
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
“Tumben turun lebih cepat,” ucap Lily melihat Ares yang datang sarapan lebih awal dibandingkan Athena. “Dimana Athena?”
“Dia masih berdandan, aku harus berangkat lebih cepat,” ucap Ares.
Membuat David juga bertanya tanya. “Wah, ada apa ini? sesuatu terjadi?”
“Sepertinya Kak Ares sedang merencanakan sesuatu,” ucap si jenius Alden.
“Jangan bicara seperti itu pada kakakmu, Alden.”
“Haha, kau akan dimarahi Mommy,” ledek Ares. “Mom, bisakah sarapannya aku bawa? Aku harus pergi lebih awal.”
“Kau tidak sedang terkena masalah bukan, Son?” tanya David.
“Tidak, aku akan menjemput Cantika.”
“Ah… Cantika,” ucap Lily mengulum senyuman sambil membungkuskan sandwich ke dalam kantong kertas. “Baiklah, ini sarapanmu.”
“Kenapa dua?”
“Satunya lagi untuk Cantika.”
“Thanks, Mommy,” ucap Ares.
Dia mencium pipi mommy nya, kemudian Daddy nya, dan terakhir Ares menjitak kepala Alden.
“Aw,” ucap anak kecil itu. “Dasar kakak durhaka.”
Ares hanya tertawa, membuat Lily di sana bertanya tanya. “Dia tidak akan bukan?”
“Tenanglah, Sayang, semua pria akan melewati masa itu.”
“Tapi tidak dengan bermain dengan banyak perempuan.”
“Ares dibesarkan dengan sangat baik olehmu,” ucap David yang membuat Lily tersipu malu. Kemudian tatapan David terpaku pada Alden yang makan dengan sangat baik, dia melihat kepribadian yang jauh berbeda dengan Ares di sana. “Alden, apa kau mau meneruskan usaha Daddy?”
“No, Alden ingin bekerja di laboratorium, tidak seperti Daddy.”
“Kau lihat itu, Sayang?”
Lily tersenyum dan memberikan kopi untuk suaminya sebelum duduk dan bergabung makan. “Mungkin Alden akan berubah pikiran suatu saat nanti.”
“Tidak akan pernah, Alden akan menjadi ilmuan yang menghabiskan waktu di laboratorium, Dad. Alden tidak mau mengurus perusahaan Daddy, bukankah ada Kak Ares,” ucap Alden focus pada makanan.
“Kau mendengarnya, Sayang?” tanya David lagi. “Kita harus mempersiapkan Ares, aku ingin memindahkannya ke sekolah khusus dimana aku juga menempuh pendidikan di sana.”
“Hanya tinggal satu tahun lagi dia akan lulus.”
“Lebih cepat lebih baik, aku benar benar ingin cepat pensiun dan menghabiskan waktu bersamamu.”
Saat sedang mendiskusikan hal itu, Athena turun. “Good morning, everyone. Ares sudah berangkat, Mom?”
“Duduklah,” ucap David. “Athena Sayang, menurutmu bagaimana dengan meneruskan perusahaan Daddy?”
“Dad, aku ingin menjadi model dan memiliki brand kecantikan sendiri. Setelah lulus sekolah aku akan melanjutkan di sekolah kecantikan. Satu satunya yang belum memiliki cita cita saat ini adalah Ares.”
🌹🌹🌹🌹🌹
Cantika yang baru selesai makan itu mendengar suara motor berhenti di depan rumahnya, yang mana membuatnya terkejut. “Woah, dia benar benar datang?”
“Siapa?” tanya Nenek.
“Ares, Nek.”
Nenek mengerutkan keningnya. “Apa kalian benar benar tidak pacaran?”
“Tidak, Nenek.”
“Dia selalu mengantarmu pulang, Tika. Dan sekarang menjemputmu. Pepet saja, toh dia juga tampan.”
“Nenek bicara apa,” ucap Cantika yang segera membawa tas. “Ini untuk dibawa ke pasar bukan? Cantika berangkat ya.”
“Tapi aku harus ke pasar dulu.”
“Tidak masalah,” ucap Ares. “Ayo naik.”
Cantika pun menurut, dia naik motor yang tinggi itu. “Aduh, ini sangat sulit. Motornya terlalu tinggi.”
“Badanmu yang terlalu pendek, Centini.”
Kemudian Ares menyalakan motornya dan berangkat pergi dari sana. Seperti keinginan Cantika, mereka mampir ke pasar untuk menyimpan sayuran milik sang nenek sebelum kembali melaju ke sekolah.
Saat dalam perjalanan menuju sekolah, tiba tiba motor hitam itu berbelok ke arah taman alun alun. Yang mana membuat mata Cantika terbelalak.
“Kita mau kemana?”
“Ini baru jam setengah tujuh, aku belum sarapan.”
Kemudian motor itu menepi di bawah pohon rindang.
“Tapi di sini tidak ada tukang bubur,” ucap Cantika.
“Siapa yang bilang ingin makan bubur?” tanya Ares. Dia mengeluarkan dua bungkus sandwich dari dalam tasnya. “Ini untukmu, Mommyku yang membuatkannya.”
“Wah, terima kasih,” ucap Cantika segera memakannya.
Membuat Ares bertanya tanya. “Kau belum sarapan?”
“Sudah,” jawabnya sambil mengunyah,
“Wah… perut karet, mengagumkan.”
Keduanya makan sambil duduk di atas motor, Cantika sangat menikmati sandwich itu. Rasanya benar benar enak.
“Centini.”
“Ya?”
“Di kelasmu ada murid baru bukan?”
“Iya, Laura?”
“Dia tetanggamu.”
“bagaimana kau tahu?” tanya Cantika heran. “Kau menguntitnya?”
“Aku kebetulan melihatnya kemarin.”
“Oh, benarkah,” ucap Cantika santai.
Yang mana membuat Ares kesal. “Kenapa kau tidak peka?”
“Hah? Bagaimana?” cantika sibuk dengan roti isi di dalam mulutnya.
“Aku pikir aku menyukainya.”
“Wah, kau menyukainya? Seluruh pria di kelasku juga menyukainya, dia memang cantik.”
Ares mengangguk anggukan kepalanya. “Kau harus membantuku, Centini.”
“Membantu bagaimana?” tanya Cantika.
Ares terdiam, dia bergumam. “Aku juga bingung.” Kemudian dia melanjutkan, “Kau akan membantuku bukan? Aku sahabatmu, juga pria tertampan di sekolah.”
“Tentu,” ucap Cantika yang tetap saja sibuk dengan roti isinya.
🌹🌹🌹
 
 
TO BE CONTINUE