Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Terpentuk



🌹Maaf agak pendek ya, agak sibuk hehe🌹


"Tidak mual lagi?"


Lily mengangguk, dia diam berdiri saat melihat David merentangkan tangannya. Melihatnya saja membuat Lily ingin muntah, pasalnya David bau kiwi.


"Sayang, kemarilah."


"Aku…. Mengantuk. Em… bisakah kau gosok gigi?"


"Baiklah, tentu," ucap David bergegas masuk ke kamar mandi. 


Dan ketika David masuk, Lily turun ke lantai bawah untuk menyingkirkan aroma kiwi di mulutnya. Dia mencari strawberry, dan memakannya habis satu bungkus besar.


Hal itu membuat Lily mengantuk, dan dia tertidur di sana.


Saat itulah David keluar dari kamar mandi, dia mencari keberadaan istrinya. "Lily Sayang?'


Tidak adanya jawaban membuat David bergegas turun ke lantai satu. Di sana dia melihat istrinya terbaring tidur.


"Ah, Sayangku."


David segera membopongnya ke atas, dia menidurkannya di sana. "Kenapa kau tidak memeluku lagi dan malah muntah?"


David bertanya pada dirinya sendiri.


"Apa jangan jangan Oma yang memberitahumu?"


David segera menelpon Oma.


"Hallo, Oma?"


"Apa kau tidak punya jam?"


"Apa?"


"Jam, kau tidak punya jam?"


"Apa yang Oma dan Lily bicarakan?"


"Memangnya kenapa?"


"Lily tidak lagi menangis dan memelukku."


"Kau ingin membuat istrimu menderita?"


"Oma…," rengek David pada neneknya.


"Apa? Ini sudah malam, cucu tengik. Oma mau tidur. Bye."


🌹🌹🌹


Lily menunduk saat David membuka pakaiannya satu per satu hingga tidak tersisa. Lily kembali melakukan ini, dia memandikan suaminya yang hendak berangkat ke kantor.


Melihat Lily yang hanya diam di belakangnya, David berbalik, membuat Lily menunduk kembali seketika.


"Kenapa?"


"Tidak."


"Ayo mandi bersama," ucap David lebih dulu masuk ke dalam bathub. "Airnya hangat, kau akan suka. Ayolah, aku ingin mengusap perutmu."


Lily menurut, dia membuka pakaiannya perlahan dengan malu malu. Tiga bulan dia berpisah dari David, dan sekarang kembali bersama dalam hari hari panas.


Saat Lily membuka pakaiannya, David menelan ludahnya kasar. Kehamilan Lily membuat beberapa titik tubuhnya membengkak, termasuk dadanya yang kenyal. Juga bagian bokong yang semakin berisi. Lily sangat seksi dan menggairahkan.


"Kemarilah."


Lily masuk ke dalam bathub yang terasa hangat, dia langsung di sambut pelukan David dari belakang yang mengusap perutnya.


"Kemarin lusa aku sudah periksa."


"Tapi aku tidak tahu."


"Baiklah," ucap Lily merasa geli saat David mengusap perutnya dengan ujung jari. "Apa…"


"Katakan, Sayang."


"Apa kau ingin aku bawakan makan siang?"


"Tidak perlu, Oma bilang dia akan datang bersama Mete, kau bisa mulau bersenam kehamilan. Oma bilang itu sangat sehat dan membantumu lancar saat persalinan nanti."


Lily mengangguk paham.


"Dan, Sayang…."


"Ya?"


"Aku ingin tidur bersamamu nanti malam."


Lily mengerutkan keningnya bingung, tapi berusaha menyembunyikannya.


"Boleh kan?"


Dengan suara pelannya dia menjawab, "Semalam juga kita tidur bersama."


Seketika usapan tangan David berhenti, dia baru sadar wanita yang ada dalam pelukannya masih bocah. 


"Maksudku, aku dan dirimu……. menyatu," bisik David di kata terakhir.


Yang mana membuat Lily merinding, wajahnya memerah malu. Lily menunduk sambil menghalau tangan David memegang dadanya dengan cara menutupi.


"Bagaimana, Sayang?"


"Em…. Itu…."


"Apa? Ayo katakan padaku. Bagaimana? Nanti malam aku akan pulang lebih cepat."


"Tapi…."


"Apa yang kau khawatirkan hm?"


Lily berucap pelan dan malu malu. "Di perutku ada bayi, David. Ada dua."


David tertawa. "Oleh karena itu aku ingin mengunjungi mereka, Sayang. Aku yakin mereka merindukan Papa nya."


"Mengunjungi?"


"Ya, bagaimana?"


David melihat Lily tampak khawatir, dia gusar dalam pelukannya. "Bagaimana Sayang? Aku juga yakin kau merindukan suamimu yang tampan ini bukan?"


"Tapi… itu…"


"Katakan, Sayang."


Lily menarik napasnya dalam dan mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. "Bagaimana jika bayi bayi kita terpentuk kepalanya saat kau masuk?"


"A… apa?" David kehabisan kata kata. "Terpentuk?"


Lily mengangguk malu malu. "Milikmu terlalu panjang, bagaimana jika kepala bayi bayiku terpentuk?"


David diam seketika, dia berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Dan bertanya dalam hati, 'Bagaimana pikirannya sampai di sana? Astaga, istriku benar benar masih kecil. Astaga, Astaga. Terpentuk? Ha ha, yang benar saja aku ingin menoyor kepala anak anakku.'


🌹🌹🌹


to be continue