Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Pahlawan Kecil



🌹VOTEEEK YA GAIS DAN MOHON MAAF LAHIR BATIN, SELAMAT IDUL FITRI BAGI YANG MERAYAKAN🌹


"Tuan Chen akan datang?" Tanya David yang dibalas anggukan oleh Lily.


Istrinya sangat antusias dengan kedatangan ayah kandungnya itu.


Selama empat tahun mereka tidak menghubunginya lagi, sampai Tuan Chen bilang dia akan datang. Meskipun dia tidak mengatakan alasan istrinya tidak ikut serta, tapi Lily sangat bahagia.


"Kenapa kau sangat bahagia?"


"Tentu saja karena dia datang, David. Dia peduli padaku," ucap Lily yang sedang memanggang kue.


Saat itulah David memeluk istrinya dari belakang. "Jangan terlalu lelah, Sayang. Ayo kita istirahat sebentar."


"Aku baru saja memulainya."


David tersenyum tipis, dia mencium puncak kepala istrinya sebelum memilih mundur agar tidak mengganggu. David duduk di sofa yang dekat dengan bagian dapur.


Sambil minum soda dia memainkan ponsel. Dia menghubungi Holland di sana.


"Hallo, Tuan?"


"Sudah mengurus keberangkatan Tuan Chen?"


"Beliau menolak dan memaksa akan datang dengan pesawat kelas ekonomi."


David menghela napasnya. "Ya sudah, biarkan saja dia melakukan apa pun. Asalkan awasi dia."


"Baik, Tuan."


Melihat kembali istrinya yang tersenyum bahagia, David ikut senang. 


Tidak akan ada yang menyangka jika Lily adalah gadis desa yang fasih bicara bahasa daerah, pasalnya Tuan Chen asli orang China.


Selama ini, Lily tidak ingin mengganggu kehidupan orangtuanya, maka dari itu dia tidak pernah menghubungi lebih dulu.


"Sayang, apa kau butuh sesuatu untuk besok?"


"Bisa kau belikan daging sapi? Koh Chen sangat suka barbaque."


"Aku akan menyuruh Holland."


"Dan aku juga butuh lada yang biasa kau belikan."


Dua kata terakhir menjadi penanda bahwa dirinya yang diminta Lily pergi. David berdiri. "Baiklah, Sayang. Berikan daftar menu belanjaannya."


Lily tersenyum senang, dia mengeluarkan kertas dari dalam sakunya. Dia suka saat David berbelanja seperti suami idaman pada umumnya. Terlepas dari itu, David selalu membelikan barang berkualitas, bukan asal beli.


"Demi kau aku pergi ke swalayan."


"Terima kasih, kau selalu hebat dalam memilih."


"Bisa aku mendapatkan ciuman?"


CUP….. Lily mencium lama bibir suaminya. "Hati hati di jalan."


"Ingin yang lain lagi?"


"No, cepat kembali."


David tersenyum, dia keluar mengendarai mobilnya.


Namun, bukan David namanya yang tetap menjaga nama baik. David memakai topi, masker dan juga jaket turtle neck yang membuat orang lain tidak mengenalnya.


Membeli daftar belanjaan sesuai yang diinginkan istrinya sampai troli penuh.


Ketika David mendorong troli, seseorang tidak sengaja menabrak punggungnya.


"Maaf, aku terburu buru."


Saat itulah David menegang, dia melihat kepergian seseorang yang menabraknya.


Dia bergumam, "Tidak mungkin dia ada di sini."


🌹🌹🌹


"Yang gosong?" Tanya Oma, karena kebiasaannya memang membuat pancake seperti itu.


Entah Ares menyindir atau bukan, tapi Oma benar benar tidak ahli membuat pancake.


"Ya, itu sangat bercita rasa tinggi."


Oma menggelengkan kepala tidak percaya, Oma merasa David benar benar ada di sana. "Ya Tuhanku, kuatkan Lily saat anak ini membesar."


"Oma bicara pada Ares?" Tanya anak yang sedang memainkan robot di tangannya.


Oma segera menggeleng. "Oma akan buatkan kau pancake gosong. Diam di sini dan tunggu sampai Athena bangun."


Saat Eta turun, Oma bertanya, "Apa Thea bangun?"


"Dia sulit dibangunkan, Nyonya Besar."


"Ya sudah biarkan saja dia, kasihan semalam bergadang."


"Anda butuh bantuan, Nyonya?"


"Tidak, pangeran kecil ini ingin buatanku." Oma mengisyaratkan agar Eta melakukan tugas yang lain.


Sampai selesai membuatnya, Oma menghidangkannya di depan Ares lalu menyiramnya dengan saus maple.


"Wahhh, pancake gosong!" Teriak Ares girang, yang mana membuat Oma heran.


Tapi Oma malah duduk di dekat cicitnya itu. "What happen, Oma? Kenapa mendekat terus?"


"Astaga, Oma rindu padamu, anak nakal."


"Bukan untuk Rio?"


Oma menelan ludah kasar, dia takut cicitnya akan mengatakan pada David. "Oma hanya penasaran di mana nisannya."


"Oma ingin berkencan?"


"Oma hanya kasihan padanya, janga bicara yang aneh aneh apalagi mengatakannya pada Daddy mu, paham?"


Ares tetap diam menunggu penawaran.


Oma akhirnya kalah. "Oke, apa yang kau inginkan?"


"Mainan."


"Sayang, Daddy mu bilang Oma tidak boleh membelikan kalian mainan. Mainan kalian sangat banyak."


"Ini untuk Thea."


"Hah?" Oma bingung.


Yang mana membuat Ares menghentikan sarapannya, dia menatap Oma. "Ares mematahkan sisir cantik milik Thea, dia sedih tapi tidak mengatakannya pada siapa pun."


Oma tersenyum saat paham maksu dan tujuan cucunya. Saat itulah dia mengusap rambut Ares. "Baiklah, akan Oma lakukan."


"Nyonya Besar, ada surat untukmu," ucap Eta. "Dari Nina."


Mendengarnya, Oma bergegas naik ke lantai dua setelah mencium pipi Ares.


Di kamarnya, dia membuka amplop cokelat itu. Dan senyuman Oma meluntur ketika melihat apa yang ada di dalamnya. Penjelasan itu membuatnya patah semangat.


"Astaga, dia sudah meninggal," gumam Oma. "Aku sudah tua, seharusnya ingat usia sebelum melakukan hal konyol."


Dan tanpa Oma sadari, Ares mengikuti dan mengintip dari balik pintu. 


Melihat sang Oma sedih, Ares langsung keluar dari tempat sembunyi dan mendekat.


"Ares? Kenapa kau di sini?"


Bukannya menjawab, anak itu malah memeluk kaki Oma. "Dont worry, Oma. Masa tuamu akan Ares temani, you're not alone."


🌹🌹🌹


TBC.