Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : David Ganteng



🌹Voteeee dong ghaisss.🌹


🌹Terus jangan lupa follow ig emak di : @RedLily123🌹


“Setelah sekian purnama, akhirnya aku bisa makan dengan tenang,” ucap David saat Sebastian kembali masuk ke dalam ruangannya. “Kau sudah mengantarkannya?”


“Ya.”


“Pastikan dia pergi dari negara ini.”


“Akan aku lakukan, tapi setelah itu berhenti meminta bantuanku.”


“Kenapa?” tanya David dengan tawa tidak percaya.


Dan jawaban Sebastian yang tidak ada membuat David mengangguk angguk seolah paham. “Aku paham, tenang saja. akan aku kirim uang sesuai yang kau inginkan.”


“Berhenti meminta bantuanku,” ucap Sebastian kesal.


Dia mengambil sumpit lain dan memakan makan siang milik temannya.


“Tapi kau yang bagus dalam menggertak, Bas. Kau memiliki wajah menakutkan, aku heran apakah benar orangtuamu bukan mantan mafia.”


“Tutup mulutmu.”


“Oke.” David mengatupkan bibirnya seketika.


“Berjanjilah ini yang terakhir.”


“Kau mau pergi kemana huh?” tanya David kesal. “Kau mau kemana?”


“Aku akan menikahi seseorang, kupikir. Aku sedang mencari calon istri.”


“Gadis kampong itu? Siapa namanya? Nani?”


“nana. Namanya Nana. Berhentilah merubah nama orang.”


David berdecak sebelum akhirnya merebut sushi yang ada di sumpit Sebastian. “Makan siang ini milikku.”


“Berhenti meminta bantuanku selama sebulan ini.”


“Kau akan menikah?”


“Berhenti bertanya.”


Dan makan siang diwarnai dengan keheningan. Sampai David mengingat kembali satu temannya yang jarang bergabung. “Apakah Luke sudah diborgol lagi oleh Medina? Dia tidak pernah bergabung lagi.”


“Aku tidak peduli, tapi sepertinya dia memang akan kembali ke Swiss.”


“Dia tidak izin pada kita?” tanya David kecewa.


“Dia akan kembali ke sini, aku pikir.”


“Kau lebih sering berfikir akhir akhir ini.”


“Siallaaaaan.”


Setelah makan siang, Sebastian pergi dari sana. Dia juga punya banyak pekerjaan, tapi jika salah satu adiknya mengalami masalah, dia yang selalu pertama turun tangan untuk membantu. Meskipun itu membuatnya sedikit rugi karena meninggalkan banyak pertemuan berharga, Sebastian senang bisa membantu Luke dan David. Apalagi David, dia sangat suka melihat keluarga temannya itu harmonis.


🌹🌹🌹🌹🌹


Sebelum menjemput istri dan anak anaknya di toko bunga, David menyempatkan diri membeli roti madu dan strawberry kesukaan anak anaknya.


Saat memarkirkan mobil, dia melihat anak anaknya yang sedang bermain di balkon lantai dua.


“Selamat datang, Tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pelayan yang menyambutnya.


Sepertinya dia tidak tahu siapa David. “Aku ingin menemui istriku.”


“David!” panggil Lily yang sebelumnya ada di belakang. “Kau datang?”


Lily tertawa, dia melakukannya. Tidak lupa dia juga memberikan kecupan di pipi suaminya. “Anak anak ada di atas.”


“Aku membeli cemilan.”


“naiklah, nanti aku menyusul.”


“Jangan terlalu lelah,” ucap David mengusap perut istrinya.


Yang dibalas anggukan oleh sang istri. “Anak anak menunggu.”


Saat berada di lantai dua dan membuka pintu ruangan istrinya, David melihat banyaknya mainan berserakan.


“Astaga, Kids. Jangan membuat ruangan Mommy berantakan,” ucap David mendekat. “Ayo bereskan lagi.”


“Oma yang mengizinkan, sudah biarkan saja.”


“Astaga, Oma,” ucap David terkejut saat melihat Oma berdiri di balkon seperti hantu. Apalagi dia tidak bergerak sama sekali.


“Apa yang Daddy bawa?”


“Tentu saja itu makanan, Thea. Benar kan, Daddy?”


“Ya, kemarilah. Daddy bawa strawberry untuk kalian.”


“Yeayyyyy!” keduanya berlari ke arah David di sofa.


“Oma, kemarilah,” panggil David. “Oma.”


“Oma daritadi begitu, Daddy.”


“Betul, Oma diam saja dali tadi.”


“Apa kalian membuat Oma kesal?”


Ares tertawa. “Aishhh, Daddy sedang bicara dengan anak paling baik di dunia.”


“Pun dengan Thea yang cantik.”


David tidak bisa berkata kata. “Makan ini, Daddy akan menemui Oma dulu.”


“Okey!”


David melangkah menuju Oma yang hanya menatap ke depan saja. dia berdiri di samping Oma. “Oma, ada apa?”


“Kau baru menemui Emma?”


David menegang. “Aku sudah membereskannya, Oma. Tanya saja Sebastian, aku mengusirnya. Jadi jangan khawatir sampai melamun seperti ini.”


“Siapa yang melamunkan itu?”


“Lalu kenapa Oma diam saja di sini.”


“Ada yang maling kendang, dia berlari dari ke sana tadi.”


David yang tidak mendengarkan dengan baik itu malah tertawa. “Mana ada maling kundang berlari, Oma. Dia sudah menjadi batu.”


Saat itulah Oma menatap David dan menggeleng. “Benar benar ganteng.”


“Akhirnya, Oma sadar aku ini ganteng.”


“Ya, kau gangguan telinga.”


“What?!”


🌹🌹🌹🌹


TBC