Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Nenek Cantika tersenyum di saat melihat sang cucu yang tengah bersenda gurau bersama ibunya di kamar. Bahkan suara tawa mereka seolah menjadi alunan kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


Bagaimana setiap detiknya menjadi sangat berguna. Sampai Nenek Cantika mendengar motor seseorang memasuki halaman rumah, dia mengerutkan keningnya melihat motor vespa yang masuk. Yang Neneknya tau, itu bukanlah Ares.


“Cantika, ada temanmu datang.”


Yang seketika membuat Cantika membulatkan matanya. “Ma, Cantika berangkat dulu ya. Sayang Mama, Muach,” ucap Cantika memberikan sebuah kecupan di pipinya.


Cantika bergegas keluar dari kamar sang Mama, menuju dapur untuk mencuci tangan. Dimana di ruangan itu ada Nenek dan Kakeknya.


“Itu bukan Ares ya?” tanya sang Nenek.


“Bukan, Nek. Itu Galuh, ketua osis,” ucapnya terburu-buru.


“Kenapa dia yang menjemputmu?”


“Cantika harus membawa buku di museum Kakek.”


Kakeknya yang sibuk membaca Koran itu mengangguk. “Ya, di sana ada Jimin, pergi saja ke sana.”


“Bagaimana bisa bukunya terbawa oleh Kakek?”


“Ceritanya panjang, Nek,” jawab Cantika dan Kakek secara bersamaan.


Tidak lupa, Cantika mencium tangan Kakek dan Neneknya sebelum berteriak, “Cantika berangkat! Byeee!”


Begitulah gadis berusia 17 tahun itu keluar dari rumahnya, dan mendapati sang ketua osis tengah menunggunya.


“Maaf, lama ya?”


“Tidak apa. Apakah orangtuamu di dalam?”


Cantika yang sedang memakai sepatu itu mengangguk. “Maaf mereka tidak menyapamu, pagi yang sibuk.”


“Tentu saja, aku datang terlalu pagi.”


“Ngomong-ngomong kenapa kau membutuhkan buku itu?”


“Untuk bimbingan, aku akan menjadi guru private anak anak yang akan olimpiade.”


“Wah hebat,” gumam Cantika sembari naik ke atas motor itu, dengan memakai helm bulat; yang memberi kesan lucu. Berbeda dengan milik Ares. “Aku bisa merekomendasikan buku yang lain, jika kau mau.”


“Tentu, kau sering ke perpustakaan kota?” tanya Galuh mulai menyalakan motornya.


“Ya, di sana begitu lengkap.”


Motor itu mulai keluar dari pekarangan rumah, menyusuri jalan kecil. Hingga ketika motor Galuh hendak menuju jalan raya, Cantika melihat Ares dengan motor sport nya itu berbelok dan masuk ke dalam.


Cantika dan Ares berpandangan sesaat sebelum Galuh melajukan motor.


“Dia sering ke sana?”


“Ya, jawab Cantika. “Dia punya pacar di sana.”


Ares tidak dapat menahan rasa kesalnya, bisa bisanya dia melihat Cantika dibawa oleh Galuh. Sang ketua osis yang merupakan mantan sahabatnya.


Dia membenci fakta itu, yang mana membuat Ares segera memutar balik, dia berkendara dengan cepat menuju ke mini market 24 jam. Membeli susu strawberry dan juga roti. 


Cemburunya tidak membuat Ares melupakan makanan kesukaan perempuan itu, dia tidak ingin Cantika berhenti tumbuh. Dan Ares yakin, Cantika bukan wanita gampangan yang menaiki motor seseorang tanpa alasan.


Karena itulah, Ares langsung bergegas ke sekolah, dia melangkah lebar menuju kelas Cantika. Mengabaikan beberapa orang yang menyapanya.


“Hallo, Kak Ares.”


“Kak Ares yang tampan, selamat pagi.”


“Wooy! Lu udah berangkat? Pagi amat sih, taek!” teriak salah satu sahabatnya yang diabaikan oleh Ares.


Dia terfokus menuju kelas Cantika, dan saat sampai di sana, keningnye berkerut.


“Ares, kenapa kau ke sini?”


“Dimana Cantika?”


“Cantika belum datang.”


“Apa?” Ares jelas kaget. “Kalian yakin?”


“Ya, dia belum datang. Tas  nya saja belum ada.”


“Bagaimana bisa?”


“Apanya? Aku akan memberitahumu jika dia sudah datang.”


“Lupakan saja,” ucap Ares melangkah kembali ke dalam kelasnya.


Dia berjalan seolah tanpa tenaga, dan itu disadari oleh Samuel yang berdiri diambang pintu. “Napa lu? Gak dikasih duit sama Bokap lu?”


Baru juga Ares akan menjawab Samuel, matanya terlebih dulu melihat Cantika di ujung lorong yang berjalan menuju ke arahnya sendirian.


“Ca….,” ucapnya menggantung.


“Lu kenapa, Ares?” gumam Samuel panic, dia melihat arah tatapan sahabatnya. “Oey, lu kenapa?”


Dan Cantika yang sedang menghapal rangkaian atom itu jadi teralihkan saat melihat wajah tampan Ares. “Hai, Ares. Selamat pagi,” sapa Cantika. Dia khawatir jika Ares masih marah padanya. “Apa kau baik baik saja? kenapa diam seperti ini?”


Samuel mengedikan bahunya. “Dia datang di pagi hari, sekarang mematung. Mungkin stroke?”


“Astaga!” cantika panic, dia menyentuh pipi Ares. “Ares, saddarlah? Bergeraklah, ada apa denganmu?”


Ketika tngan itu menyentuh pipinya, napas Ares menjadi terputus-putus karena merasakan debaran yang tidak biasa.


“Ares?! Cantika semakin panic.


“Asma! Dia asma!” Samuel ikut ribut.


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE