
🌹Vote sebelum membaca ya, ajak yang lain untuk membaca novel Lily🌹
"Astaga…." Lily menyeka air matanya, dia melepaskan pelukannya dan menjauh. "Maaf, aku terlalu bahagia melihatmu, Kak."
"Tidak apa."
"Tidak ada yang tidak apa." David mendekat, dia menarik pinggang Lily hingga bergeser ke arahnya. "Tidak ada yang boleh menyentuh istri saya, berdekatan dengannya kurang dari satu meter saja tidak boleh."
Seketika Radit terkejut mendengar penuturan boss barunya. Dia segera menunduk dan menyembunyikan wajah terkejut. "Maaf, Tuan, saya tidak tahu jika Tina adalah istri anda."
Lily yang tidak suka David melakukan itu, menyenggol perutnya pelan dengan siku.
"Masuklah, Kak. Kau akan mengambil file dari David bukan."
"Dia tidak akan masuk."
"David…"
Dan saat itulah David melihat sisi lain Lily yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Seolah pria di depan ini sangat penting baginya. Bahkan Lily yang sebelumnya cuek dan banyak menurut itu kini berubah menjadi agak membangkang, meski pun sebenarnya itu bukan permintaan yang keterlaluan.
"Biarkan dia masuk, ya… ayolah…"
David juga harus menuntaskan rasa penasarannya, dia akhirnya mengizinkan. "Masuklah, dan jauhi istriku."
"Terima kasih, Tuan."
Lily tersenyum lebar dan mengeluarkan tawa kecilnya. "Kau sudah makan malam, Kak? Aku sedang membuatkan sup bayam, kau akan suka."
Radit mendapatkan tawaran itu malah tersenyum kaku, dia tidak enak dengan David dan juga agak takut. "Tidak perlu, Tina."
Apalagi saat mereka duduk, Lily memilih berada di sofa yang sama dengan Radit. Sementara David di sofa single.
"Boleh kan, David? Kak Radit makan malam bersama kita."
David menjawab dengan pelan, "Tidak, Sayang, rumah kita bukan penampungan untuk orang seperti dia."
Jelas wajah Lily berubah masam, dia kembali menatap Radit. "Maafkan suamiku, Kak. Dia sedang banyak pekerjaan."
"Tidak apa, Tina."
"Tina? Kenapa kau memanggil istri saya dengan sebutan seperti itu?" Tanya David dengan suara beratnya. "Panggil dia sesuai jabatan saya."
"Maaf, Tuan. Maafkan saya, Nyonya."
"David…..," ucap Lily pelan. "Tina diambil dari nama panjangku, yaitu Kristina. Ingat?"
"Aku tidak suka."
"Bukankah kau akan memberikan file padanya, David?"
David enggan beranjak, dia tidak ingin kehilangan pengawasan istrinya dari Radit yang ternyata adalah sekretaris barunya.
"Saya datang untuk mengambil file yang Tuan maksud."
"Ah, File itu." Lily menengok pada David. "Dia meminta filenya, David."
"Akan aku bawa," ucap David, dia berdiri perlaham dengan tatapan tajam pada Radit.
Membuat pria itu lebih banyak diam dan menunduk saat mendapat tatapan mengerikan. Apalagi saat David pergi ke lantai dua, Radit tidak ingin terlibat masalah.
"Kak Radit, kau ke mana saja?"
"Aku di Jakarta dengan keluarga baruku, Tina. Mereka tidak mengizinkanku pergi menjengukmu di panti."
"Aku dengar kau bersekolah ke luar negeri?"
"Ya." Radit tertawa hambar. "Aku sekolah ke Canada, Nyonya."
"Kakak… ayolah, jangan panggil aku seperti itu."
Memanfaatkan kesempatan, Radit menatap Lily dan berkata, "Aku tidak menyangka kau sudah menikah, Tina."
"Ya…" Lily sedikit ragu menjawab itu. "Aku sudah menikah."
"Kau menikah bersama boss ku."
Lily mengangguk.
"Si usiamu yang masih sembilan belas tahun."
Lily kembali mengangguk. "Semuanya berjalan begitu cepat."
"Aku tidak menduga ini, adik kecil yang aku sayangi menjadi majikanku."
"Aku tetap adik kecilmu, Kak. Kenapa kau mengatakan itu?" Lily tidak suka. "Oh, ya. Aku membuat brownies.
"Tidak u…." Radit tidak melanjutka perkataannya karena Lily lebih dulu beranjak.
Dia kembali dengan membawa nampan berisi air dan brownies. "Cobalah, Kak. Ini enak, kau dulu suka kue buatanku."
Radit tersenyum, dia menyuapkan itu. "Ini enak sekali, Tina. Kau tetap sama seperti dulu."
Lily tersenyum bahagia.
"Aku perlu mendengar ceritamu dan alasanmu yang logis tidak menengok lagi panti."
"Oh, aku juga perlu penjelasanmu dengan statusmu."
"Aku jelas sudah menikah."
Radit mengusap bibirnya dengan tissue. "Bagaimana? Kalian saling jatuh cinta?"
Mendengar nada ledekan Radit, Lily tertawa. "Berhenti meledek, bukan seperti itu. Semuanya berjalan cepat, aku menikah dengannya begitu saja."
"Ini yang harus kamu kerjakan menggantika saya."
Lily menatap terkejut. "David…"
"Sekarang keluar, kerjakan itu. Besok pagi saya ingin semua data dari sini." David menyentuh berkas yang menumpuk, kemudian memegang flash disc. "Pindah ke sini."
"Baik, Tuan." Radit menjawab dengan tenang.
Dan Lily tidak bisa melakukan apa pun saat suaminya mengusir Radit pergi.
🌹🌹🌹
Ketika makan malam sedang dihidangkan, Lily kembali diam dan berargumen dengan kepalanya sendiri. David yang melihat itu, melangkah menuju dapur untuk bicara dengan istrinya.
Sementara Lily masih sibuk dengan masakannya yang belum selesai.
"Aku butuh penjelasan, Lily."
"Sebentar, ini akan matang sebentar lagi," ucap Lily mengangkat panci kecil kemudian meletakannya di meja. "Ayo kita makan."
Yang David tidak suka, Lily terlihat ceria bersama dengan Radit, tapi bersamanya Lily terlihat cuek dan masa bodo. Kalau dipikir, Lily jarang tertawa bersamanya. Lily lebih banyak diam tersipu malu daripada tertawa seperti tadi.
"Aku ingin bicara."
Lily duduk di kursi yang berhadapan dengan David, dia menatap pria itu sesaat sebelum mengambilkan nasi untuk David.
"Tentang Kak Radit?"
David terkekeh. "Kau pandai sekali."
Lily menarik napasnya mendengar suara berat David. "Dulu aku dan Kak Radit tinggal di panti yang sama, sampai Kak Radit diadopsi oleh keluarga kaya dan kami terpisah."
"Seperti drama," guman David dengan sinis.
Lily tetap pada kesabarannya, mengabaikan David yang menatap dan memainkan nasi di piringnya.
"Dulu aku selalu diejek oleh anak lain karena pendek, mereka memanggilku kurcaci. Tidak ada yang mau menemaniku karena aku jelek, hanya Kak Radit. Pernah pada suatu waktu, kami semua anak perempuan sedang membersihkan kolam belakang. Anak anak lain meninggalkanku dengan pekerjaan yang masih banyak. Saat itu aku terjatuh ke kolam, tidak bisa berenang sama sekali. Hingga akhirnya Kak Radit menyelamatkanku dan memarahi anak anak yang lain dengan kasar. Dan itu membuatnya mendapatkan hukuman dari biarawati."
David diam mendengarkan.
"Aku menganggap dia sebagai kakakku, orang yang sering melindungiku. Sampai dia pergi dan tidak kembali saat itu. Ketika dia pergi, posisiku sedang mengantarkan kue kue paskah ke rumah sekitar. Aku menangis karena merasa sendirian, maka saat aku bertemu dengannya lagi aku sangat heboh. Dia berjasa sekali dalam hidupku….."
".... Dia yang mengatakan kalau hidup itu dibuat simple dan mudah. Jika ada orang yang meremehkan, biarkan saja. Itu urusannya dengan Tuhan. Jika direndahkan, di caci dan di maki, biarkan saja. Toh pada kenyataannya Tuhan memuliakan ciptaannya. Dia memberiku pelajaran itu."
Dan setelah Lily mengatakan itu, David diam seribu kata.
"Maaf, memang tidak seharusnya aku memeluk pria lain, tapi sungguh, itu hanyalah karena aku merasa bahagia, kakakku telah kembali."
"Tidak ada hubungan pria dan wanita."
"Apa?" Lily kebingungan.
"Dia bisa saja menyukaimu."
"David."
"Aku akan pergi," ucap David berjalan ke lantai dua meninggalkan Lily begitu saja.
"David, kau mau ke mana? David!" Lily menyusul cepat, dia naik ke tangga menuju kamar mereka
Dan di sana dia mendapati David sedang berpakaian hendak pergi.
"David, kau mau ke mana?"
"Lepaskan aku, Lily."
"Kau mau ke mana?"
David menghentakan tangan Lily pelan, masih dalam kesadaran. "Aku hendak memecatnya."
"Apa? Dia tidak salah."
"Kau tahu, Sayang? Masa lalu adalah jembatan menuju masa depan yang suram. Aku tidak mau hidupku suram karenanya."
"Kau tidak bisa memecatnya hanya karena dia mengenalku."
"Tentu aku bisa, aku orang paling kaya di Asia," ucap David membanggakan diri, dia memakai mantelnya.
"Baiklah, pecat saja dia, tapi jangan pergi. Diam saja di sini."
"Aku harus pergi ke rumahnya."
"David, ini sudah malam."
"Aku harus mengambil kembali sertifikat pernikahan kita," ucap David dalam satu tarikan napas.
Membuat Lily kebingungan. "Apa?"
"Ya, dalam berkas yang aku berikan padanya ada sertifikat pernikahan kita. Aku sengaja menyelipkannya agar dia tahu, bahwa pernikahan kita itu sungguhan."
Lily tidak bisa berkata kata, bagaimana bisa David melakukan itu.Â
"Aku akan pergi."
"Baiklah."
🌹🌹🌹
To be continue...
ha ha ha