Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Isi hati



🌹VOTE🌹


"Berhenti tegang."


"Tidak, Oma," ucap Lily yang kembali merasakan lagi suasana pernikahan. Posisinya kini dirinya tengah mengandung anak David. Dia akan kembali mengucapkan janji suci.


Yang membuat Lily khawatir adalah keberadaan kamera di mana mana, Lily gugup sekali sampai dia ingin buang air kecil terus menerus.


"Lila, Oma bilang jangan tegang."


Tidak dipungkiri Lily sangat gugup menghadapi para tamu nanti.


Oma berdecak kesal, dia berdiri dan mengatakan pada google, "Oke google, lagu sambalado."


Dan tidak lama diputarlah lagu sambalado milik ayu ting ting yang membuat Oma bergoyang kesana ke mari.


"Oma, apa yang Oma lakukan? Ingat punggung, Oma."


"Diamlah, berjoget seperti ini menghilangkan ketegangan."


"Oma sudah, nanti pinggang Oma sakit."


Lagu sambalado terus berputar dengan Oma yang berjoget. "Sambala sambala bala bala bala, astaga, Oma ingin bala bala. Etaaaa!"


Segera Eta datang, dia terkejut melihat Oma yang menari. "Nyonya Besar, hentikan. Pinggang anda bisa sakit."


"Aku tegang menjadi brides maid, Eta. Diamlah, belikan aku bala bala."


"Ba… baik, Nyonya Besar."


"Oma, hentikan, nanti riasan Oma luntur."


Dan karena kalimat itu Oma membanting hapenya dan berteriak. "Tidaaaak! Risanku takkan luntur, Lila."


Oma berlari dengan punggungnya yang bongkok menuju cermin. "Tidak luntur, Oma memakai make up permanent."


"Waterprof, Oma. Bukan permanent."


"Iya, itu," ucap Oma lalu duduk kembali di samping Lily. "Oma bosan, ceramahnya lama sekali. Nanti jika sudah selesai, akan Oma marahi pastor itu."


Lily tersenyum melihat tingkah Oma.


"Saat Oma menikah, apa Oma tegang?"


"Oma mulas."


"Apa?"


"Semalam sebelum pernikahan, Oma membeli ceker pedas, yang membuat Oma terus buang gas keesokan harinya."


"Oma buang gas saat mengucapkan janji suci."


"Tentu tidak, memangnya Oma itu David yang suka buang angin sembarangan."


"David tidak pernah buang angin sembarangan, Oma."


"Itu tandanya dia belum nyaman denganmu."


Seketika wajah Lily menjadi muram. "Apa? Tidak nyaman?"


Lily terekejut bukan main. "Tapi David belum pernah buang angin di dekat Lily. Apa dia tidak nyaman dengan Lily?"


"Lila, kau mendominasi dirinya. Maka dari itu dia ingin sempurna di matamu. Sudah jangan membicarakannya, seharusnya kau bersyukur David tidak kentut di dekatmu. Aromanya bau biuk."


Dan tidak lama setelah Oma mengatakan itu, ada yang memanggil, "Nyonya, anda dipersilahkan menuju altar."


🌹🌹🌹


Lily berulang kali menyembunyikan tatapannya dari para tamu, apalagi saat mereka datang dalam bahasa asing dan berbicara dengan David. Ditambah dengan suara jepretan kamera yang membuat Lily gugup.


Setelah tamu itu pergi, Lily kembali duduk sambil mengusap perut. "Apa kau baik baik saja, Sayang?"


"Iya."


"Kau terliht tidak nyaman, apa karena aku mengecup di dahi tadi? Bukan di bibir?"


"Bu… bukan, David."


"Tenang saja, Sayang. Nanti aku akan melahapmu hidup hidup setelah ini."


"David…" Lily menarik napasnya dalam merasakan ketiaknyamanan.


Mengerti dengan prilaku istrinya, David menggenggam tangan Lily. "Tidak apa, Sayang. Aku ada di sampingmu."


"Aku malu."


"Kita berdansa?"


"Aku tidak bisa."


"Injak kakiku," ucap David membawa Lily berdiri untuk berdansa.


Para kamera langsung menuju ke arahnya, membuat Lily menyembunyikan wajahnya di dada David.


Sampai alunan orkestra terhenti oleh suara dari mic, "Maaf aku mengganggu kalian."


Lily menoleh ke sumber suara, dia terkejut melihat ayah biologisnya ada di sana.


Saat David henak memberi isyarat pada Holland, tangan Lily menghentikan. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukannya.


"Sayang."


"Biarkan."


"Maaf aku mengganggu kesenangan kalian, tapi apakah kalian tahu? Aku adalah ayah biologis dari wanita yang menikah dengan Tuan Fernandez. Aku tidak mengiringnya ke altar, tahu kenapa? Aku membuangnya saat dia masih bayi."


Seketika para tamu menjadi riuh, David mengisyaratkan dengan tangan agar para bodyguardnya diam.


"Aku membuangnya. Tahu alasannya? Karena aku bodoh." Tuan Chen menangis di sana. "Aku bodoh dan tidak punya otak, aku membuang bayiku dan berharap dia mati. Lily tumbuh di panti, pendidikan yang tidak memumpuni dan kasih sayang tidak pernah dia dapatkan. Aku mengatakan ini agar kalian semu tahu, Lily sudah tersakiti sejek kecil."


Air mata Tuan Chen semakin deras, dia menangis terisak. "Dia sudah menanggung beban hidup, bertahan di dunia yang kejam. Lily sudah banyak tersakiti. Maka dari itu, Tuan Fernandez, hanya kau harapan kami. Lily sudah cukup menderita, yang aku inginkan kau terus menggenggam tangannnya dan mencintainya. Dia tidak sederajat denganmu, dia jauh di bawahmu, tapi aku percaya kau akan selalu menjadi perisai baginya. Tetap genggam tangan anakku, Tuan Fernandez. Genggam dan lindungi dia dengan baik, jangan pernag sakiti dia, jangan membuangnya sebagaimana yang aku lakukan."


Isakan Tuan Chen semakin kuat. "Genggam tangannya, Tuan Fernandez."


🌹🌹🌹


Tbc.