
🌹Ajak yang lain baca ini kuy🌹
Lily mengedit foto sedemikian rupa hingga menjadi apa yang diinginkan Radit. Dia menguap lebar saat pengeditannya selesai, Lily meregangkan tubuhnya kemudian mengusap perutnya yang mulai membuncit. Karenakan ada dua janin di dalam tubuh Lily.
"Astaga, aku lelah," ucap Lily membaringkan tubuh di ataa sofa depan televisi, kakinya dia sengaja naikan ke atas meja untuk meluruskan tubuh.
Lily mengusap perutnya yang membuncit. "Apa kalian juga lelah?"
Di usianya yang akan menginjak dua puluh tahun, Lily akan menjadi seorang ibu. Dia tahu dirinya masih muda, tapi dia akan menjadi sosok yang selalu ada untuk anak anaknya nanti.
"Mama akan selalu bersama kalian."
Sambil tiduran, Lily membaca sebuah novel bahasa Inggris. Membuatnya semakin paham kosakata. Hingga Lily berpikir jika dirinya bertemu dengan orang luar.
"Jika aku bertemu dengan orang asing nanti, aku akan bisa menjawab dan berbicara dengan mereka." Lily yakin pada dirinya.
"Kita akan memulai percobaan," ucapnya lagi. "Hallo, Tuan, namaku Lily Fernandez, aku adalah…."
Kalimat Lily mulai pelan, dia mengingat apa yang dikatakannya. Membuatnya menutup buku dan mengusap perut. "Maafkan Mama, Sayang. Bagaimana kalau kita mengirimkan foto foto editan ini pada Paman Radit?"
Lily berkomunikasi seolah olah sosok kedua anaknya ada di sana.
Lily keluar dari apartemen dengan membawa flash disc milik Radit. Dia mengetuk pintu dari luar. "Kak! Kak Radit! Kak!"
"Kenapa kau tidak sabaran?" Tanya Radit membuka pintu.
Lily yang sudah merasa Radit adalah saudaranya, masuk begitu saja ke apartemen pria itu. "Apa kau punya cemilan?"
"Makanan di tempatmu lebih banyak, Tina. Kenapa meminta pada Kakak?"
"Aku ingin makan ice cream, Kak."
"Lalu?"
Lily tersenyum manis. "Tolong belikan ke bawah, aku lelah harus turun."
"Bukankah ada lift?"
"He he, lift nya terasa sangat lama, jadi aku pegal. Ayolah, Kak, bantu aku, tolong belikan."
Radit yang sebelumnya sedang memodifikasi kamera itu berdecak. "Mana uangnya?"
Berpura pura tidak mendengar, Lily menunjuk televisi. "Wow, di sini ada channel luar negara. Aku ingin melihatnya."
Radit kembali berdecak saat melihat Lily malah merebahkan diri di sana sambil tersenyum lebar, dia mengerti apa yang diinginkannya. "Rasa apa?"
"Strawberry."
"Baiklah, tunggu di sini."
"Aku menunggumu."
Radit segera memaka jaket, dia bergegas turun ke bawah. Saat dalam lift, Radit di telpon oleh wanita yang mengadopsinya saat dia masih kecil.
"Hallo, Bu?"
"Nak, kapan kau pulang? Kau berjanji pada Ibu hanya pergi ke luar sana selama satu bulan, lalu bulan berikutnya kau pulang."
Radit terdiam, memikirkan banyak hal. "Nanti aku hubungi Ibu lagi ya."
"Radit, Ayah ingin kau segera menikah dan berkeluarga. Dia sakit kembali."
"Ayah sakit, Bu?" Radit terkejut.
"Iya, dia sakit, lekaslah pulang."
Saa lift terbuka, Radit berjalan sambil menelpon.
"Bu, kau ingat wanita bernama Lily Kristina?"
"Bagaimana bisa Ibu lupa, kau selalu menceritakannya setiap saat. Kau juga selalu memeluk foto masa kecilnya. Ada apa? Kau berjumpa dengannya? Ibu tidak keberatan kau menikah dengannya."
Radit menarik napas dalam. "Bu, dia sudah menikah, tapi pernikahannya sedang diambang kehancuran. Dia pergi dari rumahnya dalam keadaan hamil."
"Apa? Apa kau ingin merebut istri orang?"
"Bukan begitu, Bu."
"Kalau pernikahan itu memang sudah tidak bisa diselamatkan, kau boleh merangkulnya. Tapi jika kau melihat peluang untuk perbaikan, bantu dia, Nak. Jangan egois dengan perasaanmu, apalagi dia sedang hamil, dia butuh sosok suami di sampingnya. Jangan hanya ikuti kata hati, tapi gunakan akal."
Radit diam sesaat, dia merenungkan perasaannya pada Lily selama ini. "Radit mengerti, Mama."
"Bagus, bantu dia dahulu untuk kembali pada suaminya. Dan lekaslah kau pulang, Ayahmu tidak bisa lagi memimpin perusahaan. Jika mereka tahu Ayahmu sedang sakit, saham akan turun."
"Radit mengerti, Ibu."
"Dan kau masih di apartemen jelek itu?"
"Ibu…."
"Lekas bantu Tina, dan pulang cepat. Dia bukan jodohmu mungkin, bantu dia kembali dengan suaminya."
Ada ketidakrelaan saat Ibunya mengatakan itu, dia ingin Lily tidak tersakiti lagi.
"Radit?"
"Baik, Ibu."
🌹🌹🌹
Radit mengerutkan kening melihat caffe di bawah tidak diunjungi siapa pun, berbeda dengan sebelumnya yang selalu ramai.
Radit masuk ke dalam, dia mendekati bar ice cream.
"Bisa berikan rasa vanilla?"
"Baik, berapa tumpuk?"
"Tiga saja. Tolong dikemas dengan baik."
"Baik." Pelayan itu memasukannya ke dalam box khusus kecil.
"Ini, Tuan."
"Berapa?"
"Lima puluh ribu."
Radit membayarnya sesuai harga, dan saat dia hendak keluar, seseorang memanggil namanya. "Tuan Radit?"
Radit berbalik melihat satu satunya pengunjung di caffe ini. Dia mengerutkan keningnya merasa kenal. "Holland?"
"Tuan, bisa kita bicara sebentar."
"Baiklah, aku akan membuatmu senyaman mungkin."
"Sebaiknya kau cepat," ucap Radit duduk di kursi. "Aku membawa ice cream."
"Untuk Nyonya Muda Lily?"
Radit menegang, dia baru sadar kalau Holland adalah bawahan David yang berarti pria itu yang memberinya perintah untuk mencari. Membuatnya menelan ludah kasar dan tidak membalas perkataannya.
"Tuan Radit, saya perlu bantuan anda."
"Dia akan datang?"
"Dia ingin memperbaiki semuanya."
Radit ingat kata kata ibunya seketika. "Apa yang bisa aku bantu?"
"Saya ingin meminta bantuan, agar anda memberi pengertian pada Nyonya Lily agar mau bicara dengannya. Tuan Muda punya penjelasan dan alasan di balik semua kejadian itu."
Radit masih diam, sisi iblisnya menginginkan Lily bersamanya.Â
"Tuan? Radit?"
"Ya?"
"Tolong bantu kami."
"Baiklah, aku akan kembali dan mencoba bicara dengan Tina. Sebaiknya aku bergegas sebelum ice cream ini mencair."
"Baik, Tuan. Terima kasih."
Sepanjang langkah, Radit memikirkan perkataan Ibunya dan Holland. Kenapa sungguh kebetulan Radit ditelpon lalu berjumpa dengan Holland, seolah semesta memberinya petunjuk untuk mundur. Padahal, Radit berencana untuk membantu Lily jika dia ingin bercerai, pasalnya Radit adalah sarjana Hukum S2.
Sesampainya di apartemennya, dia melihat Lily sedang memasak. Sisi iblis Radit kembali membayangkan jika Lily adalah istrinya dan melakukan itu setiap hari.
"Kenapa kau melihatku seperti itu, Kak?"
"Apa?" Radit mengerjapkan mata.
"Ini ice creamku?" Lily mendekat dan mengambilnya.
"Ah, iya, itu milikmu."
"Kenapa kau lama sekali?"
"Aku bertemu dengan seorang teman."
"Pantas saja," gumam Lily membawa sesuatu yang baru dia masak dengan ice cream nya ke atas meja depan tv.
"Apa yang kau masak, Tina?"
"Aku menggoreng sosis dari dalan kulkas, tidak masalah bukan?"
"Kau makan sosis dan ice cream di saat bersaman, Tina? Apa kau serius?"
Lily seketika berhenti mengunyah, hatinya masih sensitiv sama seperti sebelumnya.
Membuat Radit segera mengangkat kedua tangannya ke udara. "Maaf, ampun. Aku tidak bermaksud begitu."
"Kakak tahu aku sangat sensitive, jangan menyinggung apa pun padaku. Aku ini mudah menangis."
Radit terkekeh, dia mengusap kepala Lily. "Seingatku kau gadis tangguh dulu."
"Ya itu dulu saat hatiku masih satu, sekarang hatiku ada tiga."
Radit kembali terkekeh, rasanya senang melihat Lily makan banyak dan betah di apartemennya. Sampai Radit teringat sesuatu, dia berdehem, "Lily, aku ingin bicara mengenai David."
Lily kembali berhenti mengunyah, dia menatap Radit dengan air mata berlinang. "Jangan dia lagi, aku mohon. Kau ingin aku menangis semalaman, Kak?"
"Aku belum bisa melupakannya."
🌹🌹🌹
Sore hari yang cerah, secerah wajah David yang akan bertemu dengan kekasihnya. Dia berpakaian rapi, membawa sebuah kotak kecil di saku berupa cincin. David akan melamar Lily dan anak anaknya dan meminta mereka untuk menjadi bagian dari hidupnya.
Sebelum keluar apartemen, David menelpon Oma dahulu.
"Hallo, Oma?"
"Sayang, semoga kau beruntung."
"Terima kasih, Oma."
"Maaf Oma tidak mendengarkanmu sejak awal."
"Tidak apa, Oma. David mengerti pendengaran Oma memburuk seiring berjalannya waktu."
Seketika Oma yang sedang dalam mode melow itu menggertakan giginya. "Dasar cucu tengik! Sudah pergi sana dan bawa istrimu pulang."
David terkekeh mendengar kembali celotehan Oma. Dan Oma bisa menandai, jika David berani mengganggunya, berarti suasana pria itu sedang stabil.
"Doakan aku, Oma."
"Oma selalu mendoakanmu."
Setelah mematikan telpon, David turun dan menaiki mobilnya. Dia menuju ke tempat yang Holland maksud.
Tidak berselang lama, akhirnya dia sampai. Di sana David melihat Holland sudah menunggunya. David berjalan bergegas. "Kau tahu nomor apartemennya?"
"Ya, Tuan. Lantai sembilan nomor dua ratus lima."
Mendengar itu, David segera bergegas menuju tempat yang dimaksud.
Saat sampai di depan pintu, jantungnya berdetak kencang. David memberanikan diri mengetuknya empat kali.
Sampai terdengar suara, "Sebentar."
Lalu di susul dengan suara pintu terbuka. Jelas Lily terlihat kaget dengan keberadaan seseorang yang dia benci di sana.
"David?"
Dan tatapan rindu David turun ke perut Lily, di mana ada bukti percintaan mereka. Buah hati mereka yang menjadi saksi bisu. Tatapan David terlihat haru, dia tersenyum lalu kembali menatap istrinya.
"Sayang, aku merindukan kalian."
🌹🌹🌹
to be continue
ha ha ha ha ha ha a a a a a a a a a a a a a a a a