Diamlah."


"Apa kau sangat menderita hidup dengannya? Bukankah kau mencintainya?"


Luke diam, dia tidak tahu ini cinta atau bukan. Memang saat masih kecil, Luke mencintai Medina. Tapi sekarang, cinta pertamanya menjadi berubah. Begitu pun dengan perasaan Luke.


"Kakekku tahu dia cinta pertamaku, makannya menjodohkan kami."


"Klasik sekali."


"Bagaimana denganmu? Kau tidak akan menikah, Bas?"


"Aku mencurahkan hidupku untuk kesenangan, gairah hidup. Wanita selalu memadamkannya, lihat David sekarang."


Luke berdecak, dia meminta rokok pada Sebastian dan merokok dengan posisi masih berjongkok. 


Sampai akhirnya ada pria tua bersepeda, dia berhenti di dekat sana.


"Aa teh sedang apa? Ngadurat?"


"Huh? Saya?" Luke menatap dirinya sendiri.


"Jangan ngadurat atuh, A. Itu di sebelah sana rumah saya, kalau mules mah ke sana aja, jangan di sini dan tidak cebok."


Luke menatap posisinya seketika, dia membelakangi sawah membuatnya terlihat seperti orang yang sedang mulas. Dia segera berdiri. "Saya tidak mulas, Pak."


"Ya iya da sudah keluar, ayo cebok ke rumah saya."


🌹🌹🌹


"Tadi sangat menyenangkan," ucap Lily membuat David yang sebelumnya melamun menjadi tersenyum.


"Apa yang ingin kau lakukan sekarang?"


Sambil melangkah, Lily menggigit bibir bawahnya malu. Dia ingin makan lagi.


"Sayang, ayo berfoto."


"Huh?"


"Aku seringkali memotretmu diam diam, belum memiliki foto yang benar," ucap David mengeluarkan ponsel. "Berdiri di sana, dengan cantik."


"Seperti ini?"


"Tersenyum dengan manis."


Lily melakukannya, dan akhirnya satu jepretan berhasil di dapatkan. 


"Bagaimana?"


"Sayang…" David mendekat. "Pikirkan kembali, aku ingin kau melakukak pemotretan untuk bayi kita. Saat kau hamil, sekaligus foto sebelum resepsi."


"Kenapa kau malu? Baru saja kau terlihat sangat cantik."


Tangan Lily melingkar menggandeng David sambil kembali berjalan di hutan pinus. "Tidak jika itu dirimu, jika banyak orang aku malu."


"Apa yang membuatmu tidak percaya diri?"


Lily diam, dia hanya tidak suka berada diantara banyak orang. Ada banyak kenangan buruk tentang itu.


"Sayang?"


"Baiklah," ucapnya pada akhirnya.


"Benarkah?"


Lily mengangguk, membuat David terkekeh dan mencium puncak kepala istrinya. "Aku akan menghubungi Oma, dia punya rekan yang hebat."


"Aku tahu siapa yang pintar memotret."


David menggeleng. "Jangan bilang itu Radit."


"Ayolah, kau tahu dia pintar memotret."


"Tidak."


"Baiklah," ucap Lily mengalah, dia menyandarkan kepalanya di tangan David sambil berjalan. "Terserah padamu."


"Jangan marah, aku melakukan yang terbaik untuk kita."


"Aku tahu."


"Ayo makan pudding."


Lily tersenyum seketika. "Pudding?"


"Ya, ada resto di sana."


Lily benar benar merasa di hutan. Tempat wisata ini hanya mengizinkan orang yag menginap di villa untuk masuk. Jadi tidak terlalu ramai. Begitu sunyi, apalagi berdampingan dengan sawah.


Lily memesan dua pudding besar rasa straberry dan vanilla. Semetara David hanya memesan kopi.


Keheningan membuat Lily yang melahap makanan tersadar, dia akhirnya menatap David. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Aku ingin menatapmu terus."


"Ada apa?" Lily mengelap ujung bibirnya dengan tissue. "Apa ada yang salah?"


"Sayang, jika bayi bayi kita lahir, aku dan dirimu pasti akan lebih sering menatap mereka. Maka dari itu aku akan menatapmu sekarang, memanfaatkan waktu yang tersisa."


Lily tersenyum malu, dia mengambil pudding pada sendok dan menyuapkannya pada David.


"Kau tidak ingin menatapku, Sayang?"


"Setelah makan pudding aku akan menatapmu."


"Kenapa tidak sekarang saja?"


Lily diam.


"Ah, kau takut tersedak melihat wajahku yang tampan."


Lily hanya membalasnya dengan senyuman, dia terus menyuapi David yang tidak berhenti membanggakan diri.


"Ketampananku ini hanya untukmu, tidak usah malu malu."


"Oke," ucap Lily tersenyum. "Makan ini lagi."


Satu suap untuk David, kemudian untuk dirinya. Saat tatapan beradu, keduanya tertawa tanpa sebab.


Dan, inilah cinta.


🌹🌹🌹


tbc