Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Air mata Oma



🌹Jangan lupa buat kasih emak vote ya demi keamanan dan kesejahteraan bersama.🌹


🌹Terus jangan lupa follow igeh emak di : @RedLily123.🌹


🌹Selamat membaca dan jangan lupa kalau emak sayang sama kalian.🌹


David mengendarai mobilnya dengan terburu buru, dengan Lily yang disampingnya yang juga ikut khawatir. Namun Lily mencoba tenang demi keamanan bersama, apalagi kini David berkendara dengan kecepatan tinggi. Lily yang khawatir itu memegang tangan suaminya.


“David, tenang dulu.”


Berulang kali David mendengarnya, dia memang sulit mengendalikan emosi jika sedang panic. Salah satu cara menenangkan dirinya sendiri yaitu dengan cara menarik napas dalam sambil mengingat keberadaan janin yang ada dalam kandungan istrinya.


Dan saat sampai di rumah sakit, David langsung menuju resepsionis. Dia lupa meninggalkan istrinya di sana.


“Apa ada pasien bernama Nyonya Ambarani Fernandez?”


Perawat itu mengeceknya, tapi tidak ada nama yang dimaksud.


“Tidak ada, Tuan.”


“Apa ada yang baru saja masuk ruang darurat?” tanya David dengan menaikan nada suaranya.


Dan kebetulan saat Lily masuk, ada pelayan yang juga bekerja di mansion Oma.


“Nyonya Muda.”


Mendengar itu, David langsung mengalihkan pandangan. Wajahnya semakin khawatir apalagi melihat mata sembab pelayan tersebut.


“Dimana Oma?” tanya David langsung.


“Beliau ada di lantai atas.”


Mengerti dengan maksud lantai atas yakni ruangan VVIP, David segera pergi. Tapi begitu dia ingat sesuatu, David berbalik dan kembali untuk menggenggam tangan istrinya.


“Maaf, Sayang,” ucapnya mencium tangan Lily kemudian menggenggamnya selama berjalan.


Menaiki lift yang memang dikhususkan untuk pengunjung pasien VVIP. Di dalam lift, Lily tidak berhenti mengusap punggung suaminya untuk menenangkan.


“Aku tahu Oma kuat, jadi dia akan baik baik saja.”


“Oma?” tanya david dan langsung memeluknya. “Ini bukan arwah kan?”


“Cucu tengik sialaaan! Apa yang kau maksud?” tanya Oma sambil memukul punggung cucunya.


Dan entah kenapa mendengar kata tengik itu membuat David menangis haru penuh rasa senang, dia memeluk Oma semakin erat sambil tersedu sedu. 


“Omaaaaa…..”


“Astaga astaga,” teriak Oma yang merasa telinganya terlalu banyak mendengar rengekan David. “Kini aku paham kenapa tangisan Ares menyakiti telinga.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Kini ketiganya sedang berbicara di sebuah restaurant di pinggir rumah sakit. Lily menarik napas dalam. “Pelayan itu memberitahuku kalau Oma ada di rumah sakit. Lalu darah… darah….”


Oma menggeleng. “Inilah alasannya kenapa kau tidak boleh memberitahu David sebelum mendengar kebenarannya, Lila. Kau tenang tapi suamimu tidak.”


Lily menatap suaminya yang focus menatap Oma. Lily menggenggam tangan suaminya. “Maaf, aku membuatmu panic.”


David tidak mempersalahkannya, dia membalas kalimat istrinya dengan cara mencium tangannya kemudian terfokus kembali pada Oma. “Jadi yang jatuh adalah Eta?”


Dan pertanyaan itu membuat Oma kembali bersedih, dia ingat bagaimana Eta yang menahannya agar tidak jatuh. Tapi dirinya tidak sengaja mendorong Eta saat rasa pusing melandanya.


Oma kembali menangis.


“Eta…. Bagaimana ini? Siapa yang akan menemani Oma lagi?”


Seketika Lily beralih duduk di samping Oma dan mencoba meyakinkan. “Oma, dia akan baik baik saja.”


“Eta berlumuran darah karena Oma, dia bahkan belum sadar sekarang. Bagaimana ini?”


Setelah tangisan Oma mereda, ketiganya kembali ke ruangan pasien dimana Eta di rawat.


Seketika Oma kembali menangis. “Etaaaaa.”


🌹🌹🌹🌹


TBC