
🌹VOTE YA GAISSS🌹
David menatap keluar pintu kaca yang masih memperlihatkan badai. Dia membuang napas gusar, dirinya tidak bisa ke mana mana. Bahkan beberapa bandara ditutup karena tornado.
Ini adalah hal yang mana membuat Amerika disoroti beberapa media. Apalagi persidangan ibunya ditunda, membuat David harus lebih lama berada di sini.
Suara ketukan pintu membuat David membukanya. Di sana ada Holland yang membawa alkohol.
"Tuan Muda?"
"Masuklah, dan minum bersamaku."
Holland menurut, dia menyiapkan gelas untuk majikannya sembari duduk di sofa. Tapi dia tidak menuangkan untuk dirinya sendiri.
"Kenapa kau tidak minum?"
"Terima kasih, Tuan. Saya minum beberapa saat yang lalu."
"Ayolah, Holland. Ini sopan karena aku mengizinkan," ucap David menuangkan minuman itu. "Minumlah."
Holland melakukannya, dan dia menyadari ada tatapan sedih dari majikannya. Membuat Holland mengeluarkan bungkusan rokoknya.
David terkekeh. "Kau tahu betul aku butuh ini," ucapnya menyalakan.
"Saya mendapat berita kalau bandara pribadi milik Tuan Montenegro dibuka minggu depan, karena akan ada penerbangan keluarga mereka ke Singapura, Tuan. Saya mengatakan kendala saat ini, dan dia mengizinkan anda untuk lepas landas di sana."
"Bagaimana dengan cuaca?" Tanya David sambil merokok, asap mengepul di sekelilingnya.
"Perkiraan cuaca kisaran jam 11 sampai jam 1 siang cerah. Itu kesempatan terbaik untuk pergi."
"Tapi masih ada persidangan, kau punya rencana untuk itu?"
"Sepupu saya adalah seseorang yang bekerja di bidang hukum, saya akan meminta penundaan kembali."
David menggeleng tidak setuju. "Aku tidak mau kembali ke sini. Saat aku pulang ke Indonesia, aku akan bersama istri dan anak anakku. Jadi, ini harus selesai."
"Ada dua opsi, Tuan Muda."
"Katakan."
"Anda mengikuti prosedur dan pulang satu bulan kemudian sampai Nyonya Dena bebas. Atau meninggalkan persidangan dengan melepaskan diri sebagai jaminan."
"Bagaimana dengan ibuku?"
"Saya rasa ada baiknya seseorang dibuat jera."
"Kisaran hukuman?"
"Jika anda memilih pengacara terbaik, itu bisa menjadi 7 bulan."
David diam menimang apa yang harus dilakukannya. Jika ingat masa lalu, dia menyayangi Dena. Karena bagaimana pun, Dena pernah menjadi bagian terindah dari hidupnya, yakni menjadi ibunya.
"Bagaimana, Tuan Muda?"
Dan saat David hendak menjawab, ada panggilan Video Call dari Lily. Dia senang bukan main.
"Aku akan mengangkat ini dulu," ucap David dan melangkah pergi dari sana.
Sumringah terlihat saat layar memperlihatkan Lily yang sedang menyusui.
"Sayangku….., astaga, para dewa ku."
"Kapan kau pulang?"
"Maaf, Sayang. Masih ada badai."
"Aku sudah pulang ke rumah Oma. Jangan khawatir, ada Nina, Eta dan para pelayan, Marylin dan juga perawat di sini."
"Marylin? Apa yang dia lakukan di sana, Sayang?"
"Oma menyuruhnya datang. Supaya jika ada tamu, dia bisa merubay style bayi bayi kita."
Dan kalimat itu membuat senyuman Lily memudar. Dan David baru ingat, Oma pernah memberi tahunya kalau kembar mereka tidak identik. Si bayi perempuan dominan mewarisi wajah Lily, dan yang laki laki mewarisi sebagian besar gen dirinya.
"Sayang, kau adalah wanita paling cantik yang aku temui. Kau tahu apa yang aku lakukan setiap saat? Aku berdoa supaya mereka menurut sepertimu agar kita bisa dengan leluasa membuat adik mereka lagi."
"A… astaga, aku akan menyusui mereka dulu."
"Baiklah, berikan aku ciuman dan ucapan."
Lily diam malu.
"Yuhuu… sayangku, aku menunggu."
"Aku mencintaimu. Muach…."
David tertawa saat istrinya dengan cepat menutup panggilan. Dia masih saja malu padahal sudah pernah melakukan lebih.
Rindu dengan anak anaknya, David mendekati Holland. "Kita pulang minggu depan."
🌹🌹🌹
Banyak sekali karangan bunga dengan ucapan selamat. Oma tersenyum melihat temannya datang dan memberi hadiah. Sementara pada kolega David, Oma menyuruh Rio menyuruh mereka tidak perlu datang karena akan mengadakan pesta saat David pulang.
Alhasil, banyak hadiah berdatangan.
"Omaaa… yuhu."
Oma yang hendak naik lift terkejut, dia berbalik. "Kau! Bule gila! Kenapa di sini? Bukannya Amerika ada badai?"
"Astaga, Oma tidak tahu? Selama ini aku sembunyi di sebuah tempat misterius dan tidak kembali ke Amerika," ucap Sebastian datang dengan papper bag di tangannya. Dia mendekat dan mencium pipi Oma.
"Jangan bilang di dalamnya ada sayuran."
"Aku ingin melihat keponakanku. Luke tidak bisa datang karena tunangannya melarang."
"Si penyihir gila," gumam Oma. "Ayo ikuti Oma."
Sebastian mengikuti, dia menaiki lift sebelum melangkah di lantai dua. Langkah Oma yang pelan membuat Sebastian menawarkan diri, "Perlu aku gendong, Oma?"
"Kurang masam! Kau mengejek?!"
"Aku membantu, kasihan sekali kaki Oma menanggung tubuh yang berat."
"Diam!"
Sebastian membungkam mulutnya.
Saat itu Oma bertanya dulu pada perawat yang lewat, "Apa Lila sedang lakukan?"
"Ya ampun, Oma. Kau membuat perawat itu harus menyusun kalimatmu. Lakukan dengan benar. Seperti ini, apa yang sedang Lila lakukan?"
Perawat itu salah tingkah melihat wajah tampan Sebastian. "Ah, Nyonya sedang minum ramuan herbal. Tuan dan Nona muda sedang tidur."
Sebatian kembali menjawab, "Terima kasih. Siapa namamu?" Dia bertanya dengan nada dingin tapi penuh kharisma.
Sebelum perawat yang senyam seyum itu menyahut, Oma berkata, "Jangan mau berkenalan dengannya atau berhubungan dengannya, dia punya kurap, kutu, kadas dan jamur."
Seketika hal itu membuat sang perawat buru buru menjauh. Dan itu membuat Sebastian berteriak, "Oma!"
"Kau sudah tua! Berhenti bermain main sebelum Oma menjodohkanmu dengan Marylin."
"Apa? Dia di sini?" Tanya Sebastian terkejut.
Bertepatan dengan itu, Marylin yang menjadi fans pada Sebastian berjalan di koridor yang sama. "Kyaaaaaa! Tuan Babas!"
"Oma," gumam Sebastian panas dingin. "Tolong aku, Oma."
🌹🌹🌹
Tbc.