Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Arin dan juga Samuel bergegas menuju rumah Cantika begitu pulang sekolah. Suasananya jauh berbeda dari sebelumnya, semua orang di sana terlihat sangat berduka.


“Nek, Cantika mana ya?” tanya Arin sambil memberi salam.


“Ada di dalam, sana ke kamarnya ya.”


Arin langsung menarik tangan Samuel untuk mengikuti langkahnya, mereka memasuki kamar Cantika dimana sosok itu terlihat sedang bersiap. mereka akan pergi ke gereja untuk Misa Arwah. 


“Cantika?”


Sosok itu langsung menoleh seketika, air matanya langsung turun begitu dia melihat Arin. Sosok yang lebih kecil itu langsung menangis dengan kuat saat Arin memeluknya. Mengungkapkan perasaanya yang sebenarnya. Cantika benar benar merasa tersakiti, kehilangan sosok yang selalu bersamanya, membesarkannya, dia kehilangannya saat itu juga. 


Dunianya terasa runtuh, bahkan Cantika tidak yakin dirinya bisa bertahan tanpa sosok itu.


“Hei, udah…. Inget loh, Mama kamu ada di tempat terbaik bersama dengan Tuhan,” ucap Arin mencoba untuk menenagkan sahabatnya, dia mengajak Cantika untuk duduk di bibir ranjang.


Samuel menutup pintu, mencoba untuk memberi ruang untuk mereka bertiga, meskipun yang dilakukannya hanya melihat apa yang dua orang itu lakukan. dia ingin bergabung menenangkan Cantika, tapi Arin akan memukulnya jika dia melakukan hal tersebut.


“Tenang ya…. Jangan nangis dulu. Inget loh Mama kamu sakit, dia lebih Bahagia di sisi Tuhan.”


Cantika mengatur napasnya, dia menganggukan kepala dan mulai menatap Arin setelah lebih tenang. “Makasih.”


“Hmm…, kau tidak sendirian.”


“Aku tidak bisa menghubungi Ares.”


“Masalah itu….” Arin menggantungkan kalimatnya dan menatap Samuel; meminta bantuan padanya untuk menjelaskan. 


Pria itu berdehem, dia duduk di bangku rias Cantika. “Rumahnya kosong, mereka pergi ke Amerika. Aku pikir sesuatu terjadi di sana.”


“Ouh, tidak apa. Aku mengkhawatirkannya,” ucap Cantika menyeka air matanya.


“Mungkin dia akan menghubungimu jika sudah sampai di sana. Kau tau Ares sangat mencintaimu.” Arin mencoba menenangkan.


Cantika menganggukan kepalanya, mengatur napas dan mengingatkan diri sendiri kalau masih banyak orang yang menyayanginya. 


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Namun kenyataannya, setelah satu minggu berlalu, Ares tidak kunjung memberinya kabar. Dia mulai khawatir, tidak satu kali Cantika bertanya pada teman teman Ares dan bahkan mengunjungi rumahnya.


Yang dikatakan oleh teman teman Ares, “Gue juga gak tau sih, kemana itu anak ngilang.”


Dan jawaban yang didapat dari rumah Ares, hanya dari satpam saja, “Maaf, Non. Saya pegawai baru disuruh jaga saja. tapi dengar dengar mereka pindah ke Amerika.”


Cantika mulai kesal, dia ingin menangis. hanya Ares satu satunya yang dia miliki, dan juga Papanya yang sekarang sudah pulang ke Indonesia dan memutuskan bekerja di sini. Namun tetap saja, Cantika ingin Ares.


Kepergian Ares dan perubahan raut wajah Cantika yang murung menjadi bahan penyemangat untuk Laura, sosok itu terus saja berkata, “Pada akhirnya pangeran akan bersama seorang Putri, bukan sosok buruk rupa sepertimu.”


Cantika tidak menghiraukannya, dia tetap memilih buku di rak.


“Kau tau kenapa Ares meninggalkanmu? Dia tersadar. Hanya itu kesalahannya, jadi jangan mengasihani dirimu sendiri oke?”


“Berhentilah menggangguku, aku hanya ingin membaca.”


Namun sepertinya sosok itu terus ingin mengganggu, dia mengambil buku yang sedang dibaca oleh Cantika dan mengangkatnya tinggi tinggi. “Hahahaha, kau tidak sampai.”


Tiba tiba sosok lain mengambil buku dari tangan Laura. Membuat sosok itu berbalik. “Apa kau tidak punya pekerjaan lain? Bukankah ketua osis memiliki banyak tugas?”


“Jangan membuat kekacauan di perpusatakaan. Dan jangan mengganggunya juga,” ucap Galuh dengan mata yang menatap tajam. “Kau ingin mendapatkan surat peringatan karena mengganggu siswa lain?”


Laura menelan salivanya kasar dan segera melangkah pergi dari sana. Membuat Galuh menghembuskan napasnya kasar. “Ini bukumu.”


“Terima kasih.” Cantika menerimanya, dia tersenyum kecil.


“Aku punya rekomendasi buku yang bagus. Ingin membaca?”


Menoleh pada Galuh, Cantika akhirnya menganggukan kepala. Arin sibuk dengan kekasihnya, dia juga tidak dalam mood untuk bermain bersama teman temannya yang lain, dia ingin keheningan. Namun keheningan bersama buku, itu menyenangkan. 


Jadi Cantika mengangguk, menyetujui ajakan Galuh.


“Jika dia kembali mengganggumu, beritahu saja aku.”


“Tentu saja, dan terima kasih untuk waktu itu,” ucap Cantika mengingat bagaimana Galuh datang ke rumahnya untuk mengucapkan bela sungkawa. 


Galuh mengangguk, mereka berdua duduk di dekat jendela dengan Galuh yang mulai menjajarkan buku di meja. Kemudian sebuah kalimat keluar dari mulutnya, “Tentang piano itu, kau sangat berbakat. Aku suka bagaimana kau tampil.”


“Aku gugup, waktunya tinggal beberapa hari lagi.”


Jangan lupakan perlombaan yang harus Cantika lakukan.


“Tidak apa, aku akan menemanimu saat perlombaan berlangsung. Sebagai ketua osismu.”


Cantika tersenyum karenanya. “Dan buku ini, tentang apa.” Dia menunjuk salah satunya.


Kemudian percakapanpun dimulai, tentang bagaimana buku buku yang mereka sukai itu saling bertautan satu sama lain.


🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE