Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Dua kali lipat



🌹VOTE🌹


"Tidakkkk…..," rengek Lily saat David ingin mencium lehernya. "David aku hendak memanggang."


"Baiklah." David menjauh dahulu. "Aku tunggu setelah kue kue itu masuk ke panggangan."


David duduk di meja sambil minum soda. Mata David tidak bisa berpaling dari bentuk tubuh Lily yang begitu indah dan membuatnya bergairah. David benar benar merindukan Lily setelah bermain sehari semalam bersama teman temannya.


"Sayang…"


"David, ini masih siang. Bagaimana jika ada orang?"


"Kamar kita kedap suara."


David melihat Lily selesai memasukan semua kue ke dalam sana. "Selesai bukan? Ayo ke kamar."


"Sebentar lagi, aku harus menunggu ini matang."


"Kau sudah memakai timer, Sayang. Tenang saja, itu tidak akan gosong."


Lily bingung, kenyataannya dia kalah dari David. Membuatnya membalikan badan dan menatap suaminya yang menyeringai. David menghabiskan sodanya lalu mendekat. "Ayo aku gendong, Sayang."


Lily digendong layaknya pengantin baru. Dan David menurunkannya di atas ranjang.


"Tunggu sebentar," ucap David.


Melihat suaminya mengunci pintu, menutup jendela dan tirai membuat Lily bergetar ragu dan malu malu. Sebenarnya Lily suka yang spontan, bukan yang direncanakan jika dalam hubungan ****. Seperti sebelum sebelumnya.


"Apa yang kau lamunkan, Sayang?"


Dan Lily semakin gelisah saat David merangkak mendekat.


Pria itu mencium Lily dalam, merangkup pipinya hingga semua bibir Lily dia kuasai. Menjilatinya dengan liar, David rindu bibir manis istrinya yang menggugah hasratnya.


"Emmm…….." Lily kesulitan bernapas. Dia hanya menghirup udara sedetik sebelum kembali dicium.


Tangan David berseluncur masuk ke dalam gaun untuk membuka celana dalam istrinya.


"Akkh…… Aaahh…." Lily mendesah saat David menyentuh bibir kewanitaannya. "David… sebentar…."


David tidak bisa berhenti, dia memainkan jemarinya di sana sampai akhirnya Lily frustasi.


"Ahhh…. David…."


Sebelum mencapai puncaknya, David segera menurunkan rel sleting celananya. Dia mengeluarkan senjatanya dan membalik posisi dengan Lily ada di atasnya.


Kesempatan itu membuat David membuka pakaian Lily, memperlihatkan dadanya yang semakin membesar.


Lily gelisah, dia merinding menduduki batang yang membesar dan keras.


David bangun, dia mencium bibir Lily dengan masih memberi jarak di perutnya.


"Masukan, Sayang."


Lily tidak mau, mendudukinya saja membuatnya gila dan berkedut.


"Ayo, Sayang. Masuk." David mengangkat sedikit tubuh Lily.


"Se… sebentar, biar aku saja."


Ketika Lily mengarahkan kejantanan itu pada tempatnya, Lily baru sadar. "Pengamannnya?"


"Sekali saja," ucap David menekan pinggul Lily hingga benda tumpul itu masuk.


"Aaakkkhhhh…. Hmmmmmm….." Lily menggigit bibir bawahnya dan berhenti bergerak sebelum semuanya masuk.


"Sayang?"


David diam sesaat. "Tidak, tidak akan terpentuk."


David kembali menekan pinggang Lily, membuat istrinya memejamkan mata kuat dengan bibir terbuka menahan kenikmatan. "Aaakkhh… terpentuk sudah, Da… David…"


🌹🌹🌹


"Kenapa harus pulang sekarang?" Tanya Lily dengan suara pelan. Dia mengerucutkan bibir tidak suka pulang sekarang, Lily masih betah menikmati momen berduaan dengan David di sana.


"Sayang, maafkan aku. Ada masalah dadakan. Aku tidak mengerti kenapa si lelet Rio berjalan lambat."


"Dia sudah tua, jangan bicara seperti itu."


David diam menahan kekesalannya. Dan melihat Lily yang mengusap perutnya di sampingnya membuat David menggenggam tangan istrinya itu, itu cara dia menenangkan diri sendiri. 


Setelahnya David mengusap perut Lily sebelum kembali fokus mengemudi.


Keheningan melanda, sampai akhirnya terdengar bunyi perut milik Lily.


"Sayang, kau lapar?"


Malu malu Lily mengangguk, membuat David terkekeh. "Tapi masih jauh menuju rumah makan di sekitar sini, Sayang."


"Tidak apa, aku bisa makan di pinggir jalan."


David terdiam seketika, pinggir jalan? Jelas itu membuatnya akan sangat turun derajat.


"Oh, lihat. Di depan sana ada pedagang bakso."


Dan David tidak bisa mengenyampingkan keinginan istrinya, akhirnya dia menurut dengan berbelok di sana dan mempersilahkan istrinya untuk keluar.


"Pesan baksonya dua ya, Mas."


"Satu saja, Mas." Kemudian menatap Lily. "Sayang, aku masih kenyang."


"Tapi…."


"Aku tahu kau mengkhawatirkanku, tapi aku benar benar baik baik saja. Tidak perlu mencemaskan suamimu yang tampan ini."


"Eum, David. Dua porsi itu untukku," ucap Lily malu malu, yang mana membuat David kebingungan.


Pria itu kembali menatap tukang bakso. "Dua, Mas."


"Baik, Pak."


"Ayo duduk, Sayang."


Lily masih dengan bibirnya yang mengerucut melihat David yang masih memperlihatkan wajah heran dan bingungnya.


"David…"


"Ya, Sayang?"


"Jika…. Kau membeli sesuatu makanan…."


"Harus dua?"


Lily mengangguk malu malu. "Aku berbadan dua."


"Tentu, Sayang. Apa pun untukmu, termasuk kebahagiaan dua kali lipat dari suamimu yang tampan ini."


🌹🌹🌹


Tbc.