
🌹Vote ya guys biar bantu cepet update🌹
Makan siang usai, tidak banyak yang dibicarakan. Lily ssbenarnya pusing dengan perdebatan Oma dan David masalah virus Corona dan sekretaris. Oma meminta David untuk memasang pengaman di seluruh tubuh, dan menjaga jarak termasuk dari sekretarisnya.
Lily lebih banyak diam, merendam semua kekesalan sampai akhirnya menjadi abu.
"Oma pulang."
"Hati hati di cegat virus Corona di jalan," celetuk David yang membuat Oma kesal.
"Kau mendoakan Oma agar terkena virus itu?"
"Oma mengerti maksudku."
"Anak durhaka, bule tengik, dasar kau!"
"Oma, Lily akan mengantarkan," ucap Lily menyentuh bahu Oma guna menenangkannya. "Oma jangan marah marah lagi, tidak baik untuk kesehatan Oma."
"Dengarkan dia, Oma bisa darah tinggi dan mati lebih cepat."
Oma merasakan pusing dengan perdebatan, dia hampir tidak bisa berkata kata sampai mengucapkan, "Dasar kau bule tua!"
"David tidak tua, Oma."
"Kau tua, Lila pantas menjadi anakmu, bukan istrimu."
"Kami hanya berbeda 16 tahun."
"Ya, dan seharusya Lily mendapatkan yang seumuran dengannya, bukan bule tua sepertimu."
"David tidak tua, Oma."
Tidak tahan, akhirnya Lily bersuara. "David tua hanya umurnya saja, Oma. Dia masih muda, jiwanya masih muda."
"Dengar bukan Oma?"
"Dia bahkan seperti anak kecil yang ingin dimandikan," ucap Lily pelan.
Hal itu membuat David sadar, dia menoleh kesal. "Apa?"
"Tidak, kau salah dengar. Kembalilah menonton Tv."
David kembali fokus pada game di layar televisi, dia mencoba tidak menghiraukan Oma yang berkata sepanjang tol dan secepat kereta di belakang sana.
David berkata pada istrinya, "Sayang, aku ingin plum."
"Sebentar," ucap Lily melangkah menuju dapur. Di sana ada Eta yang sedang menata sebuah botol berwarna bening dengan rempah di dalamnya. "Apa itu, Eta?"
Eta terkejut, dia berdiri dan bingung menjawab apa. "Itu…."
"Apa itu, Eta? Ramuan sejenis alkohol?"
Beruntung saat itu Oma datang dan melihat Lily merebut botol dari Eta dan melihatnya. "Ini seperti jamu, aku suka minum jamu."
"Jangan, Lila," ucap Oma merebut dan kembali menutup botolnya, dia kembali memberikannya pada Eta. "Simpan itu, Eta."
"Jamu apa, Oma? Lily suka minum jamu."
"Jangan, itu untuk David."
"Untuk David?"
Oma mengangguk. "Ya, kau harus memberikannya pada David, oke? Bilang padanya itu obat biasa."
"Sebenarnya?"
Oma bingung. "Apa?"
"Itu jamu apa, Oma?"
"Itu adalah jamu untuk pria, supaya perasaan David kuat."
"Perasaan David?" Lily bingung.
"Agar perasaan David kuat, iya begitu," ucap Oma berbohong. Dia tahu dan mengira Lily akan menolak jika itu obat kuat untuk kejantanan David, padahal dibalik itu, jamu ini membuat benih David lebih berkualitas.
"Perasaan Oma?"
"Iya perasaan," ucap Oma lagi. "Ada apa memangnya?"
Lily bergumam tidak karuan, dan saat itulah David mendekat mencari buah yang dia inginkan. "Aku pikir wanita yang selalu disebut makhluk lemah, lalu kenapa pria minum obat kuat? Berarti mereka lemah."
"Aku tidak lemah," ucap David sontak.
Membuat Oma yang ada di belakang Lily mencoba menghentikan ucapan David.
"Apa?" Tanya Lily pelan.
"Aku tidak lemah, buktinya aku pernah melakukannya sampai 8 jam, iya kan?"
"Apa ini? Kita membicarakan perasaan bukan?"
"Huh?" David bingung menatap Oma.
🌹🌹🌹
Seperti perkataan David, Marylin datang saat waktu sore. Dia membawa beberapa gaun yang dirancangnya untuk dipakaikan pada Lily.
David menunggu di ruang televisi sambil menonton serial barat, menunggu Lily yang sedang mencoba gaun dengan Marylin di kamar lantai satu.
Karena terlalu lama, David mendekat dan mengetuk kuat. "Apa yang sedang kalian lakukan?! Marylin! Jahi istriku!"
Marylin bergegas keluar dengan angkat tangan. Dia menutup pintu supaya David tidak masuk. "Janga Tuan, Nyonya sedang ganti baju."
"Kau mengintip?"
"Tidak, Tuan. Demi Tuhan, kau tahu aku sudah…." Marylin memperagakan dengan tangannya dengan gunting. "Paham maksudku bukan?"
"Diamlah," ucap David merasa jijik.
"Lagipula aku tergoda oleh perut kotak kotak ketimbang dada wanita."
Seketika David menjauh, tanpa berkata dia kembali menonton televisi dan duduk di sofa dengan soda.
Lily terlalu lama di dalam, membuat David tidak sabaran melihat bagaimana cantiknya gaun yang dibuat Marylin dalam tubuh istrinya yang mungil.
Dan saat itulah, Lily yang selesai memakai gaun pertama keluar.
"David….," Ucap Lily berjalan mendekat. "Bagaimana?"
Marylin yang ada di belakang Lily tersenyum, dia mulai menjelaskan semuanya, "Ini adalah rancangan pertama, dengan desain yang sedikit erotis yang akan menekan jiwa pendiam Nyonya Lily."
"Tidak," ucap David membuat Lily menghela napas. Pasalnya dia juga tidak nyaman dengan pakaian itu.
"Tuan… ini membuat Nyonya semakin menarik perhatian orang lain, dia akan bersinar."
"Tidak dengan menampakan tubuhnya, ganti."
Marylin berdecak, dia kembali membawa Lily ke dalam kamar. "Ini gaun selanjutnya, Nyonya," ucap Marylin membawakan gaun berwarna hijau muda.
Lily tidak tertarik denga itu, dia suka dengan model gaun ball gown, dan itu ada di sana. Salah satu gaun buatan Marylin yang berwarna ungu muda.
"Aku suka yang itu, Marylin," ucap Lily menunjuk pada apa yang dia suka. "Itu untukku bukan?"
Marylin sedikit risau, pasalnya itu bukan untuk Lily, tapi pelanggannya yang lain. Namun, jika David tahu dia kembali menerima pesana orang lain, dirinya akan tamat.
"Ya, Nyonya, tentu saja. Silahkan coba."
Lily menerimanya, dia menempelkan gaun itu di tubuh guna mengukur. "Ini terlalu besar."
"Akan aku kecilkan," ucap Maryli mengambil kembali, dia menjahit dengan tangan di sebuah kursi rias dengan wajah was was.
"Ada apa, Marylin?"
"Hehe, tidak ada Nyonya."
Lily duduk di ranjang dengan jubah yang dia pakai untuk menutupi tubuhnya. "Marylin…"
"Ya?"
"Bolehkan aku bertanya?"
"Kau adalah majikanku, Nyonya."
"Jangan seperti itu," ucap Lily tidak suka. "Apakah kau bekerja pada David sudah lama?"
"Tidak, aku bekerja menetap padanya setelah dia menikahimu. Sebelumnya hanya desainer panggilan saja."
"Oh…."
Ekspresi Lily mudah dibaca oleh Marylin, kebetulan juga Marylin pernah mempelajari arti dari tatapan mata.
"Tuan David tidak pernah memanggilku secara khusus untuk wanitanya, selain dirimu tentunya."
"Aku tidak bertanya."
"Semuanya jelas, Nyonya. Kau ingin tahu."
"Jelas tidak," ucap Lily menyembunyikan rasa ingin tahunya.
Sampai kembali terdengar suara ketukan pintu. "Apa yang sedang kalian lakukan di dalam?"
"Astaga, Nyonya, bantu aku." Marylin seketika mendekat dan bersimpuh di bawah kaki Lily. "Bantu aku, Nyonya."
"Astaga, apa yang harus aku bantu?"
"Sebenarnya baju ini untuk orang lain. Jika Tuan tahu, dia akan memenjarakanku. Maafkan aku Nyonya, ini yang terakhir kalinya. Aku janji," ucap Marylin masih memohon.
Dan kembali terdengar ketukan, "Hei, apa yang kalian lakukan di dalam? Buka."
"Aku ingin memakai baju itu," ucap Lily. "Bisa kan?"
"Tentu, Nyonya. Apapun untukmu. Asalkan Tuan tidak tahu."
Lily mengangguk. "Dan setelah ini kau harus patuhi perjanjiannya."
"Baik, Nyonya Muda."
Dan Lily berdiri, dia membuka pintu kamar, tapi tidak mengizinkan David masuk.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Marylin sedang menjahit bagian yang kurang."
"Oh,.... Kenapa kau tidak keluar?" Tanya David kesal.
"Aku ingin dia membuat gaun sesuai keinginanku." Lily mengerucutkan bibirnya, dia mengulur waktu dengan bertanya, "apa kau ingin makan cemilan? Aku buatkan."
David menatap Lily dari atas sampai bawah, dia hanya memaka jubah. David pikir di dalamnya Lily tidak memakai apa pun.
"Ya, bawa cemilan itu ke kamar. Aku ingin memakannya di sana."
Lily mengangguk, dia membiarkan David naik ke lantai dua lebih dulu. Lily membuatkan David seduhan teh hangat dengan brownies yang dia buat bersama Oma. Membawanya ke atas di mana David ternyata sedang membuka pakaiannya di walk in closet.
"Apa kau ingin mandi lagi?"
"Tidak, aku hanya ingin tidak memakai baju," ucap David melewati Lily dan berjalan menuju sofa di mana cemilannya berada.
David hanya memaka boxer, membuat Lily menelan ludahnya kasar. Dia sudah biasa dengan pemandangan seperti ini, tapi terlalu biasa membuat Lily selalu merasakan hal aneh. Otaknya selalu memutar adegan dirinya yang panas bersama sang suami.
"Lily Sayang, kunci pintunya."
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin ada serangga mengintip, apalagi aku sedang tidak pakai baju."
Lily tidak bisa berkata kata, dia melakukannya dan melangkah saat David berkata, "Kemarilah, Sayang. Datang padaku dan suapi aku. Kau pasti menginginkannya."
Dan setengah jam setelah David mengatakan itu, Marylin selesai dengan gaunnya.
Dia keluar dan mencari sosok majikanya. "Tuan? Nyonya?"
Tidak ada jawaban. Marylin melangkah ke lantai dua, hendak mengingatkan mereka.
"Tuan? Nyonya?"
Sialnya, kamar David dan Lily itu kedap suara. Yang membuat Marylin merasa dirinya sendirian di sana. "Halloooo? Apa kalian pergi ke luar? Hallooooo?"
Dan Marylin memilih turun, menunggu keduanya kembali cukup lama. Sambil duduk di sofa, tidak ada yang bisa dia lakukan.
"Ini sudah dua jam, kemana mereka pergi? Apa mereka berbelanja? Atau ke mana?"
Kembali lagi, Marylin memanggil. "Tuan… Nyonyaaaa?"
🌹🌹🌹🌹
love love love love love love you all so much.
to be continue... ha ha ha ha ha.